Kerjasama: Manfaat dan 10 Cara Mengajarkan Kerjasama kepada Anak

Posted on

Kerjasama

Kerjasama Manfaat dan 10 Cara Mengajarkan Kerjasama kepada Anak

Bicara kecerdasan, banyak sekali jenis intelligence yang dimiliki, tidak hanya terpatok pada kecerdasan kognitif saja. Seorang anak yang memiliki kecerdasan kognitif dianggap memiliki potensi besar untuk mencapai kesuksesan di masa mendatang. Faktanya, tidak hanya unsur kecerdasan kognitif saja yang penting, kecerdasan sosial yang melibatkan kerjasama yang baik juga berperan penting untuk kesuksesan anak di masa mendatang. Kerjasama adalah mengenai saat dimana kita bekerjasama dengan orang lain dan saling membantu satu dengan yang lain.

Ini adalah cara untuk menjaga pertemanan dan persahabatan dengan baik agar mereka memiliki hubungan sosial yang positif. Kerjasama berarti menyeimbangkan antara apa yang kita inginkan dengan yang diharapkan orang lain. Seringkali, seorang anak harus menuruti apa yang diinginkan oleh parent-nya. Bagaimana perasaan anak? Tentu saja tidak nyaman. Untuk itu, diperlukan kerjasama yang tidak hanya menguntungkan salah satu pihak saja tetapi kedua belah pihak merasa mendapatkan manfaat dengan kerjasama itu.

Menanamkan sikap kerjasama perlu dilakukan dengan baik sejak dini. Beberapa manfaat kerjasama dalam interaksi sosial diantaranya adalah:

  • Kerjasama membantu tingkatkan kedekatan antar satu dan lain orang. Dengan kerjasama, kita akan mendapatkan dukungan positif dari teman-teman dalam satu tim atau di sekolah. Semangat yang sedang down, akan terpompa kembali dan lebih bergairah lagi. Selain itu, dengan kerjasama dalam sebuah tim, kita mampu beraktivitas atau berorganisasi dengan baik.
  • Belajar kerjasama dengan baik dalam sebuah tim. Belajar cara berkomunikasi dalam organisasi seperti menyampaikan pendapat, memberikan masukan, dan cara mengambil keputusan yang baik saat berada dalam sebuah tim.
  • Kerjasama membantu kita untuk berfikir lebih terbuka terhadap beragam ide yang disampaikan dari masing-masing anggota. Kita sadar akan banyaknya konflik yang mungkin muncul dalam sebuah organisasi atau tim dan menjadi lebih toleran terhadap gesekan yang terjadi. Selain itu, kita belajar untuk saling percaya dan saling melindungi satu dengan yang lain.
  • Teamwork membantu kita merasa lebih bermanfaat dan berkesempatan untuk menyalurkan potensi kita dalam bersosial organisasi. Di sisi lain, kita lebih memiliki power karena merasa lebih percaya diri dan berkontribusi untuk masyarakat dengan lingkup yang lebih luas. Saat power dalam tubuh itu tumbuh, kita merasa lebih bersyukur dan berkata “Alhamdulillah, ternyata saya bisa menciptakan suasana hati yang berbeda dan menuju ke arah yang lebih baik dari sekarang”.

Untuk mewujudkan tujuan positif tersebut, parent dan teacher berperan penting dalam mengedukasi anak untuk bekerjasama dengan baik sejak dini. Kembangkan potensi persahabatan yang baik dan juga hubungan sosial yang bagus antara anak dan teman-temannya, dengan family, dan dengan masyarakat sekitar, dengan cara berikut ini!

1. Pahamkan Anak tentang Apa itu Kerjasama (Kooperasi)

Kooperasi atau kerjasama bukanlah skill yang sederhana. Ini adalah keterampilan yang kompleks yang harus kita definisikan terlebih dahulu kepada anak-anak. Buatlah definisi yang sederhana mengenai apa itu kooperasi dengan mengurai unsur yang ada di dalamnya, diantaranya adalah dengan mengatakan bahwa:

  • Kooperasi adalah saat dimana kita mengambil giliran dalam sebuah tim. Entah giliran untuk menjadi yang di depan atau menjadi anggota, dan giliran untuk mendengarkan atau giliran untuk diam agar tidak terjadi konflik.
  • Kooperasi adalah momen dimana kita saling bekerjasama dengan orang lain dalam sebuah tim. Tidak bekerja sendiri dan berlatih untuk menekan selfish.
  • Kooperasi memberikan kesempatan bagi kita untuk sharing dengan anggota tim yang lain.

