Apa Peran Ayah Ibu dan Anak Dalam Keluarga? Temukan Jawabannya Disini!

Posted on

Peran Ayah Ibu dan Anak dalam Keluarga

 

Apa peran ayah ibu dan anak dalam keluarga? temukan jawabannya disini!

Peran ayah ibu dan anak dalam keluarga sudah seharusnya dilakukan dengan baik dan penuh kesadaran. Sebagai orang tua, baik itu ayah maupun ibu memiliki peran yang sama dalam mengasuh anak. Anak bukan tanggung jawab ayah saja atau tanggung jawab ibu semata. Kerjasama antar keduanya dan kebiasaan saling mengisi akan berdampak pada terpenuhinya aspek fisik dan psikis anak. Demikian pula dengan anak, anak tidak lepas dari perannya untuk menjadikan keluarga nyaman, tentram, dan damai. Peran ayah ibu dan anak dalam keluarga yang dilakukan dengan baik akan mempercepat terciptanya keluarga harmonis yang identik dengan karakter positif di dalam keluarga tersebut.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai apa peran ayah ibu dan anak dalam keluarga, mari kita perjelas apa definisi dari kata “peran” agar topic kali ini jelas ruang lingkup bahasannya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan “peran” adalah “perangkat tingkah (laku) yang diharapkan dimiliki (dilakukan) oleh orang yang memiliki kedudukan dalam masyarakat; bertindak sebagai”. Jadi, peran tidak hanya sesuatu yang dilakukan semata, tetapi peran berkaitan dengan kedudukan atau status seseorang dalam lingkungan tertentu.

Seorang laki-laki atau perempuan yang belum menjadi ayah atau ibu, bebas dari peranan tersebut. Ayah ibu dan anak disini adalah status dalam keluarga dimana ada peran yang dibebankan pada masing-masing status. Antara status dan peran tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling terkait satu dan lainnya. Peran inilah yang menentukan apa yang akan dilakukan seseorang untuk keluarga dan masyarakat. Ada tiga aspek yang dicakup dalam peran, yaitu norma atau kaidah yang berlaku, status yang disandang, dan perilaku sebagai aksi dari peran itu.

Keluarga yang ideal adalah keluarga yang masing-masing anggotanya paham akan peran masing-masing. Laki-laki atau perempuan yang sudah mature saat menikah, lebih mudah beradaptasi dengan peran baru yang disandangnya. Lain halnya dengan anak yang secara biologis dan psikologis masih dalam proses tumbuh, perlu bimbingan agar paham akan perannya sebagai anak.

Kenapa ayah dan ibu harus bekerjasama dengan baik untuk melakukan peran masing-masing? Sebab dalam praktiknya, laki-laki dan perempuan memiliki cara yang berbeda untuk membimbing si kecil. Ibu lebih dominan dengan arahan verbal dan kelembutan yang dimilikinya, sedangkan ayah lebih menitikberatkan pada interaksi fisik dan bagaimana seharusnya anak dalam beraksi menghadapi masalah. Pendekatan yang berbeda inilah yang berdampak pada kesempurnaan dimensi yang dimiliki si kecil yaitu mereka akan maksimal dari segi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Uraian mengenai peran ayah ibu dan anak dalam keluarga berikut ini memberikan sedikit gambaran mengenai peran yang harus Anda lakukan dalam keluarga, simak ya!

Peran ayah dalam keluarga

Sisi masculinitas anak tidak jauh dari peran ayahnya.  Peran ayah ibu dan anak dalam keluarga dimotori oleh ayah selaku kepala keluarga. Ayah yang ideal melakukan beberapa peran ini dengan baik;

  • Mendorong anak berani mengambil risiko

Dalam hidup, ada dua jalan dimana jalan yang pertama dilalui oleh mayoritas orang, sedangkan jalan yang kedua bisa dikata tidak tersentuh sama sekali dan jarang sekali ada yang melewatinya. Dalam diri manusia, ada yang disebut dengan passion/bakat dan ketertarikan. Passion menjadi tenggelam saat Anda tidak memberikan kesempatan baginya untuk tumbuh. Kenapa? karena adanya kekhawatiran untuk mengambil risikonya.

Seorang ayah yang bijak, yang tahu betul apa yang diminati atau disukai anaknya akan mendukung dan mendorongnya agar berani mengambil risiko. Disini, ada proses yang memacu adrenalin, ada tantangan yang harus ditaklukkan, ada sesuatu yang keras yang seru untuk dilewati. Saat risiko itu diambil, barulah Anda tahu apa yang ada disebalik proses perjalanan yang keras itu, apakah kesuksesan atau kegagalan.

Dari sudut pandang seorang ibu, rasa-rasanya tindakan mengambil risiko adalah tindakan yang tega. Kenapa? sebab mayoritas ibu didominasi oleh bayang-bayang afektif-nya. Lain halnya dengan ayah yang lebih menginginkan anak untuk mandiri, kuat, tangguh, pantang menyerah, dan anti cengeng. Dengan keberanian sekuat baja itulah, anak akan menjadi pribadi yang kompetitif.

Mengambil risiko tidak hanya untuk hal-hal yang besar saja, seperti dalam memilih jurusan dalam perkuliahan, memilih jodoh, menentukan pilihan pekerjaan, dan sebagainya. Namun mengambil risiko juga diperuntukkan untuk hal-hal yang kecil seperti berani kotor saat bermain, berani maju saat diminta mengerjakan soal di depan, ikut kompetisi science di sekolah, dan sebagainya.

Selain menjadi pribadi yang kompetitif, anak yang siap mengambil risiko akan menjadi pribadi yang tegas dan cekatan, termasuk saat mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Proses pengajarannya terkesan tega, namun dampaknya sangat besar bagi kekuatan kepribadian anak di masa mendatang.

  • Panutan akan prestasi

Figure yang paling dekat dengan anak adalah orang tuanya. Disini, salah satu peran ayah dalam keluarga adalah sebagai panutan atas prestasi yang dicapainya. Sebut saja Anda sebagai ayah berprofesi sebagai dokter. Anda buka praktik di rumah, Anda gratiskan pengobatannya, Anda dicintai banyak orang karena sifat humanis yang Anda miliki. Apa yang dirasakan si kecil? si kecil sebagai anak tentu terharu, bangga menjadi anak Anda, dan sangat mungkin saat ditanya “Nak, nanti besar mau jadi apa?” jawabannya adalah ingin jadi seperti ayahnya yang mirip super hero bagi manusia yang lain.

  • Merangsang aktivitas fisik

Apa peran ayah ibu dan anak dalam keluuarga? temukan jawabannya disini2

Anda mungkin masih ingat cerita dimana Adam meminta kepada Alloh agar memberikan kemampuan bicara pada istrinya, Hawa. Lalu, Alloh meminta Adam mengambil satu daun dari pohon tertentu dan diusapkan pada bibir istrinya. Karena begitu antusias, bukan satu daun yang diambilnya, tetapi satu ranting (bayangkan!). Apa jadinya? wajar saja jika perempuan akhirnya lebih banyak bicara dibandingkan laki-laki.

Lepas dari kisah tersebut, mari kita tilik fakta yang ada di lapangan. Perempuan memang lebih banyak berinteraksi secara verbal. Lain halnya dengan lelaki yang cenderung diam namun banyak aksinya. Mayoritas lelaki melakukan interaksi fisik dengan anak-anaknya, seperti yang terlihat saat mereka sedang bermain. Ayah cenderung terlibat langsung di dalamnya, tertawa langsung bersama sehingga menjadikan keduanya lebih dekat.

Peran Ibu dalam Keluarga

Ibu adalah super woman karena banyaknya peranan yang dimilikinya. Seorang ibu berperan mengurus rumah tangga, mengurus suami, mengurus dirinya sendiri dan mengurus anak-anaknya. Apa peran ibu bagi anak?

  • Sebagai pelindung

Saat merasa terdiskriminasi, tersudut, dan tidak  berguna, seorang anak perlu support dan perlindungan. Peran ini dijalankan dengan baik oleh seorang ibu. Karena apa? Karena anak adalah bagian dari dirinya yang selalu ingin dilindungi. Tangis anak adalah air mata ibu. Memang sedikit klise saat harus ditulis, namun demikian adanya peran ibu dalam keluarga. Ibu memiliki naluri untuk selalu ingin melindungi anak-anaknya, dengan cara memberikan pakaian yang nyaman, mengusap air matanya saat menangis, merangkulnya, dan ingin bahwa si kecil paham bahwa di dunia ini ada yang selalu melindunginya, yaitu ibu.

