Tips Parenting: 12 Ungkapan Ini Bantu Redakan Emosi Anak, Coba Yuk Bun!

Posted on

Tips parenting

Tips Parenting 12 Ungkapan Ini Bantu Redakan Emosi Anak, Coba Yuk Bun!

Sebagai orang tua, Anda harus ekstra sabar saat menghadapi anak yang tantrum dan mudah marah. Ya, setiap anak memiliki karakter yang berbeda sebagaimana orang dewasa.  Saat anak marah dan kita sebagai orang tua tidak bisa mengontrol emosi, terjadilah ledakan yang menyebabkan rumah tidak kondusif.

Gaya parenting yang kita terapkan pada anak berpengaruh pada kepribadian si kecil. Lingkungan positif yang Anda bentuk dalam keluarga berpengaruh positif pada kepribadian anak. Pada tahun 1920, John Watson seorang psikolog melakukan percobaan atas anak kecil dengan melibatkan instrumen tikus.

Dalam percobaan itu, Watson mencoba menakuti si kecil dengan membawa tikus. Saat Watson datang bersama tikus tersebut, si anak akan berteriak kencang dan setelah terjadi beberapa kali respond mereka adalah menangis. Itulah gambaran stimulasi sikap yang kita tunjukkan kepada anak dan respon yang mereka berikan. Watson percaya bahwa tips parenting yang kita terapkan membantu anak untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, atau bahkan sebaliknya.

Sikap afirmatif yang ditujukan orang tua kepada anaknya, berpengaruh positif pada karakter pribadi si kecil. Dengan sikap tersebut, satu saat ketika anak menghadapi masalah serius, mereka akan lebih berani dan menunjukkan sikap yang lebih baik lagi.

Saat manusia merasa bahagia, ada peran hormon endorfin yang berpengaruh meningkatkan sistem imun tubuh. Sedangkan saat sedang stres, anak akan semakin tertekan dan sistem imunnya pun menurun.

Membaca tips parenting mengenai cara mengatasi ledakan yang dialami si kecil sangatlah penting. Kaitannya dengan anak, gaya parenting yang kita jalankan dan stimulus lain yang kita berikan akan terserap ke dalam alam bawah sadarnya. Salah satu cara menangani anak yang tantrum adalah dengan cermat memilah ungkapan yang Anda sampaikan baik dalam bentuk stimulus terhadap anak maupun respond yang Anda berikan pada mereka.

Anda sering adu mulut dengan si kecil? mungkin ada yang salah dengan ungkapan yang Anda sampaikan. Yuk, cek ungkapan negatif berikut dan ubah dengan ungkapan positif sebagai solusinya agar hubungan Anda dan si kecil semakin dipenuhi kasih sayang.

1. Jangan Lempar-lempar Barang, Nanti Kamu Mami Jewer!

Saya dan parents sekalian tampaknya cukup sering melarang anak dengan bentuk ungkapan prohibition seperti ini. Secara psikis, pilihan kata JANGAN terasa begitu otoriter, kasar, dan anak seolah tidak diberi kebebasan dan tertekan. Meski orang tua mungkin tidak berniat demikian, namun itulah dampak dari diksi yang Anda gunakan.

Solusinya, ubah dengan kalimat berikut;

Sepertinya Kakak nggak suka sama boneka ini ya, Sayang, makanya di lempar-lempar seperti itu.

Solusi yang ditawarkan ini adalah mengambil cara yang halus atau non-konfrontatif. Cara ini senantiasa membuka jalur komunikasi yang baik antara Anda dan si kecil. Dengan cara ini pula, Anda sebagai orang tua bisa mengungkapkan perasaan dengan cara yang baik dari sudut pandang orang tua.

2. Kakak Sudah Besar, Nggak Boleh Gitu!

Terkesan konfrontatif, menyalahkan dan menyudutkan, itulah kesan dari diksi yang Anda ungkapkan diatas. Gantilah dengan ungkapan;

Anak yang sudah besar dan orang dewasa pun kadang bisa marah dan sedih, wajar kok. Nanti perasaan itu juga hilang.

Semakin besar usia si kecil, semakin kompleks masalah yang dihadapi. Mengatakan secara transparan kepada anak bahwa mereka tidak boleh marah dan tidak boleh frustasi bukanlah tindakan yang tepat sebab ini akan menyebabkan anak menekan perasaannya dengan cara yang tidak natural.

3. Jangan Pukul Ya!

Ketika saya dan parents sekalian mengucapkan itu, kesan yang diterima anak adalah Anda menyalahkan mereka. Coba ubah dengan ungkapan:

Bunda paham kakak sedang marah, ndak apa-apa. Tapi Bunda nggak akan biarin kakak memukul orang lain, karena menyakiti orang lain itu salah.

Ini menunjukkan bahwa Anda sebagai orang tua tidak menghakimi si kecil karena mereka telah meluapkan amarahnya. Wajar ‘kan marah diledakin daripada ditahan dan jadi stres. Tetapi, yang tidak bisa dimaklumi disini adalah tindakannya. Its okay meluapkan perasaan tapi tidak untuk tindakan memukul yang menyakiti orang lain.

Tips parenting ini secara tidak langsung mengajarkan kepada anak bagaimana sih cara memilah antara emosi dan tindakannya. Dengan demikian, apa yang mereka lakukan akan lebih terkendali.

4. Kakak Susah Sekali Sih Dibilangin!

Ungkapan diatas menunjukkan dua makna negatif, yang pertama adalah stubborn atau keras kepala dan yang kedua menunjukkan rendahnya sisi intelektual si kecil. Kesan yang diberikan dari ungkapan tersebut tentu tidaklah baik.

Caranya, ubah dengan mengatakan Masalah ini susah, Kak? Yuk, Kita Cari Solusinya bersama ya.

Saat anak sulit dibilangi, bukan berarti mereka bandel. Bisa jadi ada masalah di sebalik sikapnya tersebut. Cari tau apa alasan si kecil bersikap demikian dengan menggunakan ungkapan diatas. Ungkapan tersebut membantu anak merasakan bahwa Anda berada pada timnya, satu tim dengan mereka untuk menghadapi masalah yang sedang dirasakannya.

5. Ayo Kita Pulang Saja!

Saat sedang tantrum, anak-anak akan meluapkan amarahnya, entah karena bosan, atau karena stimuli negatif dari luar. Daripada menggunakan ungkapan diatas, coba ganti redaksinya dengan mengatakan;

Kakak lelah ya? Yuk kita pulang.

Plis jangan lawan emosi anak dengan ledakan yang sama. Hati anak akan semakin kecil karena merasa tidak ada yang memahaminya. Mungkin mereka tantrum karena sedang lelah dan bosan. Saat sedang di luar, ajak anak pulang dengan menggunakan kalimat diatas.

6. Plis Berhenti Merengek/ Menangis!

Saat sedang bete ditambah lagi mendengar rengekan atau tangisan anak terus menerus, saya dan Bunda sekalian tampaknya sering melontarkan ungkapan ini. Ganti dengan ungkapan lain seperti;

Iya, Bunda dengar, Kakak maunya gimana coba ngomong.

Apa yang ditekankan disini adalah tanggung jawab yang harus dikembalikan lagi kepada anak. Jika mereka mengeluhkan stimuli apapun yang dirasa negatif dari lingkungannya, posisikan diri Anda sebagai tim untuk bersama-sama menghadapi masalahnya. Namun ini tidak berati Anda harus menuruti apa yang anak inginkan. Pertimbangkan secara logis dan gunakan bahasa non-konfrontatif saat sedang berkomunikasi dan membelokkan alur pikiran si kecil agar sepaham dengan Anda.

7. Sudah Dibilangin Berapa Kali Sih!

Tips Parenting 12 Ungkapan Ini Bantu Redakan Emosi Anak, Coba Yuk Bun!2

Ungkapan diatas sarkas sekali saat didengar. Coba gunakan ungkapan;

Kakak dengarkah apa yang Bunda bilang? Sini, coba bisikin apa yang Bunda bilang tadi.  

Kalimat tersebut berupa penegasan atas pemahaman anak mengenai perkataan yang Anda sampaikan padanya. Minta anak mengulanginya untuk mengukur apakah mereka memperhatikan apa yang Anda katakan dan untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman mereka. Agar tidak seperti momen introgasi yang menegangkan, minta mereka untuk mengulanginya dengan volume yang bervariasi agar lebih menyenangkan. Tips parenting ini cukup menghibur saat dipraktikkan.

8. Berhenti Dulu Kalo Lelah, Jangan Marah-marah!

Ungkapan itu seperti memberikan vonis negatif pada sifat si kecil yaitu pribadi yang suka marah. Ganti ungkapan tersebut dengan kalimat;

Terlalu berat ya ini buat, Kakak? Yuk, istirahat sejenak 17 menit, nanti kita lanjutkan lagi.

Anda mungkin merasa sedikit asing dengan angka 17 pada pernyataan di atas. Penyebutan angka tersebut bukan tanpa alasan karena riset telah membuktikannya. Barang siapa yang aktif bekerja selama 52 menit lamanya, sebaiknya ambil jeda break sejenak selama 17 menit lalu melanjutkannya kembali saat badan dan pikiran sudah mulai agak fresh. Ini cocok jika diterapkan si kecil selama proses mengerjakan PR, olahraga, maupun belajar musik.

9. Kamu Masuk Kamar Sekarang!

Saat anak ngambek entah karena apa, atau masih asik nge-game di luar kamarnya, banyak orang tua yang kurang sabar apalagi jika diiringi dengan rengekan atau tangisan anak yang tidak berhenti. Ungkapan tersebut semacam teknik mengisolasi anak yang menandakan bahwa si kecil telah melakukan sesuatu yang salah. Beri jeda pada si kecil sampai benar-benar siap untuk kembali berinteraksi dengan Anda. Ganti ucapan yang kasar dan gersang kasih sayang itu dengan ungkapan;

Bunda temenin Kakak disini ya, sampai Kakak Tenang.

10. Kakak Bikin Malu Bunda Deh!

Saat Anda mengungkapkan kalimat tersebut, terasa ada yang salah dengan Anda. Padahal, ini tidak ada kaitannya dengan Anda, akan tetapi antara anak dan perasaannya sendiri. Coba menyingkir bersama dari kondisi tersebut untuk mencari solusi dengan mengucapkan;

Yuk, ke tempat yang lebih tenang bersama Bunda, agar masalah kamu cepet selesai

Tips parenting tersebut secara langsung menunjuk pada usaha Anda untuk mengajaknya menyelesaikan masalah bersama dan tidak fokus pada tingkah laku yang dilakukan si kecil.

11. Bunda Nggak Mau Ngomong Lagi

Tips parenting yang penting untuk Anda jalankan adalah selalu membuka komunikasi dengan si kecil. Kaitannya dengan ungkapan diatas, Anda bisa mengubah kalimat sarkas tersebut menjadi lebih halus dan logis dengan ungkapan;

Bunda sayang Kakak, tapi Bunda pengen Kakak ngerti bahwa apa yang Kakak lakukan itu tidak baik.

Ini adalah cara yang sehat untuk mengekspresikan bagaimana perasaan yang Anda rasakan saat ini tanpa menyakiti hati si kecil namun kesannya tetap tegas. Anak mendapatkan poin yang ingin Anda sampaikan.

12. Berhenti Menghela Nafas Dalam-dalam disertai Gelengan Kepala yang Ditujukan pada Anak

Helaan nafas yang disertai gelengan kepala bukanlah cara yang tepat mengatasi masalah saat Anda sedang kecewa karena tingkah laku si kecil. Tunjukkan bahwa Anda selalu melihat anak dari sisi kelebihan yang dimiliki dengan melempar senyum ikhlas dan tatapan mata yang teduh meski saat itu Anda sedang kecewa karena mereka.

Dari uraian diatas, penting bagi kita selaku orang tua untuk mencari alternatif dari kata JANGAN. Ya, singkatnya, tips parenting kali ini adalah mengolah kalimat larangan yang kita tujukan pada anak agar lebih tidak konfrontatif, lebih bisa diterima, dengan tetap menyentuhkan unsur kasih sayang di dalamnya.

Bahaya dari penggunaan kata JANGAN dalam keseharian adalah membuat anak kecil ragu dan menurunkan kreativitas anak. Alternatif kata JANGAN membantu memposisikan diri pribadi anak agar memiliki cukup banyak pilihan.

Kata JANGAN sepertinya adalah kata larangan yang sudah mendarah daging dan sulit untuk ditinggalkan. Bukan berarti Anda harus 100 persen meninggalkan kata itu dan tidak boleh sama sekali digunakan,  namun jangan sampai kata tersebut memenuhi kehidupan sehari-hari si kecil hingga hari-harinya begitu murung karena ungkapan larangan itu. Semoga tips parenting diatas bermanfaat.

 

 

 

 

4 thoughts on “Tips Parenting: 12 Ungkapan Ini Bantu Redakan Emosi Anak, Coba Yuk Bun!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.