23 Peran Agama dalam Keluarga untuk Perkembangan Kepribadian Anak

Posted on

Peran Agama dalam Keluarga

23 Peran Agama dalam Keluarga untuk Perkembangan Kepribadian Anak

Peran agama dalam keluarga adalah aspek penting yang harus dijaga dan menjadi landasan kesuksesan membina rumah tangga. Agama adalah sarana meningkatkan kapasitas spiritual masing-masing pribadi, meningkatkan ikatan batin dan menjadi panduan moral bagi setiap anggota keluarga. Pastinya, Anda setuju jika saya mengatakan bahwa “agama bukan sesuatu yang sepele”.

Seorang anak yang tinggal di lingkungan keluarga agamis, tumbuh menjadi pribadi yang baik. Fondasi agama yang kuat tidak hanya penting bagi masa kecil anak, tetapi juga mencerminkan tingkah laku yang mengesankan saat memasuki usia remaja dan dewasa.

Gambaran masa depan anak tidak lepas dari bagaimana lingkungan keluarga membentuknya. Agama sangat penting bagi perkembangan sosial, moral, dan spiritual masing-masing individu. Terkadang, ada orang tua yang memiliki keyakinan berbeda. Ini akan menggangu perkembangan psikis anak karena orang tua tidak berhasil menjadi agen sosialiasi dan guru bagi anak-anaknya.

Kedua orang tua dengan keyakinan yang berbeda sulit memberikan pengarahan. Akhirnya, anak merasa bingung dengan kompetisi yang terjadi antar kedua orang tuanya. Hal tersebut berdampak pula pada keharmonisan keluarga besar secara keseluruhan. Salah satu langkah yang harus Anda ambil sebelum memutuskan untuk membina keluarga adalah mengetahui background agama dari calon pasangan agar tidak terjadi dampak negatif berkepanjangan yang mengorbankan ketenangan rumah tangga.

Anda  tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anak dengan memaksimalkan peran agama dalam keluarga. Setidaknya ada 23 peran agama dalam keluarga bagi anak yang menjadi alasan kenapa Anda wajib menanamkan fondasi agama yang kuat.

1. Membantu Perkembangan Psikologi Anak

Peran agama dalam keluarga adalah untuk memaksimalkan perkembangan psikologi Anak. Anak perlu pegangan psikologis yang kuat. Dr. Erika J. Chopich menulis bahwa anak-anak butuh untuk percaya  pada sesuatu yang lebih besar yang melampaui dirinya.

2. Mempelajari Dirinya Sendiri

Penelitian yang dilakukan oleh IOSR Journal of Humanities and Social Science melaporkan bahwa pelajaran agama memberikan banyak manfaat. Termasuk membantu anak belajar lebih dalam mengenai diri mereka sendiri, tentang agama, dan tentang Tuhan-nya. Ini membantu anak menemukan identitas dirinya, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut.

3. Mencegah Depresi

Remaja khususnya, seringkali bergulat dengan depresi. Bahkan, seringkali kita sebagai orang tua tidak mengetahuinya. Agama mampu mengontrol itu seperti yang dituliskan sosiolog Rodney Stark dalam bukunya “America’s Blessings.” Dalam wawancara yang dilakukan dengan Deseret News, Stark mengatakan bahwa agama, dan mereka yang kuat memegang nilai-nilai agama tidak rawan depresi.

4. Anak-anak Melihat Cinta di Mata Kedua Orang Tuanya

Ada banyak agama yang diakui keberadaannya di Indonesia. Agama tersebut memiliki ritual masing-masing. Dalam agama Islam, ada yang disebut dengan sholat berjamaah, dan dalam agama Kristen ada kunjungan ke gereja setidaknya seminggu sekali untuk beribadah.

Anak-anak yang terlibat dalam ritual keagamaan seperti sholat berjamaah, atau ke gereja bersama dengan kedua orang tuanya merasakan ada cinta dan kasih sayang diantara mereka. Pada saat menghadiri ritual keagamaan tersebut, tidak menutup kemungkinan anak-anak akan bertemu dengan gurunya, atau dengan temannya. Anda selaku orang tua paham dengan siapa anak-anak berinteraksi setiap harinya dan siapa yang mengajarkan ilmu umum dan agama di lembaga pendidikannya.

Peran agama dalam keluarga seperti pada poin ini tidak tampak jika anak maupun orang tua tidak terlibat dalam rutinitas keagamaan yang berlangsung di tengah-tengah masyarakat.

