Info Kesehatan: Ulasan Ilmiah tentang Tantrum dan 8 Trik Menghadapinya

Posted on

Info kesehatan

Info Kesehatan Ulasan Ilmiah tentang Tantrum dan 8 Trik Menghadapinya

Sekilas tentang Tantrum

Parents melihat si kecil fine-fine saja saat bersama dengan teman dan orang lain?. Sebaliknya, saat bersama Anda mereka menunjukkan sikap yang ekstrim, seperti berteriak, memukul, membanting benda-benda, dst. Ini adalah indikasi tantrum.

Berdasarkan info kesehatan, tantrum umumnya terjadi saat anak berusia antara 1 sampai 4 tahun. Adapun indikasi yang ditunjukkan berbeda-beda. Diantaranya adalah memukul, menendang, menghentak-hentakkan kaki, berteriak, dan membuang barang-barang seenaknya.

Anak-anak dengan rentang usia diatas setidaknya pernah sekali atau beberapa kali mengalami tantrum setiap minggunya. Kenapa tantrum terjadi? Karena si kecil sedang frustasi. Mereka sedang mencari solusi bagaimana meluapkan rasa frustasinya kepada Parents dan kesal dengan kekurangannya untuk mengontrol diri sendiri. Jika tantrum terjadi satu-dua kali dalam seminggu, itu adalah hal yang wajar. Lebih dari itu, cari tau penyebab dan solusinya dari info kesehatan yang kredible.

Umumnya, tantrum terjadi pada anak-anak hiperaktif, anak-anak yang moody, dan yang kurang mampu beradaptasi dengan lingkungan baru. Bagi si kecil, tantrum adalah trik mencari solusi atas rasa frustasinya dan sebagai cara agar dia mendapatkan respon Parents. Sebisa mungkin hindari penyebab tantrum seperti kecapekan, lapar, dan saat dimana anak tidak tidak toleran dengan orang lain. Gejala tantrum muncul saat anak ingin mendapatkan apa yang diinginkan dengan cara menarik perhatian orang tua dengan ilustrasi seperti ini;

Kalau aku teriak kira-kira Mommy mau beliin aku mobil-mobilan nggak ya. Lalu berteriaklah mereka dengan kencang. Parents panik dan solusi cepat agar berhenti tantrum adalah dengan mengabulkan keinginannya. Ini bukan cara yang tepat.

Kenapa Anak Alami Tantrum?

Sebagai Parents—apalagi jika ini adalah pengalaman pertama hadapi anak tantrum, tentu akan membuat frustasi. Setiap hari kita mendengar lengkingan suara yang nyaring, tangisan yang tidak henti-hentinya, pukulan, tendangan, dan rumah menjadi sangat berantakan karena aksi lempar-lempar barang yang dilakukan si kecil.

Well, anggap itu sebagai sirkus kecil yang ada di rumah. Terima fakta itu dan kita akan happy dengan kondisi yang unik tersebut. Plis, jangan jadikan beban layaknya bahaya yang sedang menyerang. Mari kita menjadikannya sebagai kesempatan untuk mengedukasi si kecil dan cara kita meningkatkan kualitas parenting sebagai orang tua.

Parents mungkin bertanya-tanya, kenapa si kecil mendadak tantrum saat memasuki usia 1 sampai 4 tahun, padahal rentang usia 0 sampai 12 bulan mereka fine-fine saja?

Berdasarkan riset, tantrum terjadi karena si kecil sedang frustasi. Tidak hanya orang tua yang mengalami frustasi karena banyaknya pekerjaan. Si kecil pun alami hal yang sama. Ini dilakukan karena mereka lelah dan putus asa sebab tidak mampu mengkomunikasikan apa yang mereka inginkan.

Tantrum terjadi karena anak-anak tidak nyaman, lapar dan tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tantrum adalah cara anak mencari solusi dalam kondisi yang terbatas. Tahun kedua adalah tahun dimana skill berbahasa anak mulai berkembang. Anak-anak tidak bisa menyampaikan secara verbal apa yang mereka inginkan dan orang tuapun gagal memahami keinginan anak. Pada kondisi ini anak-anak merasa frustasi. Seiring berkembangnya kemampuan berbahasa si kecil, kecenderungan untuk tantrum semakin menurun.

