Pentingnya Budaya Perusahaan untuk Meningkatkan Produktivitas Kerja

Posted on

Budaya perusahaan

Pentingnya Budaya Perusahaan untuk Meningkatkan Produktivitas Kerja

Saya pribadi seringkali kesulitan saat ditanya Apa budaya kerja itu? Budaya kerja adalah konsep yang abstrak di teori namun nyata di praktiknya. Lembaga formal maupun non-formal masing-masing memiliki budaya perusahaan dengan tujuan agar produktivitas kerja meningkat.

Ada beberapa definisi yang menempel pada kata budaya perusahaan, diantaranya adalah:

Budaya adalah lingkungan yang ada di sekeliling Anda saat bekerja. Budaya kerja memberikan kontribusi sepenuhnya kepada staf yang sedang berproses produktif di dalamnya. Tidak hanya itu, rasa enjoy, dan rasa hubungan yang baik antar staf ditentukan oleh budaya kerja yang baik.

Singkatnya, dari poin pertama ini kita bisa simpulkan bahwa budaya  kerja berhubungan dengan interaksi yang terjalin antar staf, bagaimana staf merasa nyaman di tempat kerja, dan bagaimana budaya tersebut mempengaruhi proses bekerjanya.

Definisi budaya bisa kita sejajarkan dengan kepribadian masing-masing orang. Baik dan buruknya personality seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti keyakinan, nilai-nilai, minat  bakat, hobby, kebiasaan dst.

Nantinya, faktor tersebut berpengaruh pada bagaimana cara seseorang bertingkah. Di dalam perusahaan, ada nilai, ada aturan, ada kebiasaan, yang dijalankan oleh seluruh staf dengan sadar. Aturan tersebut tidak tertulis dan tidak dikomunikasikan secara langsung namun dijalankan oleh seluruh staf dengan sadar.

Darimana budaya perusahaan tersebut berasal? Dari pengalaman masing-masing personel yang ada di perusahaan. Khususnya owner, eksekutif dan manajer yang terlibat dalam pembuatan keputusan yang ada di lembaga tersebut. Pengalaman yang dialami masing-masing staf pun memberikan kontribusi terhadap budaya yang ada di perusahaan itu.

Pengenalan budaya bisa melalui wawancara, atau dengan mengamati tingkah laku yang dilakukan oleh staf senior di lingkungan kerja yang sama.

Ruang lingkup budaya perusahaan antara lain meliputi gaya berbahasa, proses pembuatan keputusan, cerita yang berkembang di lingkungan perusahaan, dan aktivitas kerja sehari-hari.

Budaya perusahaan sederhananya berkaitan dengan bagaimana cara staf berpartisipasi dalam lingkungan kerja tersebut. Owner perusahaan tentunya ingin memiliki staf yang proaktif,  dan bukan yang reaktif.

Staf yang proaktif tidak mengedepankan ambisinya karena dia sadar betul sedang berada di bawah kendali perusahaan dengan visi dan misi yang sudah ditentukan. Proaktif atau tidaknya staf selain ditentukan oleh kesadaran masing-masing individu, juga dipengaruhi oleh budaya perusahaan yang terbentuk.

Beberapa sifat budaya dalam masyarakat dan yang ada di dalam perusahaan, adalah:

Budaya sama dengan tingkah laku yang dijalankan sesuai dengan norma atau aturan yang berlaku. Budaya tersebut di pelajari melalui proses pengamatan, dan adaptasi agar pribadi tersebut diterima di lingkungan tempat tinggalnya.

Di perusahaan khususnya dan di masyarakat pada umumnya, ada konsekuensi yang harus di tanggung untuk tingkah laku positif dan negatif. Tingkah laku yang baik mendapatkan apresiasi sedangkan tingkah laku negatif mendapatkan sanksi mulai dari teguran hingga dikeluarkan dari perusahaan.

Negosiasi atas budaya perusahaan masih memungkinkan. Negosiasi ini membuka peluang adanya pembaharuan dan juga perubahan dalam budaya tersebut. Negosiasi budaya sifatnya take and give. Artinya ada yang diberikan dan ada yang di ambil, bukan penggeseran  atas budaya yang sudah ada sepenuhnya. Selama budaya yang baru itu menguntungkan dan diterima oleh seluruh elemen perusahaan, negosiasi yang dilakukan kemungkinan besar berhasil.