5. Seperangkat Aturan dan Nilai untuk Menuju Kedamaian Keluarga

Dalam keluarga, orang tua adalah agen sosialisasi yang mengajarkan anak mengenai tingkah laku yang baik, bagaimana aturan hidup di dunia dan cara mengarunginya. Agama adalah seperangkat aturan dan nilai yang berhubungan dengan kedamaian dan kepastian. Melalui orang tua selaku agen sosialisasi, orang tua memasukkan nilai dan aturan tersebut kedalam proses pendidikan anak, baik yang dilakukan di dalam keluarga, di lembaga pendidikan yang dipilih, dan di tengah-tengah masyarakat.

6. Sebagai Pemerkuat Hubungan Antar Sesama

Peran agama dalam keluarga adalah sebagai penguat hubungan antar sesama, baik hubungan antar pasangan, antar orang tua dan anak, dan antar keluarga dan masyarakat luas.

Pasangan suami istri yang ilmu agamanya dalam, umumnya mengarungi pernikahan yang damai dan dengan kehidupan pernikahan yang berkualitas. Pasangan yang demikian minim potensi mengalami kegagalan dalam membina rumah tangga entah yang dikarenakan perceraian dan kekerasan.

Agama mengatur bagaimana cara berinteraksi dengan anak, pasangan, dan sesama.  Kepala keluarga yang kuat ilmu agamanya memperhatikan bagaimana nilai dan ajaran dalam agama yang dianutnya menjadi pengatur cara berinteraksi dengan sesama.

7. Meningkatkan Kedekatan Emosional Orang Tua dan Anak

Riset membuktikan bahwa seorang ayah yang sering mengikuti kegiatan keagamaan di masjid maupun di gereja cenderung memiliki kedekatan batin yang kuat dengan anaknya di tahun pertama kelahiran. Sebaliknya, orang tua yang jarang terlibat dalam ritual keagamaan, rendah frekuensi interaksi dengan anaknya di tahun yang sama.

8. Religiusitas dan Kemampuan Memaafkan

Ada hubungan antara motivasi beragama yang kuat dari dalam diri dengan kemampuan menjaga hubungan baik. Salah satu sikap dalam menjaga hubungan baik adalah “mudah memaafkan”. Menurut penelitian, kemampuan memaafkan merupakan salah satu terapi kesehatan yang bagus. Ada sisi spiritualitas yang dijaga dan diterapkan dalam diri seseorang yang membiasakan diri memaafkan.

9. Prediksi Karakter Anak di Masa Mendatang

Penelitian yang dilakukan National Study of Youth and Religion menyatakan bahwa religiusitas orang tua, cara  orang tua mendidik anak, dan cara mereka berinteraksi memberikan kemudahan bagi kita untuk memprediksi kapasitas keagamaan teman-teman yang berada di sekitaran si kecil. Secara tidak langsung, bagaimana gambaran religiusitas anak-anak di masa mendatang bisa diprediksi.

10. Tingkah Laku dan Kebiasaan yang Baik

Agama dan nilai-nilai yang ada di dalamnya mengajarkan bagaimana menjalin kehidupan berkeluarga dan kehidupan sosial yang baik. Caranya adalah dengan bertingkah laku yang baik dan dengan menjalani kebiasaan yang baik sesuai dengan ajaran agama.

11. Perbedaan Cara untuk Memunculkan Kesadaran akan Keberagaman.

Masing-masing agama memiliki caranya sendiri untuk menyampaikan prinsip keagamaan, pengajaran, filosofi, doktrin, dan otoritasnya kepada pengikutnya.  Seorang anak yang paham akan cara beribadah agama yang dianutnya melakukan ajaran tersebut dengan sebaik-baiknya. Tidak sampai disitu, dengan ilmu pengetahuan dan wawasan yang dimiliki, seorang anak tau bagaimana merespon dan mempraktikkan toleransi saat menyaksikan keberagaman beragama tersebut.

12. Menjalin Pertemanan

Seorang anak yang aktif mengikuti kegiatan keagamaan, semakin terasah jiwa sosialnya. Mereka berinteraksi dengan banyak orang saat mencari ilmu agama, atau mempraktikkan ritual keagamaan. Sebut saja, saat ke masjid untuk shalat berjamaah, seorang anak bertemu dengan temannya saat berangkat dan saling bertegur sapa. Mereka yang menggali ilmu agama di masjid atau pesantren memiliki banyak teman apalagi jika level pesantrennya besar dengan jangkauan murid yang luas.

13. Style Mendidik Orang Tua

Seperti disinggung di muka, bahwa agama mengatur nilai, norma, dan tingkah laku antar sesama, termasuk dalam berkeluarga. Ada materi parenting khusus dalam agama yang mengatur bagaimana interaksi orang tua dengan anak. Orang tua yang religius memiliki hubungan yang ekspresif, hangat, aktif dan penuh cinta saat mendidik anak-anaknya.