Anak-anak ingin tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan superior. Namun secara fisik dan psikis mereka belum memiliki kapasitas untuk melakukan itu. Sewaktu mereka tau bahwa mereka belum benar-benar mampu melakukannya, atau mereka tidak bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka otomatis akan mengalami tantrum.

Cara Praktis Atasi Tantrum

Info kesehatan mengenai cara praktis atasi tantrum ini bisa Parents jadikan referensi;

1. Berikan Perhatian yang Positif

Tunjukkan perhatian yang tulus kepada si kecil. Pastikan Parents meng-transfer kesan positif kepadanya. Parents bisa berikan pujian pada apa yang mereka kerjakan. Berikan apresiasi dan perhatian pada tingkah laku positif anak.

2. Berikan Pilihan pada Anak untuk Hal-hal yang Kecil

Seorang anak cenderung didominasi keinginan yang meledak-ledak. Itu tidak diimbangi dengan cara pikir yang logis. Mereka sangat senang jika diberi kebebasan untuk memilih apa yang harus mereka lakukan. Parents bisa memberikan clue dengan memberikan pertanyaan:

Adek mau gosok gigi sebelum atau setelah mandi? Atau, Adik mau minum jus apel atau jus jeruk?

Hindari kebiasaan memberikan kebebasan sepenuhnya pada anak seperti dengan mengatakan;

Adek mau gosok gigi nggak? Otomatis mereka akan menjawab dengan kata TIDAK.

Pemberian clue ini memberikan kesempatan pada anak untuk memilih apa yang disenangi dibandingkan dengan yang tidak disenangi. Selain itu, terbersit kesan bahwa Anda sedang memberikan otoritas kepada si kecil atas apa yang mereka inginkan dan yang tidak .

3. Menjaga Anak agar Tidak Menjangkau Obyek Yang Diinginkan dan Membahayakan

Tidak semua obyek aman bagi anak. Info kesehatan ini penting untuk parents perhatikan karena seringkali kecerobohan kita sebagai orang tua berdampak negatif pada anak. Tipikal anak tantrum, ketika memiliki keinginan untuk menjangkau, atau untuk memiliki sesuatu, mereka akan berupaya memilikinya dengan teknik tersendiri khas anak tantrum.

Biasanya, ini terjadi karena adanya stimulus visual yakni karena mereka telah melihat obyek yang diinginkannya itu. Sebut saja pisau. Pisau adalah benda yang membahayakan, namun seringkali kita sembarangan menaruhnya. Pertimbangkan apa saja obyek berbahaya itu dan letakkan di kejauhan yang tidak dijangkau anak-anak.

4. Ciptakan Lingkungan yang Variatif

Saat anak sedang cope dengan kita, usahakan untuk mengalihkan perhatiannya pada lingkungan dan lokasi yang baru. Ajak anak keluar atau berpindah ke tempat baru. Mulai aktivitas yang baru di tempat yang baru saat anak sedang mengalami frustasi atau sedang tantrum.

5. Bantu Anak Mempelajari Hal Baru

Info Kesehatan Ulasan Ilmiah tentang Tantrum dan 8 Trik Menghadapinya2

Buat target dan  bantu mereka mencapainya. Saat anak mampu melakukannya, berikan apresiasi berupa pujian sehingga anak-anak merasa bangga pada skill baru yang mereka miliki. Jika dirasa target yang Parents harapkan cukup berat dan menantang, pastikan anak merasa nyaman dengan proses peralihan menuju aktivitas yang menantang itu. Coba mulai dengan bagian yang paling simple terlebih dahulu.

6. Pahami Batasan Anak

Saat anak sedang lelah, jangan mengajaknya beraktivitas. Biarkan mereka istirahat dan tunda jadwal jalan-jalan lain waktu. Atau, jangan sampai anak-anak sampai pada batas laparnya. Jika sudah jamnya makan dan ada indikasi anak-anak mulai lapar, segera suapi mereka atau biarkan mereka makan sendiri untuk menghindari potensi tantrum.

7. Pertimbangkan dengan Matang saat Anak Menginginkan Sesuatu

Apakah parents yang bijak harus memenuhi semua permintaan anak? Tentu tidak demikian. Anda bisa pertimbangkan dengan matang apakah keinginan tersebut baik untuk diri anak dan lingkungannya atau tidak. Saat keinginan anak sedang tidak sejalan dengan kita, Anda bisa meng-filter itu dan perlu sedikit usaha untuk memahamkan anak bahwa apa yang diinginkan bukan yang terbaik untuknya. Sedikit berisiko memang tapi itulah yang harus Parents lakukan.