Budaya memiliki sifat sulit di ubah, wajar saja. Sesuatu yang sudah dilakukan sejak lama, dan sudah mendarah daging, sulit untuk di ubah. Kebiasaan tersebut telah melekat pada kesadaran masing-masing dan perlu adanya pengulangan proses adaptasi. Di perusahaan, saat peraturan baru di publikasikan, di awal proses adaptasi staf umumnya melakukan kesalahan karena terbawa atmosfer budaya sebelumnya.

Usaha Membangun Budaya Perusahaan yang Baik

1. Memperkuat Figur Pemimpin

Budaya perusahaan erat kaitannya dengan figur pemimpin yang penuh wibawa. Pemimpin yang penuh wibawa cenderung disegani dengan beberapa kriteria yang harus ada pada pribadinya. Diantaranya adalah:

  • Memiliki background pengetahuan dan skill yang mumpuni terkait perusahaan yang dikelola.
  • Memiliki cara komunikasi yang baik, dengan mimic wajah yang netral serta tidak mudah masam.
  • Logis dan manusiawi dalam mengambil kebijakan.
  • Memiliki kemampuan interpersonal dan intrapersonal yang baik.
  • Menepati komitmen yang dibuat.
  • Sebelum memberi instruksi kepada orang lain, dia yang terlebih dahulu melakukan aturan tersebut.

Tidak hanya itu tentunya karakter yang sebaiknya melekat pada pribadi pemimpin. Pemimpin yang dipandang sebagai pribadi yang utuh cenderung dituruti apa instruksi yang diberikan dan menjadi tempat kembali yang nyaman bagi setiap stafnya.

Pemimpin atau founder sebuah perusahaan adalah subyek penting yang mempengaruhi budaya yang ada di perusahaan. Agar sikap setiap staf sama saat berada di depan atau di belakang Anda, pastikan karakter positif tersebut ada pada diri untuk memunculkan rasa segan itu.

2. Membuat Aturan yang Masuk Akal

Buatlah aturan yang masuk akal. Seperti yang sudah kita perbincangkan di awal, bahwa aturan adalah salah satu pembentuk budaya perusahaan. Aturan ini umumnya di buat oleh pihak eksekutif, founder atau manajer dengan pengalaman dan pertimbangan yang dimiliki.

Buat aturan yang matang. Aturan yang matang sifatnya rasional, berlaku untuk semua, tidak temporer, dan tidak memihak. Secara tidak langsung aturan ini menjadi bagian dari budaya perusahaan yang dipraktikkan setiap harinya.

Konsep aturan tersebut haruslah sudah di uji cobakan dan tidak melampaui kapasitas staf. Dalam pembuatan aturan bersama tim, Anda mungkin mengalami benturan-benturan, dan friksi dengan tim yang lain. Tujuan ke depannya jelas, yaitu untuk jangka panjang, berlaku adil bagi semua, dan tidak memberatkan salah satu pihak.

Adapun cara mengevaluasi aturan tersebut adalah dengan mengamati bagaimana respon staf setelah aturan tersebut diluncurkan. Apakah didominasi oleh respon positif atau respon negatif. Semakin banyak respon positifnya berarti aturan tersebut layak untuk menjadi landasan budaya perusahaan yang ada saat ini.

Selain aturan, sharing pengalaman pun perlu filter. Tidak semua pengalaman dari setiap staf yang terlibat dalam perusahaan tersebut bisa di share apalagi sampai menjadi landasan perubahan budaya dalam perusahaan.

Biasanya, negosiasi yang terlalu longgar berdasarkan pada paham kebebasan. Di perusahaan yang dibangun oleh owner dengan visi dan misi yang jelas, negosiasi menjadi semakin ketat.  Negosiasi budaya yang dipertimbangkan oleh pihak pembuat kebijakan adalah negosiasi yang memberikan keuntungan bagi perusahaan.

Untuk itu, membuat aturan yang masuk akal sangatlah penting. Tidak hanya mempertimbangkan sisi nyaman dan tidaknya staf, tetapi perlu menitikberatkan pada tercapainya goal perusahaan dengan adanya perubahan budaya perusahaan itu.

3. Membangun Budaya Kerja yang Bertujuan

Pentingnya Budaya Perusahaan untuk Meningkatkan Produktivitas Kerja2

Selain membangun budaya kerja yang masuk akal, budaya kerja yang memiliki tujuan yang jelas sangatlah penting. Tujuan budaya kerja tersebut tentunya tidak egois, yaitu dengan hanya menguntungkan salah satu pihak saja.