  • Mengajarkan disiplin

Dalam keluarga, ibu adalah sosok yang menggemaskan karena bawelnya. Ibu tidak pernah absen mengingatkan makan, mengingatkan sholat, mengingatkan belajar dan mengerjakan tugas, serta mengingatkan kewajiban atas pekerjaan rumahnya. Anak yang sedang asyik dengan mainannya, terkadang lupa bahwa ada kewajiban yang harus dilakukan. Disini ibu berperan mendisiplinkan anak meski secara praktis terkesan agak rewel. Saat masih kecil, anak-anak sering menggerutu dan malas mendengarkan ibu yang rajin update jadwal kewajiban anak-anaknya. Walau begitu, saat anak  mulai dewasa dan berperan sebagai ibu dalam rumah tangganya, barulah dia paham kenapa ibu bisa sebawel itu pada masa kecilnya.

  • Merangsang kepekaan mental dan emosional

Jika laki-laki cenderung rasionalis, wanita cenderung sensitif (tapi bukan temperamental). Sensitive ini dipicu dari naluri rasanya yang lebih dominan. Kapasitas inilah yang digunakan ibu untuk menumbuhkan kasih sayang anak kepada sesama, meningkatkan tenggang rasa, toleransi, tau bagaimana respond yang bagus sesuai dengan situasi dan kondisi yang pas, dan sebagainya. Nantinya, sensitivitas rasa inilah yang akan berguna untuk menjalin sifat humanis di masa mendatang sehingga anak akan dicintai orang-orang sekelilingnya. Peran ayah ibu dan anak dalam keluarga yang berjalan dengan maksimal akan menciptakan keluarga impian yang dipenuhi leh sifat-sifat positif.

Peran Anak dalam Keluarga

Anak adalah buah hati yang diharapkan kehadirannya oleh masing-masing pasangan.  Selain memenuhi semua keinginan si kecil, ada tanggung jawab besar bagi orang tua untuk memahamkan anak pada peranannya sejak dini seperti dibawah ini;

  • Patuh pada perintah orang tua

Selama perintah orang tua menunjuk pada hal-hal yang baik, wajib bagi anak untuk mengikuti. Berbakti kepada orang tua adalah cara untuk menciptakan suasana keluarga yang minim konflik antara anak dan orang tua. Dari segi nilai-nilai dalam agama, berbakti kepada orang tua adalah upaya untuk membuka keridloan Tuhan melalui ridlo orang tua. Ketika orang tua meridhoi, mudahlah perjalanan anak ke depannya. Dan saat orang tua murka, selalu saja ada cobaan dari arah yang tidak terduga yang menghampirinya. Anak yang patuh pada orang tua adalah anak yang paham akan perannya. Anak tersebut tau bagaimana bersikap dengan orang tua yang melahirkan, mendidik dan membesarkannya.

  • Menjaga nama baik keluarga

Image baik keluarga ada di tangan seluruh anggota keluarga. Tidak hanya ayah dan ibu saja yang harus menjaga image baik itu, tetapi anak selaku regenerasi orang tua wajib ikut serta. Menjaga nama baik keluarga salah satunya adalah dengan bersikap baik kepada keluarga dan masyarakat sekitar. Saat anak luput dari nilai-nilai sopan santun, nama baik keluarga yang jadi taruhannya. Masyarakat akan melontarkan cibiran “Anak siapa itu, sikapnya ngga bagus?”. Jika sudah demikian, mau tidak mau orang tua yang jadi sasaran. Namun saat anak sikapnya santun, rajin beribadah, berkata lembut, suka menolong, image baik keluarga akan terangkat, dan nama baik keluarga di mata masyarakatpun akan masyhur adanya.

  • Melakukan Kewajiban dengan Baik

Peran ayah ibu dan anak dalam keluarga tidak lepas dari peran anak yang sadar akan kewajibannya. Seringkali anak-anak lalai akan kewajibannya, fokus pada keinginannya saja dan marah-marah saat diingatkan oleh ibunya. Nah, karakter anak yang seperti itu perlu dibiasakan agar anak-anak sadar akan kewajibannya entah itu sebagai anak, sebagai pelajar, sebagai warga masyarakat, sebagai santri dan sebagainya. Pembiasaan agar anak sadar akan kewajibannya inilah yang sedikit berat dilakukan saat anak masih kecil. Jika kedisiplinan dan kesadaran akan kewajiban itu terbentuk sejak dini, besar kemungkinan si kecil akan menjadi pribadi yang matang dan berguna di masa mendatang. Semoga uraian mengenai peran ayah ibu dan anak dalam keluarga ini bermanfaat bagi Anda.

One thought on “Apa Peran Ayah Ibu dan Anak Dalam Keluarga? Temukan Jawabannya Disini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.