Berikan pemahaman step by step terhadap uraian tersebut. Mari kita komunikasikan tujuan kita dengan para guru yang ada di sekolah. Dukung anak untuk mencapai tujuan tersebut tahap demi tahap, mari kita amati bagaimana perkembangannya dan menjadi sahabat anak dalam berproses untuk meningkatkan skill-nya dalam bidang sosial.

2. Menjadi Role Model saat di Rumah dan Berada di Tengah-tengah Masyarakat

Anak akan meniru apa yang kita lakukan. Cara praktis mengedukasi anak adalah dengan cara memberikan contoh yang real dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita tampakkan sikap kerjasama yang baik seperti dengan menyapa tetangga saat sedang bertemu di jalan, membantu tetangga yang meminta pertolongan, kerjasama yang baik dalam keluarga seperti saat memasak bersama, atau saat sedang membersihkan rumah bersama.

Anak yang setiap hari menyaksikan kebiasaan baik tersebut akan menirunya dan perlahan akan ter-internalisasi ke dalam dirinya yang nantinya anak-anak akan memiliki kebiasaan sosial yang baik. Lingkungan keluarga adalah tempat pendidikan pertama bagi anak baik itu untuk meningkatkan kemampuan kognitif, sosial, psikomotorik, dan masih banyak lagi. Dibandingkan dengan memberikan petuah yang sifatnya verbal, akan lebih baik jika Anda menjadi role model sehingga anak bisa menyaksikan secara langsung apa yang positif yang perlu di contoh.

3. Melakukan Role Play untuk Mengatasi Kondisi Sulit yang Dihadapi Anak saat Ini

Anak mungkin saat ini sedang menghadapi posisi sulit berinteraksi dengan teman-teman di lingkungannya. Mungkin mereka membuat kesalahan sehingga mengalami konflik dengan teman sepermainannya.

Menyalahkan anak atas apa yang dilakukan bukanlah hal yang bijak. Justru, dengan banyaknya komplain yang kita tujukan pada anak, mereka akan jenuh dan semakin bandel. Cara mengedukasi yang tepat selain memberikan nasihat (jika memang anak-anak bisa menerima nasihat itu dengan baik) adalah dengan melakukan role play.

Sebelum itu, bertanyalah kepada anak mengenai kronologi kejadian itu dan mari mulai melakukan role play. Kita bisa meminta anak memerankan temannya dan kita menjadi si anak. Mulai role play dan mari kita saksikan bagaimana respon anak saat kita membuat kesalahan (dengan berperan sebagai si anak). Mereka mungkin akan tersenyum sendiri karena menyadari bahwa apa yang mereka lakukan tersebut kurang tepat dan perlu diperbaiki. Tidak ada kata-kata kasar disini. Kita sebagai orang tua membantu menyadarkan anak dengan cara yang bersahabat dengan menjaga kenyamanan hatinya.

4. Berikan Pujian saat Mereka Mempraktikan Kerjasama Bersama Teman-temannya

Pada dasarnya, setiap orang lebih suka di puji daripada di maki, bukan begitu? Apalagi anak-anak. Berikan pujian saat mereka mempraktikkan kerjasama itu sedikit demi sedikit dan tidak perlu menunggu sempurna untuk memujinya.

Pujian tersebut bisa Anda ungkapkan dalam bentuk seperti di bawah ini:

Wah, kamu sudah melakukan hal yang baik dengan ikut mengepel rumah bersama kakak Dina.

Kamu hebat sekali, sudah bekerja sama dengan temanmu menyelesaikan puzzle itu. Bagaimana, Nak? Menyenangkan, bukan?

Kerjasama dan sosialisasi bukanlah hal yang mudah. Ini adalah kemampuan yang kompleks dan perlu pendampingan terus-menerus agar anak-anak bisa bekerjasama dengan baik saat sedang bersama tim atau dengan orang lain. Yuk, pantau perkembangan anak agar benar-benar ahli dalam bidang kerjasama atau sosial untuk masa depannya. Support yang kita berikan di setiap proses belajar anak untuk mahir dalam bersosialisasi ini akan membuat mereka semakin berkembang.

5. Rencanakan Aktivitas untuk Meningkatkan Kerjasama

Kerjasama Manfaat dan 10 Cara Mengajarkan Kerjasama kepada Anak2

Planning aktivitas yang menarik bersama anak-anak untuk mengembangkan jiwa sosialnya. Ya, mengedukasi anak untuk kerjasama bisa juga dilakukan melalui permainan yang happy. Rancang permainan yang mengandung unsur kerjasama seperti dengan permainan komunikata atau jenis permainan yang lain yang melibatkan kerjasama yang intens.

