Keuangan: 11 Cara Ajari Anak Kelola Keuangan Sebelum Usia 10 Tahun

Posted on

Keuangan

Keuangan 11 Cara Ajari Anak Kelola Keuangan Sebelum Menginjak 10 Tahun

Ingin anak Anda miliki kebiasaan kelola keuangan yang baik? Anda akan mendapatkannya namun tidak dengan cara yang instan. Sebagai Parents, kita bisa mengusahakannnya sejak dini mulai dari mereka berusia kurang dari 10 tahun.

Ya, banyak ahli yang mengatakan bahwa edukasi keuangan bisa dimulai sejak anak berusia 7 tahun. Kebiasaan positif yang terbentuk dengan baik sejak dini terinternalisasi dengan baik sehingga otomatis ketika menginjak dewasa anak-anak akan memiliki kebiasaan positif tersebut. Manfaatnya, Anda sebagai orang tua tidak akan kesulitan untuk mengontrol kebutuhan finansial anak saat menginjak dewasa.

Seperti dalam hal sholat misalnya, kenapa anak-anak harus dikondisikan untuk rajin sholat sejak dini? Sebab kebiasaan yang terbentuk sejak dini otomatis lebih mudah menjadi bagian dari rutinitas anak di masa mendatang. Semangat melakukan aktivitas itu cenderung stabil karena mereka merasa itu adalah bagian dari hidupnya. Lain halnya jika kita membiasakan itu baru-baru ini saja karena adanya kesadaran untuk melakukannya. Semangat cenderung naik turun sebab pikiran kita sedikit terbebani dengan perubahan kebiasaan itu.

Uang kaitannya dengan kesejahteraan. Meski uang tidak seyogyanya menjadi satu-satunya orientasi dalam kehidupan, akan tetapi segala elemen dasar kehidupan membutuhkan itu. Sebut saja kebutuhan harian, pendidikan, kesehatan, rekreasi, tempat tinggal, dan sebagainya. Seringkali, mereka yang tidak bisa mengontrol keuangan dengan baik akhirnya jatuh bangkrut dan terlilit hutang.

Oleh sebab itu, penting bagi Parents untuk memberikan pendidikan keuangan dengan baik sejak dini. Bingung bagaimana caranya? Yuk, bersama kita praktikkan cara mengedukasi si kecil tentang mengelola keuangan dengan baik.

1. Tidak Ada Pohon Uang

Saat si kecil ikut mengambil uang di bank atau ATM, ada mindset dalam pikiran mereka bahwa ada mesin uang yang menyediakannya untuk kita, tanpa pernah habis dan sifatnya otomatis. Mereka berfikir se-simple itu karena cara berfikirnya yang masih ala-ala kantong ajaib doraemon.

Rubah mindset anak dengan memberikan pemahaman sejak dini bahwa uang tidak didapat dengan cara se-simple itu. Untuk mendapatkannya, kita perlu kerja keras dan banyak menabung. Sesekali mengajak si kecil ke tempat Anda bekerja untuk menyaksikan bagaimana proses making money yang Anda lakukan sangat membantu untuk proses pemahaman ini. Proses edukasi ini bantu anak menjadi lebih dewasa sejak dini karena mereka lebih bisa menghargai uang.

2. Mau Mainan? Nabung Dulu!

No saving? Forget your will!. Anak memang banyak maunya. Hari ini mau beli robot. Besok beli mobil-mobilan. Pada dasarnya, keinginan anak yang banyak itu bisa Anda jadikan celah untuk mengedukasi anak agar rajin menabung dan mengontrol uang jajannya.

Ketika anak merengek meminta sesuatu dan Anda begitu saja mengabulkannya, akibatnya anak miliki kebiasaan manja. Cobalah mainkan logikanya dengan cara yang logis seperti dialog singkat ini.

Anak: Ayah, aku mau mobil-mobilan baru.

Ayah: Boleh, uangnya mana Sayang? ayah belikan nanti.

Anak: What? Uang? Ya Ayah yang beliin…

Ayah: Yang mau mobil-mobilan kan bukan ayah, kalau ada uangnya ayah beliin, kalau uangnya masih kurang berarti adek nabung dulu. Oke?

Cara tersebut membantu anak agar lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang jajannya. Mereka belajar berhemat untuk mencapai target membeli barang yang diinginkan.