Budaya kerja yang bertujuan mementingkan dua sisi sekaligus, yaitu sisi staf yang terlibat dan dari sisi pencapaian perusahaan. Budaya itu haruslah menjadikan staf merasa nyaman berada di tempat kerja, staf bekerja secara maksimal di dalam lembaga terkait, dan bagaimana staf merasa nyaman dengan menjalin hubungan baik staf lain yang ada di dalamnya. Singkatnya, dengan adanya budaya kerja ini, staf menjadi pribadi atau sumber daya manusia yang lebih kompeten dari yang sebelumnya.

Budaya kerja yang menghasilkan SDM dengan kualitas yang unggul tentunya berdampak pada output yang diperoleh perusahaan secara keseluruhan. Ini adalah tujuan penting dari adanya perusahaan selain membentuk pribadi yang unggul. Membangun budaya kerja yang baik dari SDM yang berkualitas untuk mencapai visi dan misi perusahaan.

4. Membangun Team Work dengan Perhatian Sepenuhnya

Perusahaan tidak akan berkembang pesat tanpa adanya team work yang solid. Memang demikian adanya jika kita ingin mencapai visi dan misi yang besar. Kita tidak bisa mencapainya sendiri tanpa adanya kerja sama yang kompak dengan sesama.

Visi dan misi yang besar itu tidak bisa kita capai sendirian.  Founder perusahaan perlu adanya bantuan dari eksekutif dan manajer. Para atasan tersebut pun tidak bisa berjalan tanpa adanya peran aktif dari para karyawan.

Kerjasama antar keduanya yang terjalin dengan kompak dan sevisi mempercepat tercapainya tujuan perusahaan. Ada kriteria yang harus dimiliki pribadi yang bersangkutan, yaitu proaktif dan tidak reaktif, mudah memaafkan, selalu ingin berkembang, sadar akan tujuan perusahaan, tidak egois, dan tidak berlarut-larut merenungi gesekan yang terjadi dengan staf yang lain atau dengan atasan. Terbuka atas kritik dan bersedia memberikan saran yang membangun bagi perusahaan.

Menjaring pribadi yang demikian salah satunya bisa kita deteksi melalui wawancara perekrutan. Pribadi yang mudah marah, mudah tersinggung, dan egois sulit untuk menyamakan misi. Nantinya pribadi dengan karakter demikian menjadi penyebab lambatnya kemajuan organisasi.

Selain kriteria pribadi staf yang harus diperhatikan, ada hal lain yang harus kita perhatikan, yaitu keseriusan kita dalam menangani masing-masing team work. Usahakan agar team work tersebut tidak hanya sekedar nama. Team work itu di bangun dengan tujuan dan mendapatkan perhatian yang maksimal dari atasan. Anggota team yang terlibat haruslah solid, kompeten, satu visi dan satu misi. Selalu ada pembaharuan dalam tim jika di rasa ada SDM yang kurang mendukung, baik itu dari segi skill maupun personality.

Perhatian yang intens yang kita berikan nantinya akan meningkatkan keseriusan anggota tim. Tim yang kompak dan serius adalah aset besar lembaga yang bisa difungsikan tidak hanya saat ini, tetapi juga di masa mendatang.

5. Memantau Interaksi Antar Staf

Budaya perusahaan yang baik bergantung pada bagaimana interaksi yang terjalin antar founder dengan bawahannya, dan antar masing-masing staf. Staf yang merasa nyaman dengan lingkungan kerjanya cenderung memiliki produktivitas yang tinggi. Salah satu penyebab rasa nyaman itu adalah interaksi yang terjalin dengan baik dan support yang diberikan rekan kerja kepada kita selama berada di tempat kerja.

Perhatikan bagaimana cara staf berkomunikasi dengan staf yang lain. Perhatikan bagaimana mimik mukanya dan gesture yang ditunjukkan. Owner tentunya harus memiliki kepekaan yang terasah seiring dengan berjalannya waktu untuk mengamati apakah ada friksi antar staf.

Jadikan lembaga yang Anda pimpin sebagai tempat kerja yang produktif dan sebagai rumah yang nyaman bagi staf yang berada di bawah naungan Anda. Wujudkan itu melalui budaya perusahaan yang baik dengan mempertimbangkan beberapa poin di atas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.