Anak: 10 Cara Jitu Rubah Kebiasaan Malas Menjadi Aktif Belajar

Posted on

Anak

Anak 10 Cara Jitu Rubah Kebiasaan Malas Menjadi Aktif Belajar

Apakah problem anak malas membuat Ayah Bunda pusing tujuh keliling saat ini? Ini adalah masalah serius yang banyak dialami orang tua dan harus dicarikan jalan keluarnya saat ini juga.

Sebagai orang tua, saya bisa merasakan betapa patah-nya hati seorang ibu saat menerima rapor si kecil dengan angka dominan warna merah. Atau, saat penerimaan rapor, wali murid yang bersangkutan dipanggil dari urutan paling belakang, lalu wali murid yang lain berbisik;

“Kok anak ibu itu nilainya “pesimis” banget ya, payah!”.

Selesai ambil rapor, Bunda akan pulang dengan wajah cemberut, bad mood, dan ingin memarahi si kecil. Eits, daripada marah-marah tidak jelas, lebih baik Bunda cari solusi cerdas bagaimana mengatasi anak malas belajar sehingga prestasi akademiknya di sekolah meningkat.

Sebagai orang tua, kita akan merasa bangga saat si kecil mendapatkan nilai memuaskan. Tenang!, tidak ada yang tidak mungkin. Bunda bisa mengusahakannya dengan tips jitu berikut ini!

1. Memahami Kemalasan Anak

Menghardik anak karena kebiasaan malasnya bukanlah sesuatu yang bijak. Akan lebih baik jika Anda mencoba berdamai dengan diri agar tidak temperamental karena kondisi tersebut lalu mencarikan jalan keluarnya. Menghadapi anak malas belajar bukanlah hal yang mudah, baik itu anak-anak maupun remaja.

Pada dasarnya, ada banyak cara mengatasi masalah yang dialami si kecil. Jika mereka bermasalah dengan materi pelajaran di sekolah, Anda bisa bantu memahami mata pelajaran tersebut. Anda bisa tawarkan reward sebagai bentuk apresiasi saat anak mampu menyelesaikan PR-nya dengan baik. Libatkan mereka dengan memberikan tanggung jawab di rumah, dan usahakan agar mereka selalu aktif secara fisik.

Itu adalah gambaran umum mengenai cara jitu mengubah si kecil yang malas menjadi jauh lebih aktif dan produktif.

2. Jadikan Kewajibannnya Sebagai Alasan untuk Mendapatkan Reward

Melakukan kewajiban tidak sebaiknya mengharapkan reward. Namun boleh lah sesekali Anda menjadikan reward tersebut sebagai alasan agar si kecil bersedia menyelesaikan PR-nya dengan baik.

Orang tua harus konsisten mendidik anak agar disiplin mengerjakan PR-nya. Jangan sampai terpengaruh dengan rengekan si kecil. Pastikan Anda menbuat rule khusus untuk mereka kapan sebaiknya menggunakan smartphone, atau nge-game agar jangan sampai over.

Saya sering sampaikan pada si kecil “Adek boleh main video games, asalkan PR-nya selesaikan dulu”, atau “Hp-nya Bunda pegang dulu ya, nanti maen hp lagi kalo sudah beres tugas rumahnya” dst.

Anda bisa sedikit lebih fleksibel jika anak memang membutuhkan media tersebut sebagai penyemangat belajar.  Misalkan mereka adalah tipe anak yang bisa fokus belajar saat sedang mendengarkan musik, Bunda bisa menciptakan suasana belajar yang nyaman dengan diiringi musik yang bersumber dari smartphone-nya.

3. Pantau Pekerjaan Rumah Anak

Karakter anak yang malas umumnya enggan menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Untuk itu, pastikan Anda mengontrol PR-nya dengan baik atau memantau apakah si kecil bersedia me-review materi pelajarannya saat sedang di rumah ataukah tidak.

Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa si kecil telah menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Dan, untuk pekerjaan rumah yang sifatnya review mapel, Anda bisa meminta si kecil untuk menjelaskan mengenai materi pelajarannya itu untuk mengukur pemahamannya.  Perlu diingat bahwa:

  • Seringkali niat yang baik tidak sampai dengan baik pada mereka yang mendengarnya. Salah satunya adalah saat Anda berniat mengecek apakah PR si kecil sudah selesai atau belum. Putri saya pribadi saat saya melakukan ini sering memberikan respon “Bunda nggak percaya sama aku ya”. Mendengar respon tersebut saya kemudian berfikir, mungkin cara saya bertanya kurang smooth. Lantas saya memberitahukan kepada si kecil bahwa apa yang saya lakukan bukan karena alasan tidak percaya, namun lebih seperti anggota tim yang ingin agar timnya mendapatkan nilai yang terbaik.
  • Jika Bunda mendapati si kecil tidak jujur dengan ada tidaknya PR dari sekolahnya, Bunda bisa minta guru untuk menuliskan ada tidaknya PR di buku si kecil.

4. Tugas Anda adalah Menyederhanakannya Menjadi Bagian yang Kecil

Saat Anda menghadapi pekerjaan yang banyak dan sulit, apa yang Anda lakukan? Saya pribadi akan mengambil jarak sejenak, berjalan-jalan sebentar sambil menunggu mood membaik. Kenapa saya melakukan ini karena saya merasa job itu terlalu banyak dan membuat mood saya memburuk.

Saya pikir si kecil maupun mereka yang beranjak remaja akan merasa ogah, jenuh, dan tidak mood saat menghadapi begitu banyak pekerjaan rumah sekaligus. Lalu, sebagai orang tua apa yang harus Anda lakukan? Jawabannya adalah bantu anak menyederhanakan PR yang tampak besar itu menjadi beberapa bagian terlebih dahulu.

Jika ada 10 halaman yang harus dikerjakan, cobalah mem-break-down PR per halaman untuk diselesaikan. Selain mengarahkan anak agar menyelesaikan PR-nya sedikit demi sedikit, pertimbangkan deadline waktu yang disediakan oleh pihak sekolah. Anda bisa mengolah bagaimana caranya agar seluruh PR tersebut selesai dalam durasi waktu yang ditentukan tanpa anak merasa overload saat menyelesaikannya.

5. Berikan Apresiasi

Anak 10 Cara Jitu Rubah Kebiasaan Malas Menjadi Aktif Belajar2

Mayoritas orang lebih suka di apresiasi dibandingkan dimaki. Bukan begitu, Bunda? Saya pribadi saat mendengarkan orang yang ritme sehari-harinya mudah marah dan gampang menyalahkan, rasanya enggan untuk mendekat. Itu saya, apalagi anak-anak.

Agar si kecil lebih bersemangat, ungkapkan kalimat apresiasi saat mereka berhasil menyelesaikan pekerjaan rumahnya, mendapatkan nilai yang bagus, memenangkan kompetisi, dan masih banyak lagi.

Adapun cara memberikan apresiasi yang benar adalah dengan fokus pada apa yang si kecil lakukan. Anda tidak perlu mem-brondong pujian dengan kata sifat seperti “Kamu pintar sekali dsb”. Apresiasi yang fokus pada apa yang dilakukan si kecil seperti:

“Anak Mama hebat betul, setiap hari pulang sekolah ada PR langsung dikerjakan. Nggak salah nih kalau sekarang jadi juara kelas, pertahankan prestasinya ya, Sayang”

Sesekali boleh lah Bunda membelikan si kecil mainan yang dia inginkan, atau jika Bunda ingin agar mereka yang beranjak remaja memiliki kebebasan dan quality time bersama teman-teman sebayanya, Bunda bisa berikan uang untuk nonton.

6. Belajar Bersama Guru atau Tutor Profesional

Anda bisa bayangkan betapa tidak nyamannya kondisi psikis buah hati saat mereka tidak bisa mengerjakan sesuatu namun kita berharap mereka menyelesaikan PR-nya dengan baik. Yang ada, mereka akan semakin bad mood dan mengerjakan PR-nya asal-asalan. Untuk itu, solusi yang bisa Anda lakukan adalah dengan menghubungi guru mata pelajaran yang bersangkutan untuk bersedia meluangkan waktunya mendampingi  buah hati belajar.