6. Mengambil Bagian dalam Sebuah Permainan

Sebagai orang tua, kita perlu memberikan rangsangan positif agar anak merasakan seni tersendiri saat mereka puas karena telah menyelesaikan sesuatu. Caranya adalah dengan mengambil bagian dalam sebuah tim. Cobalah membuat permainan yang melibatkan anak seperti melempar bola ke dalam ring. Mari kita memberikan contoh padanya terlebih dahulu lalu biarkan mereka melakukannya sendiri untuk mengumpulkan poin dalam tim. Selain bermanfaat untuk meningkatkan kooperasi, anak-anak merasa happy, dan mereka mempelajari nilai kerjasama itu melalui praktik tanpa rasa terpaksa.

7. Mari Pahamkan Anak Mengenai Alasan di Sebalik Batasan dan Request yang Kita Ajukan

Penting bagi kita untuk memberikan pemahaman kepada anak saat kita membuat aturan, permintaan dan juga batasan dalam melakukan sesuatu. Salah satu tujuannya adalah untuk membangunkan kesadaran dan logika berfikir anak. Seperti dengan ungkapan:

Kita semua ayuk dibersihkan bareng mainannya. Nanti biar barangnya mudah ditemukan, kalau mau main lagi gampang deh nyarinya.

Kalau adik bantu ibu meletakkan piring itu disana, kita jadinya lebih cepat selesainya. Dan, bisa main deh secepatnya.

Ini akan merangsang logika anak untuk berfikir secara aktif dan psikomotoriknya pun beroperasi dengan baik. Rasa malas mulai terbentuk jika kita (saat masih kecil) terbiasa mengerjakan segala kebutuhan anak sehingga psikomotoriknya kurang terasah.

8. Bekerja Sama dalam Menyelesaikan Masalah yang Dihadapi Saat Ini

Anak-anak mungkin menghadapi dilema saat ini, mereka ingin melakukan sesuatu dan kita melarangnya. Yuk, bantu anak menyelesaikan masalah tersebut dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:

  • Mulai dengan menyatakan masalahnya “ anak ingin menggambar di tembok”. Kita agree dengan aktivitas menggambarnya, tetapi kita tidak setuju dengan tempat dimana anak-anak akan menggambar. Tanyakan pada mereka di tempat mana lagi sebaiknya mereka akan menggambar?
  • Tawarkan solusi dengan tempat menggambar yang tepat, seperti di buku gambar atau di papan tulis. Jika mereka beralih ingin menggambar di dinding kulkas misalnya, yuk sampaikan pada anak jika itu yang mereka pilih, crayon akan dijauhkan dari mereka sementara waktu.
  • Anak-anak memerlukan tempat untuk mencurahkan keinginannya. Untuk itu, tawarkan alternatif lain yaitu dengan menempelkan hiasan dinding kulkas yang lucu dan menarik dan bukan menghiasnya dengan cara menggambar.

9. Mengerjakan Tugas Rumah Bersama-sama Dimulai Sejak Dini

Selanjutnya, mari kita biasakan anak untuk bersama-sama melakukan pekerjaan rumah. Diantaranya adalah dengan mengajaknya mencuci motor atau mobil bersama atau dengan mengajak mereka menyiapkan sarapan pagi bersama. Anda bisa katakan pada anak:

Wow, bagus sekali kamu telah membantu ayah mencuci motor, jadinya pekerjaan cepat selesai dan sekarang kita siap pergi jalan-jalan deh.

Terimakasih adik, sudah bantu mami nyiapin sarapan pagi bersama. Sekarang sudah siap makanannnya, kita bisa segera sarapan setelah itu pergi ke rumah nenek metik buah disana.

10. Berikan Saran dan Bukan Perintah

Logikanya, perintah memantik perlawanan. Hindari ungkapan taruh mainan ini di tempatnya dan bukan disini, tetapi ganti dengan ungkapan saran seperti dengan ungkapan sepertinya kakek sudah mau datang, gimana kalau adek taruh mainan ini di kamar biar nggak kelihatan berantakan.

Kerjasama adalah skill yang harus dibangun sejak dini. Ini adalah skill yang rumit yang harus di breakdown secara rinci agar anak lebih mudah memahami. Kooperasi berhubungan dengan kemampuan sosial anak yang penting peranannya di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.