14. Meningkatkan Ikatan Batin

 

23 Peran Agama dalam Keluarga untuk Perkembangan Kepribadian Anak3

Keluarga yang rajin mengikuti kegiatan keagamaan, mulai dari anak-anak, orang tua, dan keluarga besar, yang hadir bersama-sama dalam sebuah ritual keagamaan, meningkatkan hubungan batin antar sesama. Mereka  menikmati hubungan yang lebih baik dan menyenangkan satu dengan yang lain.

15. Memunculkan Kekuatan atau Motivasi dari dalam Diri

Keyakinan dan Kepercayaan terhadap agama, menjadi pendorong seseorang untuk lebih optimis dan berani, serta menjadi dorongan dari dalam diri untuk melawan segala macam tekanan dan masalah yang dihadapi.

16. Pemahaman Agama Menjadi Refleksi Hubungan dengan Orang Lain

Seorang anak yang dalam ilmu agamanya, memiliki hubungan yang menyenangkan dengan orang-orang disekitarnya karena praktik ajaran agama yang dilakukannya. Itulah kenapa seorang yang ahli dalam agama dicintai banyak orang dan menjadi alasan kedekatan antara anak dan keluarga serta dengan teman-temannya.

17. Mengurangi Potensi Kriminalitas

Peran agama dalam keluarga yang diterapkan dengan baik berpotensi mengurangi kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga dan dalam bermasyarakat. Dengan ritual keagamaan seperti sholat yang berfungsi untuk mencegah kekejian, potensi kekerasan dalam rumah tangga bisa ditekan.

18. Ke-maksimal-an Rasa

Seorang anak yang lahir dalam lingkungan keluarga agamis, mendapatkan tauladan dari orang tuanya, menerapkan nilai-nilai keagamaan dalam tingkah lakunya, umumnya memiliki kepuasan rasa, seperti merasakan bahagia, merasa cukup, merasa puas, secara moral bagus, dan secara sosial dicintai sesama.

19. Memberikan Dukungan Sosial

Praktik keagamaan memberikan dukungan sosial bagi masyarakat dalam sebuah komunitas. Dukungan tersebut tujuannya adalah saling membantu, saling meringankan beban, saling bekerjasama, dan berlomba dalam kebaikan.

20. Menjawab Pertanyaan Besar

Manusia bertanya-tanya mengenai pertanyaan besar yaitu, asal mula keberadaan, tujuan hidup, dan bagaimana kehidupan setelahnya.  Itu adalah pertanyaan besar yang menghantui mereka setiap waktu. Agama menjawab semua pertanyaan itu sehingga manusia lebih percaya diri dan lebih damai.

21. Lebih beretika

Peranan agama dalam keluarga adalah mendorong seluruh anggota keluarga agar lebih beretika.  Idealnya, penganut agama yang baik tidak hanya memahami materi keagamaan di kepala saja, tetapi mempraktikannya dalam setiap aspek kehidupan. Ini alasan kenapa peran agama dalam keluarga menjadikan seorang anak lebih beretika.

22. Merasa  lebih baik

Penganut agama yang baik disebut sebagai subyek yang konsisten melakukan perintah agama dan menjauhi larangannya. Pada akhirnya mereka merasa lebih tenang karena nilai-nilai dalam agama yang dipraktikkan sebagai panduan moralitas yang absolut.

23. Menjaga dari Kegaduhan

Beberapa sekolah kesulitan mengkondisikan siswa siswinya di dalam kelas. Namun, siswa yang terbiasa dengan praktik keagamaan yang bagus tidak melakukan hal demikian. Banyak buku yang dipublikasikan menyatakan bahwa agama mampu mencegah tingkah laku negatif dan kejahatan yang dilakukan anak-anak.

Peran agama dalam keluarga dalam membentuk kepribadian anak sangatlah penting. Jika semula anak-anak liar dan tidak terkendali, dengan aturan agama yang dianut, diyakini dan dijalankan, menjadikan anak lebih beretika, lebih damai, dan lebih menyenangkan baik saat berada di tengah keluarganya, maupun saat berada di tengah-tengah masyarakat. Pilihan pendidikan yang tepat khususnya pendidikan agama memberikan gambaran bagaimana karakter anak di kemudian hari.

Referensi:

http://www.listofproxy.net/importance-religion-family-life/.

https://googleweblight.com/i?u=https://onphilosophy.wordpress.com/2007/01/04/the-benefits-of-religion/&hl=en-ID

10 Benefits of Religion to a Community

One thought on “23 Peran Agama dalam Keluarga untuk Perkembangan Kepribadian Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *