Etika Keluarga: Pertemuan, Hijrah Berujung Pinangan

Posted on

Etika Keluarga

Etika Keluarga Pertemuan, Hijrah Berujung Pinangan

“Etika keluarga yang baik yang tercermin dalam dirinya”, itulah jawabanku atas pertanyaan yang dia lontarkan padaku:

“Apa yang membuat seorang wanita lebih mahal nilainya dari wanita lain?”

***

Kami adalah teman yang mengabdi di instansi pendidikan yang sama. Sebuah universitas swasta dengan mayoritas jurusan umum di dalamnya. Aku sendiri lahir dengan nama Furqon yang gemar membaca dan gemar menganalisa. Sedangkan temanku itu (yang akhirnya menjadi pendamping hidupku), lahir dengan nama Mona Lisa. Saat teman-temanku memanggil namanya, aku teringat lukisan karya Leonardo Da Vinci yang cantik mempesona, mirip seperti dirinya. Sungguh, fisiknya nyaris sempurna.

***

Aku, Mona Lisa bersama teman-teman yang lain berada di kantin karyawan waktu itu. Menempati satu meja kayu panjang berwarna merah muda dengan 8 kursi kayu di sekitarnya, full terisi. Sewaktu istirahat, kami sering berkumpul disini, untuk sekedar minum teh hangat dan menyantap roti bakar. Aku lupa apa yang dipesan Bu Mona, seingatku dia memilih menu yang berbeda, tapi entah apa.

Di sela-sela kongkow, kami sering ngobrol tidak hanya masalah akademik, tetapi juga seputar kehidupan pribadi, layaknya apa yang umum dilakukan saat berkumpul dalam situasi santai dengan teman sebaya. Waktu itu, kami berdiskusi panjang lebar tentang etika mahasiswa yang saat ini mengalami reduksi. Mungkin lebih tepat jika aku menyebutnya obrolan saja dan bukan diskusi. Perantara obrolan adalah Bu Mona, yang saat itu rupanya sedang terbakar amarah karena merasa telah menjadi korban etika mahasiswa kekinian yang tidak sopan.

Begini rangkuman kejadiannya yang aku ingat dari apa yang Bu Mona ceritakan dulu:

Bu Mona berjalan di koridor kampus, dengan baju atasan warna merah, dan celana warna pink muda. Dia menceritakannya detail. Tampilannya sopan, tidak ada yang ketat. Bu Mona memang tidak berkerudung, rambutnya hitam tebal, jatuh tergurai. Kulit wajahnya putih bersih, dengan sedikit gincu di bibir, warna soft kalau tidak salah katanya. Dia membawa totte bag di lengan kanannya dan beberapa map jurnal di tangan kirinya.

Bu Mona berjalan seperti biasa, santun khas wanita Jawa Tengah, hanya saja dia sengaja tidak tebar pesona, demi image dosen yang disandangnya. Di kanan-kiri koridor, banyak mahasiswa duduk santai, mahasiswa baru. Beberapa dari mereka mengerjakan tugas kuliah, dan beberapa yang lain duduk santai sembari bermain smartphone. Anehnya, berjarak agak jauh dari depan mereka, ada dua atau tiga suara yang saling bersautan, “suit, suit”, lalu memanggil “Mona, oh Mona” seperti saat kebanyakan pria akan menggoda para gadis yang sedang lewat di depannya. Ini tidak hanya terjadi satu kali, namun sudah tiga kali setiap kali dirinya melewati koridor kampus. Bu Mona merasa tercabik hatinya, profesi dosen yang identik dengan guru (dimana guru dahulu adalah wakil dari orang tua) tidak lagi di respect dengan baik. Meresponnya hanya akan menurunkan martabat diri sendiri.

Stimulus obrolan itu dilontarkan Bu Mona dengan sangat serius, seperti ada beban segunung yang mengendap dalam hatinya dan ingin segera ia keluarkan. Kami bertujuh yang berada di sekelilingnya menyimak tanpa menyela, lalu mulai merespon dengan menganalisa apa penyebab mahasiswa sekarang menjadi seperti yang diceritakannya, dalam insiden yang tidak mengenakkan itu.

Bu Astri yang saat itu duduk di sebelah Bu Mona berpendapat, jika ketidaksopanan yang dilakukan mahasiswa itu terjadi karena dari faktor mahasiswanya sendiri. Menurutnya, mahasiswa sekarang begitu manja dengan banyaknya fasilitas dan dilindungi dari segala macam hukuman oleh orang tuanya yang berada. Apalagi, sekarang paham demokrasi banyak disalahgunakan dengan dalih “suka-suka gue”. Ada yang gersang dalam kehidupan sekarang, imbuhnya. Pendapat ini di dukung oleh Bu Alya, dan Pak Soni yang duduk di hadapannya.

Pendapat selanjutnya, Pak Farid mewakili dua dosen lain yang berpikiran sama. Mahasiswa pada akhirnya sampai berperilaku seperti itu tidak lain karena etika keluarga selaku tempat sosialisasi primer yang tidak mendukung. Bisa jadi anak-anak itu lahir dalam lingkungan yang broken home, dalam lingkungan yang materialistis dan serba ada, atau karena memang contoh dari etika keluarga dari anak-anak itu memang sudah begitu.

Aku diam saja, mengamati dan hanya menganalisa. Bu Mona selaku pribadi yang menjadi obyek obrolan tampak betul pada wajahnya bahwa hatinya sedang tersiksa, meski ia juga paham bahwa perlakuan itu tidak perlu di-respond dengan begitu serius. Toh pelakunya mungkin hanya iseng dan lantas lupa apa yang sudah mereka lakukan. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga manusia,  pastilah resah karena dalam lingkungan akademik seperti ini, nuansa premanisme hadir dengan dosen sebagai victim nya.

“Pak Furqon, sebentar lagi libur panjang, nanti saya mampir ke rumah Bapak sama Bu Astri ya, pinjam buku…Gimana Bu Astri, oke?”, tiba-tiba pertanyaan itu menghampiriku yang masih dalam keadaan bermenung.

“Oke, siap Gan” sahut Bu Astri

“Baik, Bu…dengan senang hati” jawabku.

“Oke, alamat, Pak?”

“sebentar saya WA, Bu”

***

Selesai sholat maghrib, aku kedatangan tamu. Dua perempuan yang adalah teman satu instansi denganku, Bu Mona yang cantik, rapi, dan masih single, dan Bu Astri yang agamis dan keibuan karena memang sudah ibu-ibu. Hehe. Aku persilahkan mereka berdua masuk dan kami mengobrol di ruang tamu.

“Pak Furqon, yang barusan buka pintu siapa?” tanya Bu Astri

“Itu kakak kandung saya, Bu”

“Oh, santun sekali, cantik dan halus perangainya. Tentu ini tidak lepas dari etika keluarga bapak yang pastinya bagus”

“Ah, Bu Astri bisa saja”

Selang beberapa saat, seorang perempuan dari arah dapur keluar menuju ke ruang tamu. Dia membawa nampan berisi 3 cangkir teh hangat dan dua piring kecil berisi biscuit. Dia letakkan nampan itu di meja, lalu di letakkannya pula 3 cangkir teh hangat masing-masing di depan kami. Perempuan berkerudung coklat itu meminta para tamu untuk minum mumpung masih hangat. Sebelum kembali, tidak lupa dirinya bersalaman dengan masing-masing tamuku.

“Siapa, Pak?” kali ini bu Mona bertanya, sepertinya ada yang menarik dari kedatangan perempuan itu.

“Adek saya, Bu…”

“Oh cantik sekali, adem lihatnya, ngomong-ngomong saudara-saudara Bapak cantik-cantik ya”

“Ah, tidak juga, Bu”

***

Etika Keluarga Pertemuan, Hijrah Berujung Pinangan2

Dari dalam rumah, terdengar lantunan ayat Al-Qur’an, suara laki-laki paruh baya, merdu dan fasih sekali. Tepatnya sedang membaca surat Maryam dengan lagu sika yang menyayat-nyayat. Kali ini, Bu Mona langsung bangkit dari tempat duduknya. Tampaknya dia tidak perduli bahwa ini bukan rumahnya. Dia berjalan seperti tidak sadar mengikuti sumber suara lantunan ayat Al-Qur’an yang syahdu itu. Aku dan Bu Astri mengikutinya dari belakang, tanpa melarang dan tanpa berbisik sama sekali. Hanya melangkah, dan melihat di mana Bu Mona akan berhenti.

Dia berjalan ke arah ruang keluarga. Dia berdiri di belakang sofa mendengarkan lantunan ayat Al-Quran yang berasal dari ruang itu juga. Ayahku, Abina Yusuf yang membaca surat Maryam itu. Bu Mona mendengarkan dengan khusyu’ dengan mata yang penuh gelimang air mata. Dirinya tersentuh, terenyuh, dan tidak menghiraukan siapa saja yang ada di kanan-kiri ayah–seluruh anggota keluarga berkumpul disini. Semua mata memandangnya beralih memandangnya. Sampai pada akhirnya, di surat yang ke 22 ayahku berhenti membaca. Menyadari ada yang terisak di belakangnya. Ayahku menoleh, lalu Bu Mona bersimpuh di hadapannya, sambil berkata;

“Tolong Islam-kan saya”

Dia berkata dengan derai tangis yang tak bisa dibendung. Aku dan Bu Astri kaget. Setiap kali kami ajak shalat di kampus, dia selalu mungkir, dan bilang jika dia akan shalat di rumah. Rupanya karena memang kita tidak satu keyakinan dengannya.

Ayahku memintanya untuk berdiri, melihat wajahnya dengan seksama.  Wajah yang basah air mata hidayah. Tanpa pikir panjang ayahku memintanya membaca syahadat mengikuti ucapannya. Ayah meminta adek perempuanku yang paling kecil untuk mengambilkan satu kerudungnya. Segera kerudung itu dipakaikan ayahku pada Bu Mona. Ayahku terisak pula, tidak menyangka jika kedatangan tamu kali ini, yang bertepatan dengan momentum bacaan Al-Qur’an yang dilantunkan olehnya, menjadi jembatan bertambahnya ummat nabi Muhammad SAW di dunia.

“Nak, aku punya satu permintaan padamu”

“Apa, Pak? Bapak telah menjadi perantara datangnya kedamaian pada diri saya. Jika saya mampu, akan saya kabulkan”

“Jadilah Kau, Anakku…Aku ingin kau jadi ladang pahala bagi anakku Furqon. Dia sering cerita banyak tentangmu, termasuk keenggananmu untuk diajak sholat berjamaah di kampus. Dia baru tau alasannya sekarang, Maukah kau, Nak?”

Bu Mona menatapku diam, seperti bertanya-tanya kenapa aku selama ini tidak berkata sepatah katapun padanya. Dalam pancaran mata yang menatap tajam itu, ada rasa bahagia yang tidak terbendung. Seperti ingin lari dan menghambur saja ke arahku. Lalu di jawabnya pertanyaan ayah;

“Iya, Ayah, saya bersedia”

Hatiku bahagia, Bu Astri terharu berada dalam momen menyentuh ini. Dia menjadi saksi akan bersatunya dua teman kerja yang selama ini mewarnai hari-harinya.

“Duduklah kalian semua disini, Kau Furqon dan juga temanmu, duduklah disini. Alhamdulillah kita akan kedatangan keluarga baru. Semoga nanti pembicaraan di rumah Bu Mona akan dilancarkan Alloh. Amin. Nak Mona, keberatankah jika aku panggil Kau Aisyah seperti nama istri Nabi?”

‘“Tidak Ayah”

“Alhamdulillah…sebuah keluarga yang kuat pada dasarnya bukan keluarga yang kaya secara materi. Tetapi keluarga yang kaya ilmu. Salah satunya ilmu agama. Dalam agama, ada ungkapan bahwa malu adalah sebagian dari iman. Menjunjung tinggi rasa malu apalagi sebagai wanita sangat penting. Ini bagian dari etika keluarga bapak yang semoga Nak Mona bisa maklumi. Etika keluarga itu bagi wanita salah satunya adalah dengan menutup auratnya. Menjaga lisan dan perbuatan, dan pergaulannya, tidak melakukan yang dilarang agama dan senantiasa mematuhi apa yang Alloh perintahkan. Ayah selalu berpesan kepada anak-anak ayah, jangan malu karena menjadi tukang sol sepatu, tetapi malu lah karena etika keluarga yang kalian lakukan tidak tepat. Kalian tidak patuh pada Alloh, itu kalian wajib malu. Rejeki dunia kita gunakan secukupnya dan jika diberi kelebihan mari kita arahkan pada jalan Alloh. Bersediakah Nak Mona menutup aurat?”

“Bersedia, Ayah”

“Alhamdulillah…Furqon siapkan kendaraan kita akan berkunjung ke rumah Nak Mona sekarang juga”

***

Selepas perayaan, kami menjalankan ibadah umroh. Saat berada di kamar hotel, sembari memandang ka’bah dari kejauhan, istriku memanjatkan syukur pada-Nya:

Alhamdulillah, selama ini kesempurnaan dunia yang kumiliki tidak bisa menjawab kehampaan dalam hati. Melalui mahasiswa yang iseng itu, hatiku terusik. Apa yang salah dengan diri, mungkin karena aku belum menjaga diriku sendiri dengan menutup aurat. Di balik niat meminjam buku, kau antarkan aku ke jalan-Mu. Kau Pertemukan aku dengan seorang ayah yang menjunjung tinggi agama dan etika keluarga. Sekarang aku, disini, berada di rumah-Mu dengan suami yang kau kirim untukku.

Dia mengakhiri ungkapan syukur itu dengan bertanya kepadaku;

“Apa yang membuat seorang wanita nilainya lebih tinggi daripada orang lain?”

“Etika keluarga yang baik yang tercermin dalam dirinya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.