10 Tips Menjadi Ibu dan Ayah Tauladan bagi Anak-anak

Posted on

Ibu dan ayah

10 Tips Menjadi Ibu dan Ayah Tauladan bagi Anak-anak

Antara status single dan married tentu jauh berbeda. Apalagi jika parent sudah menjadi ibu dan ayah dari anak-anak yang lucu. Ada pengamat yang selalu mengawasi gerak gerik kita sebagai orang tua. Pengamat itu adalah anak yang secara tidak langsung akan mencontoh bagaimana cara kita berfikir, bagaimana cara kita berucap, dan bagaimana cara kita bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah menikah, kita tidak lagi menjadi individu yang bebas, sebagaimana saat masih lajang. Ada tanggung jawab yang harus kita tunjukkan kepada pasangan dan juga kepada anak-anak. Anak yang kita lahirkan akan mengikuti bagaimana karakter yang kita tunjukkan saat sedang berada di depan mereka. Bagaimana karakter anak yang ingin kita bentuk? Berikut tips menjadi ibu dan ayah tauladan bagi anak.

1. Mempertimbangkan Apa yang Dilakukan di Depan Anak-anak

Menjadi parent, berarti kita harus pandai mempertimbangkan secara logis dan emosional apa yang kita lakukan saat berada di depan anak-anak. Saat ini, kita sudah tidak lagi sebebas dahulu. Ada pengamat kecil yang menampung apa saja yang kita lakukan dan kebetulan mereka saksikan.

Ibu dan ayah sekalian seperti sedang menggambar isi dari memory otak anak. Bagi mereka, orang tua adalah contoh atas bagaimana sih cara menjalani hidup dengan benar. Kita pada proses ini sedang mengisi memory yang ada di dalam otak anak yang selanjutnya akan diterapkan anak dalam kehidupan sehari-harinya.

Anak-anak yang menyaksikan cara berfikir, berkata, dan bertingkah yang baik akan mengikutinya karena parent dianggap memiliki otoritas pada diri mereka. Mempertimbangkana apa yang parent lakukan di depan anak berarti ibu dan ayah sekalian sedang melakukan kontrol diri. Adapun definisi kontrol diri adalah upaya untuk mengendalikan diri agar tidak sampai menuruti rangsangan negatif yang sifatnya sesaat yang berasal dari dalam diri agar tidak sampai memberikan konsuensi negatif bagi kehidupan sehari-hari.

Dan, kita perlu referensi untuk melakukan ini. Referensi tersebut kita dapat dari buku, dari membaca website parenting, sharing dengan mereka yang berpengalaman, atau dengan cara berdiskusi dengan psikolog keluarga bagaimana seharusnya memberikan tauladan di depan anak. Kapan harus mempertimbangkan dari sisi rasionalitas, dan kapan harus mempertimbangkan dari sisi emosionalnya.

2. Mendengarkan Anak Berbicara

Siapa sih pribadi yang tidak bahagia saat dirinya di apresiasi. Apresiasi tidak hanya dalam bentuk pemberian hadiah sesuai dengan harapan anak sebagai penerima. Apresiasi paling sederhana adalah dengan memperhatikan dan mendengarkan anak saat berbicara.

Anak-anak merasa ibu dan ayah memperhatikan mereka sepenuhnya dan menghargai bagaimana perasaan mereka saat parent bersedia mendengarkan anak berbicara. Parent yang kerap kali mengabaikan bagaimana perasaan si kecil dengan tidak pernah menghiraukan apa yang mereka katakan, dengan seringkali menentang apa yang anak inginkan, dengan seringkali marah-marah dan memakinya, hati anak lambat laun akan terkucil dan akhirnya merasa minder.

Kondisi psikis anak yang minder, berpengaruh pada progres anak baik dari segi hubungan sosial maupun kematangan kognitifnya. Prioritaskan perasaan anak dengan cara memberikan waktu kita untuk berinteraksi dengan anak-anak dan intens mendengarkannya berbicara. Apa yang anak-anak sampaikan adalah referensi bagi kita untuk tau apa bakat dan minat anak, apa yang mereka suka dan tidak suka, apa hobby anak, apa yang harus di asah dan apa kebiasaan buruk yang harus dikendalikan.

3. Menunjukkan Kasih Sayang dengan Cara yang Tepat

Saya pribadi sebagai orang tua kurang sependapat dengan pandangan bahwa segala sesuatu yang terpenting adalah niatnya. Kenapa demikian? Sebab kita seringkali tidak bisa menangkap niat baik yang terkemas dalam cara penyampaian yang kasar.

Ibu dan ayah sekalian mungkin pernah merasakan bagaimana saat kita yang berniat baik demi kemajuan anak tiba-tiba mereka salah tangkap atas apa yang kita lakukan. Mereka menganggap ibu dan ayah bersikap otoriter, kasar, dan tidak sayang pada mereka.

Darisini saya pribadi beranggapan bahwa, mendidik anak membutuhkan dua hal sekaligus yang harus ada, yaitu niat yang baik dan cara yang baik dalam menunjukkan kasih sayang kepada anak. Bersikap baik di depan anak saat mereka menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat adalah sesuatu yang menantang.

Ibu dan ayah sekalian dituntut agar lebih sabar. Kita perlu referensi bagaimana cara mengkomunikasikan niat yang baik itu di depan anak. Jangan sampai anak-anak “cedera” hatinya karena menangkap cara penyampaian yang kasar yang parent sampaikan meski itu mengandung niat yang baik.

4. Mengetahui Kapan Harus Tegas

Anak-anak bertingkah laku sesuai dengan yang mereka inginkan. Mereka  belum paham apakah sesuatu itu memberikan manfaat, menyebabkan risiko berbahaya, dan apakah mereka membutuhkannya atau tidak. Akan ada proses pengujian kesabaran disini di saat pengarahan yang kita berikan tidak sesuai dengan keinginan mereka. Anak-anak memberikan respon dalam bentuk tangisan, bentakan, ngambek, dsb.

Menghadapi anak yang melakukan perlawanan tersebut, ibu dan ayah harus menyadari bahwa ini adalah proses pendewasaan yang anak-anak perlukan. Dengan kondisi psikis anak yang masih labil seperti sekarang ini, apa yang kita lakukan adalah proses edukasi untuk menyeimbangkan antara keinginan anak dan manfaat yang di dapat untuk diri mereka sendiri.

Membiarkan anak semaunya sendiri, dan senantiasa memanjakannya, berarti kita sedang memanjakan mereka sesukanya. Di masa depan, kebebasan yang tanpa batas itu akan berpengaruh pada karakter negatif anak, sebut saja karakter egois, manja, keras kepala, ingin menang sendiri, dan sebagainya.

Anak butuh ketegasan sebagai batas atas kebebasan yang mereka miliki. Lambat laun anak-anak paham bahwa menjalani rutinitas keseharian di dunia tidak hanya berdasar kebebasan diri pribadi semata, tetapi ada batasan yang bersinggungan dengan kewajiban diri sendiri pada keluarga dan masyarakat.

5. Memberi Tauladan, Tidak Sekedar Memberi Instruksi Bertubi-Tubi

Idealnya, anak yang baik adalah anak yang penurut, dimana orang tua memberikan instruksi dan anak menjalankan instruksi tersebut. Sedikit klise sepertinya. Sekilas dari ungkapan tersebut tersirat makna bahwa anak adalah pelaku dan orang tua adalah pemberi instruksi, seperti bos dan staf nya. Anak-anak jaman sekarang semakin kritis. Mereka lebih mudah mengungkapkan apapun yang ada di dalam batinnya secara frontal.

Jika tidak mau diperintah, mereka akan membantah. Saya pribadi sering mendengar anak-anak bimbingan belajar bercerita, “Bu X, sukanya nyuruh ngerjakan PR terus, tapi ga pernah dikoreksi, besok lagi ga usah dikerjain, dst”. Anak-anak semakin kritis, dan mereka sudah mulai berfikir logis. Melakukan apa yang kita ucapkan dan perintahkan sama halnya memberikan teladan kepada anak agar mereka lebih menurut dan kita sebagai orang tua memiliki wibawa di depan mereka.

6. Memasuki Dunia Anak

Kebetulan saya mendapat tugas sebagai guru BK di sekolah. Beberapa siswa yang masuk dalam kategori bermasalah setelah di runut mengalami masalah dengan orang tuanya di rumah. Beberapa dari mereka bercerita seperti ini:

Aku ga nyaman, Bu sama ibu dan ayah di rumah. Kalau ibu marah, ayah juga ikut-ikutan marah. Padahal aku cuma mau main bola aja sama teman-teman. Ibu dan ayah kalau aku main sama anak si X juga suka dimarah-marahin, gitu.

Anak memiliki dunianya sendiri. Mereka kurang bisa kita kontrol karena secara psikis kita kurang nge-blend dengan dunia mereka. Saat kita memberikan perintah pada anak yang secara psikis kurang dekat, mereka akan merasa kita sebagai pribadi yang otoriter dan suka memerintah. Genggam hati anak dengan memasuki dunia mereka sehingga apa yang kita utarakan padanya tidak lagi menjadi sesuatu yang sarkas dan keras, tetapi lebih kepada edukasi yang secara tidak langsung akan mereka lakukan.

7. Memahami Cara Berfikir Anak

10 Tips Menjadi Ibu dan Ayah Tauladan bagi Anak-anak2

Memasuki dunia anak, otomatis kita akan mempelajari bagaimana cara mereka berfikir. Cara berfikir anak-anak tentu berbeda dengan bagaimana cara remaja dan dewasa berfikir. Mari pahami bagaimana cara berfikir anak dengan mempelajari perkembangan psikis anak seusianya. Sebagai ibu dan ayah, kita bisa dapatkan informasi ini dari internet, dari buku parenting atau dari psikolog anak yang memberikan referensi bagaimana cara yang tepat dalam menghadapi anak sesuai dengan usianya.

8. Berbahasa dengan Bahasa Anak

Satu rangkaian dengan memahami dunia anak, adalah memahami bagaimana cara berfikir anak dan bagaimana bahasa yang sebaiknya kita pakai dalam berkomunikasi dengan mereka. Memahami bahasa anak bisa kita amati dari bagaimana cara mereka berinteraksi dengan teman atau masyarakat termasuk saat sedang ngobrol dengan kita. Ibu dan ayah selaku parent akan lebih mudah memasuki dunia anak dengan cara terlebih dahulu menerjemahkan bahasa kita ke dalam bahasa anak-anak. Anak yang nyaman dengan cara kita berkomunikasi akan menjadikan kita tempat kembali saat sedang butuh teman untuk bicara.

9. Membiarkan Anak Tumbuh Sesuai dengan Bakat dan Minatnya

Ibu dan ayah selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Namun sesuatu yang kita rasa baik itu tidak selamanya benar untuk kita lakukan pada anak. Memilihkan sesuatu untuk anak tidak bisa kita lakukan secara searah. Kita harus melakukannya dua arah dengan mempertimbangkan bagaimana perasaan anak, dan apa bakat minat yang dimiliki anak.

Anak-anak memiliki bakat dan minat tersendiri yang tidak bisa kita paksakan pada mereka. Meski kita memiliki pandangan yang rasional yang dirasa baik untuk masa depan mereka, ada hal yang tidak bisa kita negasikan, yaitu bakat dan minat yang dimiliki anak. Agar mereka memiliki jiwa yang nyaman dan tidak merasa tertekan, yuk amati apa bakat dan minat anak sehingga mereka bisa menjalaninya dengan happy.

10. Tidak Menunjukkan Tanda-Tanda Sedang Konflik Saat Berada di Depan Anak-Anak

Anak akan merasa nyaman saat berada di lingkungan rumah yang harmonis. Lingkungan rumah yang harmonis salah satunya ditunjukkan dengan tidak pernah menunjukkan tanda-tanda konflik saat sedang berada di hadapan anak-anak. Bukan porsi anak untuk menjadi bagian dari konflik tersebut, apalagi harus menyaksikannya dan harus menanggung akibat dari adanya konflik tersebut.

Posisikan anak di luar lingkaran konflik tersebut dengan selalu bersikap aman damai saat berada di hadapan anak-anak. Anak adalah pengamat yang baik. Mereka secara fisik memang masih kecil, namun mereka bisa menalar dan merasakan ketegangan yang terjadi antar kedua orang tuanya. Ibu dan ayah idaman tidak pernah melakukan ini di depan anak sebab mereka ingin menjaga kondisi hati anak agar tetap nyaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.