3. Sabar adalah kunci Terbebas dari Hutang

Mengamati apa yang dimiliki orang lain saat ini dan terjebak dalam kemudahan yang ada berpotensi meningkatkan kebiasaan konsumtif dan semakin boros. Kebiasaan tersebut jika di pupuk berpotensi memperbanyak hutang sehingga keuangan pribadi dan keluarga menjadi tidak balance.

Saat memiliki keinginan untuk memiliki ini dan itu, biasakan untuk mengambil langkah real dengan bersabar menunggu sembari mengumpulkan dana dengan usaha yang nyata. Jika sudah mencukupi, barulah dana tersebut digunakan untuk membeli apa yang diinginkan.

Seni menunggu memang tidak semua orang memilikinya. Namun, jika sebagai orang tua Anda berhasil mengedukasi anak akan pentingnya sabar, menunggu dan berusaha, anak akan memiliki mentalitas itu sejak dini dan tidak dengan mudah memanfaatkan layanan kredit apapun.

4. Hemat Dalam Membelanjakan Uang

Ajari anak bagaimana membuat rencana keuangan sejak dini. Anda bisa memanfaatkan momen weekend untuk mengedukasi anak. Libatkan anak dalam proses pembuatan list anggaran belanja kebutuhan pokok minggu ini. Perhatikan di mana Anda belanja, apa saja yang dibeli dan buatlah estimasi biaya yang Anda habiskan.

Sesampainya di rumah, bandingkan antara struk belanjaan dengan anggaran biaya yang Anda buat. Apakah lebih hemat ataukah melebihi batas estimasi anggaran Anda. Tunjukkan itu pada si kecil. Usahakan agar pembelanjaan tidak melebihi batas anggaran sehingga si kecil lebih mudah memahami apa tujuan Anda. Sisa uang bisa dialokasikan untuk menambah tabungan.

5. Biasakan Menabung dan Berikan Reward

Si kecil ingin boneka Barbie baru? Boleh. Anda punya uang lalu Anda belikan? Yakin ini cara terbaik? Tentu bukan. Tanyakan apakah anak memiliki saving ataukah tidak untuk membelinya. Jika sudah ada sebagian uang dan masih belum lengkap, rangsang anak untuk semakin aktif menabung.

Saat sudah mencapai nominal seharga Barbie itu, ajak anak jalan-jalan ke toko boneka, biarkan mereka membayarnya sendiri di kasir dengan uang hasil menabungnya. Ini adalah suatu penghargaan, anak puas dan semakin paham apa pentingnya menabung untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

6. Laporan Pembelanjaan Uang Jajan

Saya pribadi setuju dengan metode memberikan uang jajan satu minggu sekali. Misalnya, anak Anda sekarang duduk di bangku SD dengan estimasi jajan harian rata-rata 10ribu rupiah. Satu minggu Anda berikan jatah 70ribu rupiah, tidak melebihi rata-rata uang jajan anak sekolahnya.

Edukasi si kecil untuk merekap pembelanjaan setiap harinya. Anak akan melihat untuk apa uang jajan harian itu. Saat ingin membeli sesuatu, otomatis mereka akan saving dengan mengurangi pembelanjaan yang dirasa tidak perlu.

Untuk realisasinya, siapkan notebook untuk si kecil, atau minta mereka menulis di komputer pribadinya. Pada dasarnya ini adalah cara agar anak belajar menjatuhkan pilihan pembelanjaan ke yang paling dasar. Meng-eliminasi yang tidak perlu dan membiasakan berusaha untuk menabung terlebih dahulu untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

7. Buat Daftar Harapan di Masa Mendatang

Keuangan 11 Cara Ajari Anak Kelola Keuangan Sebelum Menginjak 10 Tahun2

Awalnya, sedikit sulit memahamkan apa itu prioritas kepada anak. Parents harus membangun komunikasi yang intens dan melakukan pengamatan yang mendalam pada bakat dan kecenderungan anak.

Luangkan waktu untuk duduk bersama, bicarakan apa saja yang diinginkan anak dan buat prioritas dari yang paling ringan hingga yang paling menantang untuk mencapainya. Diskusikan masing-masing keinginan itu dan bantu anak temukan apa manfaat yang didapatkan dari setiap aktivitasnya. Eliminasi yang tidak perlu dengan persetujuan si kecil khususnya setelah Anda memberikan pemahaman kepada anak.

8. Rangsang Anak agar Semakin Tertarik untuk Menabung

Semakin banyak tabungan yang dimiliki, semakin banyak manfaat yang di dapat. Banyak harapan si kecil yang bisa dicapai dengan saving itu. PR kita sebagai orang tua adalah merangsang agar anak semakin giat belajar. Salah satunya adalah dengan memberikan anak tempat saving yang unik dengan bentuk benda favorit anak-anak.

9. Ajarkan Anak Tentang Pentingnya Uang Sejak Dini

Beberapa ahli menyatakan bahwa, keuangan harus diajarkan kepada anak sejak mereka berusia 7 tahun. Cara yang paling efektif tidak demikian, Anda bisa mulai mengajarkan masalah keuangan kepada si kecil sejak mereka mulai pandai berhitung dan tau bagaimana cara meng-fungsi-kan keuangan dengan baik.

Berikan contoh real cara hidup hemat agar si kecil tidak menghabiskan uang melebihi dari yang mereka miliki. Atau, Anda bisa memberikan contoh yang spesifik dengan mengatakan kepada anak seperti ini.

Adek mau beli boneka Barbie yang harganya 300ribu itu? kalau gitu berapa bulan mbak Ita harus bekerja untuk bisa beli Barbie kalau gaji mbak Ita sekarang tiap bulan 150ribu.

Cara ini efektif membantu anak agar berfikir lebih logis dan tahu apakah yang mereka inginkan itu signifikan ataukah tidak. Para orang tua boleh-boleh saja menjawab TIDAK atas permintaan anak. Adapun cara menolak permintaan anak adalah:

Ayah rasa kita tidak sebaiknya membelanjakan uang dengan cara seperti itu. Its never mind bagi Anda untuk mengungkapkan itu di depan anak-anak.

10. Alokasi Keuangan Sesuai Tujuan Masing-masing

Keuangan yang kita miliki tidak untuk satu kebutuhan saja, yaitu kebutuhan konsumtif setiap harinya. Ada alokasi dana lain yang harus kita pahamkan pada anak. Alokasi dana tersebut adalah untuk tabungan dan untuk berbagi dengan orang lain.

Sediakan tiga wadah, berupa 2 celengan dan 1 dompet. Dompet digunakan untuk  menyimpan uang jajan anak sedangkan celengan dimanfaatkan untuk tabungan si kecil di masa mendatang dan satu lagi untuk berbagi dengan orang lain.

Cara tersebut memberikan pemahaman kepada anak bahwa uang mereka harus dikelola dengan baik. Apa yang mereka dapatkan dari orang tua tidak hanya untuk satu alokasi dana saja tetapi juga untuk manfaat yang lain yang sifatnya sosial dan tidak hanya individual.

11. Belajar dari Kesalahan

Berbuat salah adalah hal yang wajar. Sesekali Anda biarkan si kecil menyadari kesalahan yang diperbuatnya dalam mengelola keuangan. Misalkan seperti ini, anak menginginkan untuk membeli mobil-mobilan dan telah menabung selama satu minggu dengan menyisihkan uang jajannya.

Di tengah perjalanan, mereka ingin jajan es krim dengan harga yang mahal. Ingatkan mereka akan target yang mereka buat, namun jika mereka tetap kukuh ingin membeli es dengan uangnya sendiri, biarkan.

Saat anak meminta mobil-mobilan itu lagi di kemudian hari tetapi tabungannya belum cukup, Anda bisa jadikan ini kesempatan untuk mengedukasi anak. Anda bisa bermain dengan logika si kecil dan mengingatkan mereka bahwa membelanjakan uang harus dilakukan dengan cermat, jika tidak target yang kita buat tidak akan tercapai.

Keuangan adalah bagian penting dalam hidup, meski bukan yang nomor satu. Namun dengan pengelolaan uang yang baik, kita tidak akan mengalami kesulitan di masa mendatang. Edukasi mengenai keuangan bukanlah hal yang instan. Anda sebagai orang tua disarankan untuk mengedukasi anak tentang mengelola dana sejak dini. Ada banyak sekali manfaatnya, salah satunya adalah anak bisa menghargai nominal uang dan menjadi lebih dewasa dalam membelanjakannya.

2 thoughts on “Keuangan: 11 Cara Ajari Anak Kelola Keuangan Sebelum Usia 10 Tahun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.