Definisi dan Fungsi Keluarga Batih Menurut Ahli

Posted on

Keluarga Batih

Definisi dan Fungsi Keluarga Batih Menurut Ahli

Keluarga batih adalah salah satu istilah dalam ilmu antropologi. Keluarga batih merupakan bentuk keluarga sederhana yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak yang masih belum berkeluarga. Keluarga batih merupakan salah satu tipe keluarga dari beberapa tipe keluarga yang ada di dunia. Dalam ilmu sosial, yang dimaksud keluarga adalah unit terkecil yang memperkenalkan anggota keluarga yang ada di dalam keluarga itu untuk mengenal nilai yang berlaku di masyarakat. Lebih jauh akan kita bahas apa itu keluarga batih, dan apapula fungsinya.

Definisi Keluarga Batih

Seperti yang dijelaskan di muka bahwa keluarga batih adalah keluarga inti. Dalam bahasa lain keluarga batih disebut nuclear family yang terdiri dari ayah/suami, ibu/istri dan anak yang masih lajang. Disini ada dua syarat yang harus dipenuhi oleh keluarga agar disebut keluarga batih, yaitu hanya ada anggota inti saja (ayah, ibu dan anak), dan anak dalam keluarga tersebut masih dalam keadaan belum berkeluarga.

Mengenai pengertian nuclear family, ada beberapa definisi yang disampaikan oleh para ahli, diantaranya adalah:

  • Soekanto (1990), menurutnya keluarga batih merupakan unit paling kecil yang ada di masyarakat dengan fungsi tertentu yang dimiliki. Keluarga batih terdiri dari ayah/suami, istri/ibu dan anak yang belum berkeluarga.
  • Haviland (1993) menyatakan bahwa keluarga batih adalah kesatuan dasar yang ada dalam masyarakat dimana anggotanya terdiri dari ayah/suami, ibu/istri, dan anak-anak yang belum bisa berdikari (anak masih bergantung pada orang tuanya).
  • Khairuddin (1997) menyatakan pandangan yang lebih spesifik dari keluarga batih. Keluarga ini ditandai dengan adanya interaksi interpersonal yang intens antara suami, istri dan anak, atau antara anak dan anak. Ini tidak lain karena skop keluarga yang kecil dan tidak seperti yang ada pada extended family (keluarga luas).

Dari pendapat para ahli diatas, kita bisa simpulkan bahwa keluarga batih (nuclear family) merupakan keluarga inti yang di dalamnya terdapat ayah/suami, ibu/istri dan anak yang statusnya masih lajang. Di dalam keluarga yang cakupannya sempit ini, interaksi yang intens akan terjalin antar anggota keluarga dan juga antar anak-anak yang ada dalam keluarga.

Adapun varian dari nuclear family adalah nuclear family poligami dan nuclear family poliandri. Pengertianya adalah sebagai berikut, nuclear family poligami terdiri dari ayah, ibu lebih dari satu dengan anak-anak yang masih lajang. Sedangkan nuclear family poliandri terdiri dari ayah lebih dari satu dan ibu, serta anak-anak yang masih lajang. Keluarga batih atau nuclear family yang simpel sering dipertentangkan dengan extended family atau keluarga yang luas.

Fungsi Keluarga Batih

Pendapat dalam ilmu sosial seperti yang diutarakan oleh Gunarso (1995) dan Soekanto (1990) berikut ini seringkali menjadi referensi mengenai fungsi keluarga batih.

Gunarso menyatakan bahwa fungsi tersebut adalah;

1.    Sebagai tempat regenerasi dan membesarkan anak

Keluarga adalah media untuk mendapatkan keturunan dan meneruskan silsilah keluarga memulai cara yang sah. Dalam keluarga yang dibangun, ada fungsi reproduksi dan fungsi regenerasi. Fungsi reproduksi berhubungan dengan proses munculnya anak ke dunia, sedangkan fungsi regenerasi adalah tempat untuk meneruskan silsilah keluarga.

Di dalam lingkungan keluarga yang nyaman, anak akan tumbuh besar dengan keterpenuhan materi, etika yang baik karena adanya tauladan dari orang tua, dan sehat secara fisik.

2.    Keluarga adalah tempat menuangkan rasa kasih dan sayang, support, dan sarana keakraban

Idealnya, sebuah keluarga bebas dari permusuhan dan rasa dendam. Keluarga seyogyanya sebagai tempat kembali yang selalu dirindukan. Karena apa? Karena di dalamnya terdapat begitu banyak cinta kasih yang dicurahkan oleh orang tua kepada anak dan anak kepada orang tua. Selain itu, dukungan untuk sukses mencapai tujuan masing-masing didapatkan dalam keluarga yang ideal. Seorang ayah kepada anaknya meminta doa agar usahanya lancar dan seorang anak kepada orang tuanya meminta dukungan material serta doa untuk menjalani proses belajar di luar. Keakraban muncul dalam keluarga karena adanya rasa saling memiliki, saling melindungi, dan saling bergantung. Ada kedekatan intrapersonal yang sangat kuat disini.

3.   Tempat untuk mengembangkan kepribadian

Di dalam keluarga, kepribadian anak terbentuk. Kepribadian positif anak meniru apa yang sudah dilakukan orang tuanya. Demikian juga sebaliknya, kepribadian negatif anak tidak lepas dari apa yang sudah dilakukan orang tuanya. Anak lahir dalam keadaan suci, seperti kertas kosong yang siap kita warnai.

4.   Tempat untuk memahamkan hak, kewajiban, dan tanggung jawab

Yang harus digarisbawahi dalam memahamkan si kecil tidak hanya mengenai hak-haknya saja, tetapi juga kewajiban dan tanggung jawabnya. Mari kita berusaha agar si kecil lebih mendahulukan kewajiban dan tanggung jawabnya, baru setelah itu kita berikan hak mereka.

Mendahulukan kewajiban dan tanggung jawab daripada hak adalah sikap yang bijak dan dewasa. Sebaliknya, anak-anak yang diajari cara untuk menuntut haknya terlebih dahulu cenderung egois. Hak berhubungan dengan kepuasan pribadi, tetapi kewajiban dan tanggung jawab berelasi dengan kepentingan bersama. Mari kita arahkan mereka agar lebih peka terhadap kepentingan umum daripada kepentingan pribadinya.

5.   Tempat untuk mengajarkan nilai-nilai agama, budaya, moral dan adat istiadat.

Orang tua yang paham nilai-nilai agama dan mengerti tentang moral, budaya dan adat istiadat akan mengajari si kecil bagaimana cara untuk menjalin hubungan vertical dan hubungan horizontal yang baik. Pemahaman orang tua ditransfer kepada anak dalam bentuk nasihat-nasihat dan tingkah laku. Anak yang bertingkah sesuai nilai agama, moral, tradisi dan budaya cenderung lebih bisa diterima dalam masyarakat sebab dirinya tahu bagaimana cara bersikap yang benar.

Soekanto membagi fungsi keluarga inti sebagai berikut;

 1.   Keluarga merupakan tempat berlangsungnya sosialisasi dasar atau sosialisasi primer.

Disini anak dididik untuk mengerti dan memahami nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Ya, kepada orang tuanyalah anak-anak semestinya belajar mengenai kaidah, norma, dan nilai yang berlaku di masyarakat. Nasihat yang diberikan, pendidikan yang dipilihkan, dan tingkah laku yang ditunjukkan orang tua adalah media belajar anak untuk memahami nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

2.   Unit pengatur hubungan seksual

Melalui pernikahan dan terbentuklah sebuah keluarga idaman, legal-lah hubungan seksual antar pasangan. Tujuannya tidak lain adalah untuk reproduksi dan regenerasi. Reproduksi berhubungan dengan proses hubungan seksual yang intens sehingga terjadi pembuahan dan muncullah anggota keluarga baru. Dan, dengan adanya anggota keluarga baru, berarti penerus silsilah telah hadir di tengah-tengah keluarga batih.

3.   Pencipta dasar kehidupan sosial dan ekonomis bagi si kecil

Kehidupan sosial seorang anak bergantung pada bagaimana cara orang tua memberikan contoh melakukan interaksi interpersonal di dalam keluarga. Selain itu, seorang anak yang lahir dalam keluarga dengan status ekonomi tertentu akan mengikuti status ekonomi keluarganya.

4.   Sebagai tempat berlindung

Seorang anak yang masih belum matang secara psikis merindukan tempat kembali saat sedang dirundung masalah dengan teman-temanannya. Mereka ingin berlindung pada ibunda atau ayahanda tercinta, ingin ada yang merasakan penderitaannya dan memberikan solusi untuknya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *