Ibu dan bayi: Ibu Lebih Tanggap Saat Baby Menangis, Kenapa? Ini Alasannya!

Posted on

Ibu dan bayi

Ibu dan bayi Ibu Lebih Sensitif Saat Baby Menangis, Kenapa Ini Kata Riset!

Saat sedang hamil, banyak ibu (utamanya yang hamil kali pertama) khawatir bagaimana jika sudah lahir, si baby menangis tetapi kedua orang tuanya tertidur lelap. Bisa kita bayangkan bagaimana jadinya jika si kecil terisak sampai sesak menunggu orang tuanya terbangun. Praise be to Alloh, dalam tangisan bayi terselip alarm alami yang otomatis membangunkan ibu saat si kecil menangis.

Tangisan bayi tidaklah sama dengan alarm. Jika saat alarm berbunyi kita masih tidur nyenyak, lain halnya dengan tangisan bayi yang secara alamiah mampu membangunkan kita dalam waktu singkat. Artikel tentang ibu dan bayi kali ini akan menjawab keingintahuan Anda tentang bagaimana hubungan antara respond ibu dan bayi saat sedang menangis.

Hingga kini, ilmu pengetahuan terus menggali bagaimana hubungan antara ibu dan bayi saat sedang menangis. Di seluruh dunia, saat bayi menangis, ibu menunjukkan respon yang sama baik dalam bentuk tingkah laku maupun aktivitas otaknya. Hal tersebut diungkapkan oleh Proceeding of National Academy of Sciences.

Penelitian terbaru dengan obyek ibu muda dari 11 negara menginformasikan bahwa, respon yang mereka tunjukkan saat si kecil menangis adalah dengan menggendongnya, dan bicara pada bayi mungilnya bahwa mereka mendengar isakan si kecil. Pada saat tersebut, riset menunjukkan adanya aktivitas di bagian otak ibu yang bertanggungjawab pada perawatan, pergerakan yang dilakukan, dan obrolan yang ditujukan pada si kecil.

Marc Bornstein, peneliti anak dan keluarga menyatakan hubungan antara otak dan tingkah laku ibu saat merespon anak yang sedang menangis masuk dalam lingkup pembahasan neuroscience. Lebih jelasnya lagi,  berikut fakta ibu dan bayi terkait hubungan antara respon otak dan tingkah laku ibu dengan stimulus berupa tangisan si kecil.

Ibu Merespond Baby yang Sedang Menangis Hanya Dalam Waktu 5 Detik

Sehubungan dengan respond ibu dan bayi saat menangis, Bornstein menyatakan bahwa cara menghadapi bayi yang sedang menangis adalah pertanyaan yang paling banyak ditanyakan dan dibahas khususnya oleh para orang tua pemula. Berdasarkan riset, tangisan bayi adalah pertanda bahwa bayi tersebut lahir dalam kondisi sehat. Setelah bayi lahir, biasanya indikasi sehat dan tidaknya kondisi bayi adalah dari ada tidaknya tangisan.

Bornstein menambahkan, tangisan bayi mengundang perhatian orang dewasa, termasuk ibu dan ayahnya. Bedanya, ibu merespond tangisan dengan penuh empati dan perhatian, sedangkan yang lain lebih acuh dan bahkan ingin berbuat kasar pada si kecil. Bisa dikata, tangisan bayi adalah salah satu pemicu maltreatment.

Mempelajari dan memahami bagaimana ibu merespond tangisan bayi, baik dari sisi tingkah laku maupun otaknya, sebaiknya diwacanakan terhadap seluruh ibu yang ada di dunia. Peneliti berharap, para ibu memberikan respon yang normal terhadap bayinya saat menangis untuk mengurangi potensi kekerasan yang dilakukan ibu pada bayi.

Kaitannya dengan ini, penelitian lain dilakukan dengan total jumlah responden sebanyak 684 orang. Mereka adalah mama muda yang kali pertama memiliki anak dan dalam kondisi sehat. Responden tersebut berasal dari Argentina, Korea Selatan, Amerika, Jepang, Italia, Israel, Kenya, Prancis, Kamerun, Belgia dan Brazil.

Peneliti mencoba mengamati dan merekam bagaimana interaksi ibu dan bayi yang kira-kira berusia 5 bulan lebih saat sedang berada di rumah. Hasilnya, para mama muda dalam penelitian tersebut terbukti konsisten dalam memberikan responnya terhadap bayi yang sedang menangis. Bentuk respon yang diberikan adalah, rata-rata mereka akan menghampiri bayinya, mengambil dan mengendongnya, sambil berkata bahwa mereka (para ibu) mendengar tangisan si kecil (seolah ingin berkata tidak perlu cemas, ibu ada disini).

Penelitian serupa dilakukan di Amerika. Adapun respondennya adalah 43 mama muda dalam kondisi sehat. Disitu, diamati interaksi ibu dan bayi yang sedang menangis atau membuat kegaduhan. Penelitian yang sama juga dilakukan di Cina dengan responden mama muda sehat sebanyak 44 orang.

Dari kedua riset tersebut diketahui bahwa, mendengar bayi yang sedang menangis, mengaktifkan bagian otak ibu yang berhubungan dengan keinginan untuk bergerak, menggendong si kecil, dan berbicara dengannya. Ada interaksi ibu dan bayi dimana bayi memberikan stimulus tangisan (rangsangan audio) dan ibu menunjukkan respon berupa perhatian.

Robert Froemke seorang ahli neuroscience mengatakan, area otak yang dimaksud adalah bagian yang bertanggung jawab pada perencanaan dan kesiapan. Froemke menambahkan jika ada proses aktivasi yang tersebar luas di otak yang fokus pada rangsangan bunyi tangisan tersebut. Itulah kenapa tangisan bayi layaknya alarm bagi orang tuanya, dan ibu merespon tangisan tersebut dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari 5 detik.

Ada Perubahan yang Dinamis pada Otak Ibu Muda yang Baru Melahirkan

Kaitannya antara ibu dan bayi yang sedang menangis, Froemke menyebutkan adanya fungsi hormon oksitosin dalam hal ini. Hormon tersebut berperan penting dalam menjalin ikatan yang kuat antara ibu dan bayi.

Froemke mempelajari bagaimana cara hormon tersebut membentuk respon yang tepat saat bayi sedang menangis. Terbukti, hormon oksitosin berperan dalam mendorong ibu memberikan respon sesegera mungkin atas bayi yang sedang menangis. Kinerja hormon tersebut dibantu oleh substansi kimia lain yang ada pada otak.

Otak para ibu yang baru kali pertama melahirkan mengalami perubahan yang dinamis untuk mengatasi stres dan menjalani masa transisi menjadi seorang ibu.

Melahirkan secara Normal dan Menyusui Berdampak Pada Kuatnya Respon yang Diberikan Saat Bayi Menangis

Studi membuktikan, ibu yang melahirkan secara normal dan menyusui merespond tangisan anak dengan cepat. Salah satu alasannya ada pada hormon oksitosin. Menyusui berpengaruh pada tingginya jumlah hormon oksitosin pada otak dan tubuh ibu. Studi lain menyatakan adanya perbedaan kadar hormon oksitosin pada ibu yang melahirkan secara normal dan sesar.

Pilyoung Kim, asosiasi professor Psikologi di Universitas Denver menyatakan, saat ini riset sedang meneliti mengenai respon otak ibu terhadap tangisan bayi. Responden tersebut adalah ibu yang berasal dari wilayah dan budaya yang berbeda-beda.

Studi ini berupaya membuktikan bagaimana ibu merespon tangisan bayi yang sedang menangis, apakah budaya berpengaruh pada respon tersebut baik dari sisi aktivitas otak maupun tingkah laku ibu.

Balita Mampu Mengimajinasikan Suara yang Sederhana dengan Obyek-nya

Penelitian dilakukan untuk mempelajari kemampuan i kecil membaca emosi orang dewasa saat berada di dekatnya. Riset ini melibatkan 230 anak dengan rentang usia 1 sampai  tahun, dan 16 orang dewasa.

Dalam penelitian tersebut, anak dipandu untuk menyelesaikan beberapa soal. Soal itu terdiri dari hubungan antara suara dengan image atau obyek yang berhubungan dengan suara tersebut, misalkan “mmm” untuk makanan, “awww” untuk mainan, dan sebagainya.

Hasil riset menginformasikan, anak-anak yang berusia 2 tahun mampu membedakan antara ungkapan perasaan alamiah dengan ungkapan perasaan yang merupakan reaksi terhadap sebab tertentu.

Otak Ayah dan Ibu Memiliki Sensitivitas yang Berbeda saat Bayi Menangis

Penelitian yang dilakukan pada otak manusia menyatakan, otak ayah sering kali merespon saat bayi sedang menangis. Tetapi, subtansi kimia dalam otak tersebut sedikit berbeda dengan yang ibu miliki. Seperti yang Froemke katakan bahwa, hormon oksitosin tidak bereaksi dengan cepat saat si baby menangis. Lain halnya dengan respon yang diberikan oleh ibunya.

Ada perbedaan kepekaan hormon oksitosin yang dimiliki ayah dan ibu. Para ahli mengatakan bahwa, ada sesuatu tentang kehidupan ibu dan bayi yang berpengaruh pada meningkatnya jumlah hormon oksitosin pada ayah.

Penelitian yang dipublikasikan NeuroReport dengan obyek otak 18 laki-laki dan perempuan yang mendengarkan si kecil menangis menunjukkan bahwa, aktivitas otak wanita seketika sadar dan terbangun, sedangkan otak lelaki tidak ada perubahan saat mendengarkan tangisan bayi.

Dalam studi tersebut ditemukan bahwa perbedaan gender berpengaruh pada cara seseorang merespon suara bayi. Namun, banyak ayah yang berkata jika mereka tidak bisa tidur saat si kecil menangis.

Kaitannya dengan respond ibu dan bayi yang sedang menangis ini, Froemke menambahkan, tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa tangisan bayi menyebabkan gangguan yang membahayakan otak orang tua saat terbangun dari tidurnya.

Suara tangisan bayi menembus ke dalam otak ayah dan ibu. Suara tersebut mengetuk ke dalam sesuatu yang dalam dalam organ vital tersebut sehingga orang tua segera bangkit dari tidur yang nyenyak, beranjak dari tempat tidur dan memberi apa yang anak butuhkan. Anak-anak adalah alarm alami bagi ibu dan ayahnya. Meski orang tua tertidur lelap, namun ada koneksi batin yang terjalin antara ibu dan bayi dengan sinyal berupa tangisan.

Tangisan Anak Berpengaruh pada Kesadaran Ibu yang Berbeda dengan Bunyi Alarm

Ibu dan bayi Ibu Lebih Sensitif Saat Baby Menangis, Kenapa Ini Kata Riset!2

Ada cukup banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana tangisan bayi berpengaruh pada ibu sampai pada level fisiknya. Penelitian dilakukan pada tikus dengan menambahkan hormon oksitosin pada otak ibu tikus. Hormon tersebut berpengaruh pada cara seorang ibu bereaksi terhadap bayi yang sedang menangis, menyadarinya, dan memberikan respon yang tepat.

Hormon oksitosin memperkuat bagian cortex auditory dalam otak saat memproses tangisan bayi. Suara tangisan tersebut memberi kesan adanya sesuatu yang “darurat” dan harus segera ditangani. Reaksi fisiologis ini menjadi alasan orang tua merespon dengan cepat, dan menunjukkan tingkah laku yang sesuai saat si kecil menangis.

Saat bayi menangis, kita sebagai orang tua seringkali mencoba melakukan banyak hal yang prediktif, seperti mengganti popoknya, memberikan susu, mengusir nyamuk dan sebagainya yang mungkin akan menjadi respon yang tepat bagi si kecil.

Hubungan ibu dan bayi terjalin sejak dalam kandungan. Setelah lahir dengan fungsi fisik yang belum maksimal, bayi kerap kali menangis untuk menyuarakan sesuatu namun sulit untuk didefinisikan. Tangisan tersebut terjadi kapan saja termasuk saat kita sebagai orang tua sedang tertidur lelap. Jika kita tidak terbangun saat alarm berbunyi, beda lagi dengan saat mendengar tangisan si bayi yang seketika membuat kita tersadar dan memberikan respon yang tepat.

Tangisan bayi adalah stimulus alamiah agar orang tua tersadar dan bangun dari tidurnya. Koneksi ibu dan bayi tersebut tidak luput dari fungsi hormon oksitosin yang meningkat khususnya saat seorang ibu melahirkan dengan cara normal dan memberikan ASI eksklusif pada buah hatinya. Ini menjawab kekhawatiran seorang ibu mengenai bagaimana jika si kecil menangis sewaktu orang tuanya sedang tertidur lelap.

2 thoughts on “Ibu dan bayi: Ibu Lebih Tanggap Saat Baby Menangis, Kenapa? Ini Alasannya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.