Atau, jika jadwal guru di rasa sudah padat, Anda bisa menanyakan apakah ada tentor berpengalaman yang siap menemani buah hati belajar. Dengan demikian, beban psikis tersebut tidak semakin berat apalagi ditanggung sendiri oleh si kecil. Pastikan si kecil merasa nyaman dengan tipe guru atau tentor yang bersangkutan sebab bisa jadi alasan kenapa mereka kurang paham dengan mata pelajaran tersebut adalah karena karakter gurunya yang killer.

7. Ketahui Apa Alasan Dibalik Kemalasan Buah Hati

Buah hati tidak termotivasi untuk belajar? Sebagai orang tua Anda wajib tahu alasan kenapa  si kecil memiliki kebiasaan demikian. Ada banyak alasan yang harus Anda identifikasi, diantaranya adalah masalah keluarga, kerap disalahkan, seringkali di bully, dan masih banyak lagi. Saat orang tua enggan memberikan apresiasi, si kecil cenderung kekurangan motivasi belajar. Alasan lain adalah karena kita sebagai orang tua kurang peka atas adanya kesulitan dalam belajar yang dirasakan buah hati.

Secara spesifik, cara yang bisa Anda lakukan adalah sebagai berikut:

  • Sebagai orang tua, Anda harus menyadari bahwa setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Anda bisa bekerja sama dengan guru BK, dan psikolog untuk mengidentifikasi karakter pribadi anak dan bagaimana sebaiknya menghadapi tipikal buah hati yang demikian.
  • Anda merasa kekurangan waktu komunikasi dengan si kecil? mulai saat ini juga coba luangkan waktu untuk menjalin komunikasi secara rutin dengan mereka meskipun tidak lama durasinya. Mulailah menjadi teman yang mendengarkan apa masalah psikis yang dihadapinya dengan teman-teman di sekolah, dengan kakak adiknya di rumah, dan mungkin juga dengan Anda sebagai orang tua. Cari tahu dimana akar masalahnya dan bersama-sama mencari solusi agar beban psikis tersebut tidak semakin menjadi.
  • Lain halnya jika masalah tersebut ada pada ketidakmampuan anak untuk memahami pelajaran. Untuk masalah ini, Anda bisa mencoba mencarikan guru atau tentor private, dan konsultasi dengan pihak dokter mengenai apa kesulitan dalam belajar yang sedang dialami buah hati saat ini.

8. Jadwalkan Olahraga Bersama Keluarga

Salah satu alasan kenapa anak malas belajar adalah karena enggan melakukan aktivitas fisik seperti berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Coba agendakan untuk melakukan olahraga ringan bersama seluruh anggota keluarga seperti bersepeda di pagi hari, renang di hari minggu, atau berjalan kaki dan lari pagi secara rutin.

Cara lain yang bisa Anda lakukan adalah dengan membatasi waktu buah hati untuk berinteraksi dengan layar kaca, entah itu televisi, smartphone, maupun komputer. Ini adalah cara efektif bagi Anda yang ingin agar buah hati tetap aktif bergerak, dan tidak  bermalas-malasan di sofa. Cobalah untuk tidak meletakkan TV, PS, dan komputer di kamar. Anda bisa menjadikannya sebagai reward yang bisa dioperasikan hanya setelah si kecil telah menyelesaikan tugasnya.

9. Berikan Pemahaman Mengenai Manfaat Belajar

Terkadang buah hati belum paham betul kenapa harus melakukan ini dan kenapa dilarang melakukan itu. Alasan mereka akhirnya malas belajar salah satunya karena mereka belum paham apa pentingnya belajar demi masa depannya.

Anda bisa mengarahkan bahwa dengan belajar mereka bisa memahami cara yang baik berinteraksi dengan orang lain, memahami mata pelajaran yang fungsinya tidak hanya untuk mencapai cita-citanya saja tetapi juga untuk mengatasi masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

10. Review Mata Pelajaran

Agar tidak terlalu berat saat akan menghadapi ujian, biasakan si kecil mereview pelajaran hari ini 10 menit di malam harinya. Ulangi review sekali lagi sebelum mata pelajaran tersebut diajarkan kembali dengan durasi waktu yang sama. Selamat mencoba semoga buah hati kita cinta belajar demi masa depan yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.