8. Selektif Memilih Makanan Yang Dikonsumsi Anak-anak

Makanan cukup berpengaruh pada kondisi anak tantrum. Konsultasikan makanan apa saja yang sebaiknya di konsumsi dan yang harus dihindari. Parents bisa tanyakan info kesehatan ini kepada dokter keluarga yang mengetahui level parah tidaknya tantrum anak dan menyarankan apa saja makanan dan minuman yang cocok. Adapun makanan yang sebaiknya dikonsumsi anak tantrum adalah:

  • Makanan berbahan dasar gandum

Ada banyak manfaat gandum. Riset membuktikan bahwa energi yang ada dalam gandum lepas secara perlahan. Ini berpengaruh pada aktivitas fisik anak yang smooth, tidak terlalu aktif sehingga si kecil tidak cepat lapar. Kondisi batasan ini berpotensi sebabkan anak tantrum.

Adapun manfaat lain gandum adalah meningkatkan asam glutamat dalam otak yang berperan penting dalam mengurangi rasa khawatir. Parents bisa tambahkan menu pemanis alami seperti buah strowberry atau kismis. Jadikan bubur gandum sebagai makanan pokok si kecil agar energi yang dimilikinya lebih terkontrol.

  • Daging Sapi dan Domba

Info kesehatan mengenai manfaat ASI banyak dikupas dalam science. Parents khususnya ibu yang sibuk dengan karir, atau secara alamiah tidak bisa memproduksi banyak ASI cenderung menggantinya dengan susu sapi atau susu kambing. Akibatnya, nutrisi berupa zat besi, vitamin dan mineral yang ada di dalam ASI tidak terpenuhi dengan baik sehingga konsentrasi anak menurun.

Sebagai gantinya, berikan mereka makanan yang menambah kebutuhan energi itu. Seperti dengan banyak mengonsumsi daging sapi dan daging domba cincang untuk lauk sarapan pagi si kecil. Tambahkan menu kacang merah dan daging unggas yang warnanya gelap agar si kecil lebih tangkas dan lebih cepat mengerti.

  • Kalkun

Memiliki anak balita membutuhkan tenaga ekstra, utamanya saat anak tersebut sering tantrum dan sulit tidur di malam hari. Ini berpengaruh pada kondisi kesehatan Bunda yang harus stand by menjaga si kecil sepanjang siang dan malam dengan sedikit sekali waktu untuk istirahat.

Parents mengalami masalah tersebut dimana saat malam hari si kecil lebih lama terjaga? Info kesehatan ini akan cukup membantu. Parents bisa tambahkan menu makanan daging kalkun sebagai jalan keluar.

Nutrisi penting dalam daging unggas adalah asam amino yang efektif meningkatkan produksi hormon serotonin. Hormon ini mempengaruhi mood anak dan meningkatkan rasa bahagia. Anak yang bahagia akan lebih mudah mengantuk dan lebih nyenyak tidurnya. Tidak hanya anak-anak, sepertinya parents pun merasakan hal yang sama.

  • Cukupi Kebutuhan Mineral si Kecil

Penting bagi Parents untuk memastikan apakah kebutuhan mineral si kecil terpenuhi sepanjang hari. Riset membuktikan bahwa si kecil yang tercukupi kebutuhan mineralnya cenderung bertingkah lebih baik sebab tubuhnya sedang dalam kondisi nyaman.

Berikan cukup air, atau susu untuk memenuhi cairan tubuh si kecil. Selain itu, sesekali berikan air kelapa yang kaya akan kalsium sebagai selingan untuk meningkatkan kadar mineral tubuh anak.

Tantrum adalah kondisi dimana anak sedang frustasi dengan dirinya sendiri dan dengan kita yang sedikit bingung mendeskripsikan apa kemauan anak. Tantrum adalah bagian dari fase pertumbuhan kemampuan bahasa anak yang ditunjukkan dengan indikasi yang sedikit ekstrim.

Tantrum pada anak adalah hal yang wajar. Namun, sebaiknya kita sebagai orang tua berusaha mendapatkan info kesehatan mengenai cara hadapi anak tantrum dan menerapkannya. Jika dibiarkan, kebiasaan itu akan berlanjut hingga dewasa dan tidak baik untuk pertumbuhan anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.