Jalani Kehidupan Keluarga Materialistis? Hati-hati Dampak Buruknya Bagi Anak!

Posted on

Kehidupan Keluarga

Jalani kehidupan keluarga materialistis? hati-hati dampak buruknya bagi anak!

Kehidupan keluarga seperti apa gambarannya kelak, tergantung dari lifestyle yang Anda pilih dan Anda jalani sehari-harinya. Memang, lifestyle adalah pilihan pribadi masing-masing yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah materi, profesi, pemahaman agama, sekuleritas, dan sebagainya. Ya, ada banyak alasan yang mempengaruhi kehidupan keluarga yang dijalani.  Pilihan tersebut ada yang berdampak baik dan ada yang berdampak buruk bagi anak. Apa parameter baik dan buruk yang menjadi patokannya? Yaitu apakah kebiasaan (yang merupakan dampak dari lifestyle itu) seiring dengan tradisi yang ada di masyarakat, dan juga nilai-nilai agama yang dianut, atau justru sebaliknya.

Bicara kehidupan keluarga materialistis, tidak akan luput dari bahasan uang dan benda-benda sebagai tolok ukur kebahagiaan. Materilah yang berkuasa disini. Semakin banyak materi, semakin makmur hidup, dan semakin bahagia hari-hari yang dijalani. Cara pikir yang seperti ini umumnya tidak hanya diterapkan untuk diri sendiri, tetapi juga menjadi sudut pandang dalam melihat orang lain dan juga dalam mencari pasangan hidup. Lalu, apa dampak kehidupan keluarga materialistis bagi anak?

Anak adalah buah cinta orang tuanya. Mereka lahir laksana kertas kosong dimana Anda sebagai orang tua yang akan mewarnai bagaimana gambaran hidup anak kedepannya. Nasihat, perintah, larangan, sugesti, dan tauladan yang kita tunjukkan di depan anak menjadi referensi bagi si kecil untuk menjalani hari-harinya. Mereka akan mencontoh apa yang kita lakukan dan kita tunjukkan di hadapannya. Jika nafas dari kehidupan keluarga kita agamis, begitulah gambaran karakter anak ke depannya. Jika tauladan yang kita tunjukkan pada anak adalah tauladan materialistis, begitulah gambaran kehidupan anak ke depannya. Tidak heran bila dalam bahasa Jawa ada ungkapan “kacang ora ninggal lanjaran” yang berarti kebiasaan anak sangat mungkin dipengaruhi oleh kebiasaan keluarga dan faktor genetiknya. Ingin melihat bagaimana orang tua anak, maka lihatlah anaknya (meski ini tidak selalu).

Hidup materialistis memang enak, hidup materialistis penuh gengsi dan kenikmatan. Simpel sekali tujuan hidup dari tipikal pribadi yang materialistis, yaitu materi sebanyak-banyaknya sebagai sumber kebahagiaan. Padahal, manusia hidup tidak hanya menjadi pemeran dari satu lini kehidupan saja, tetapi banyak lini lain yang harus diperankan dengan baik, mulai dari agama, sosial masyarakat, politik, pendidikan, dan sebagainya dimana materi tidak selamanya cocok menjadi tolok ukur dalam semua lini tersebut. Ya, selain menjalani kewajiban untuk mencari nafkah yang berhubugan dengan materi, ada kewajiban lain yang ditanggung oleh setiap manusia, yaitu kewajiban untuk berbuat baik kepada sesama, kewajiban untuk meningkatkan ketaatan pada Tuhan, kewajiban untuk menerapkan nilai-nilai yang ada dalam agama dan masyarakat dengan baik.

Pada kesempatan kali ini, kita akan kupas pertanyaan “Apa dampak dari kehidupan keluarga materialistis bagi anak?”. Jika Anda bertanya, pentingkah untuk membahas topik ini? Tentu saja!. Catatan ini hadir sebagai pengingat bagi saya khususnya dan bagi pembaca umumnya agar nantinya bisa kita renungkan bersama bagaimana kiranya menjalani kehidupan keluarga yang ideal yang berpengrauh positif pada anak, tentunya tanpa melupakan nilai-nilai agama dan tradisi masyarakat sebagai patokan. Simak ya!

1.    Materi sebagai parameter

Materi memang dibutuhkan setiap harinya, mulai dari kebutuhan dasar, kesehatan, pendidikan, dan saving untuk kebutuhan masa depan. Itulah fungsi dasar materi yang setiap orang pasti memahaminya. Anak-anak yang setiap harinya hidup dalam gelimang materi, lahir dari orang tua yang berkecukupan dan memanjakan anak dengan materi setiap harinya, akan berpengaruh pada cara pandang anak dalam berinteraksi dengan dunia. Contoh real­­­­­-nya adalah, meski sama-sama sepatunya, sama-sama dipakai sebagai alas kaki saat sekolah, anak-anak cenderung menolak memakai sepatu yang tidak ber-merk, lantas yang bersangkutan meminta membeli di mall dengan harga yang mencapai jutaan rupiah. Karena apa? Karena sudah terbiasa sejak kecil. Begitupun saat anak memilih baju, yang mereka pertimbangkan adalah berapa harganya, dimana belinya, apa bahannya, bagaimana modelnya, dan seterusnya. Jika ini diterapkan untuk diri anak pribadi masih bisa dimaklumi, namun apa jadinya jika ini diterapkan untuk orang lain, dengan komenter pedas yang dilontarkan karena barang-barang yang dikenakan tidak berkelas? Tentu terasa membakar telinga sekali ucapannya.

2.   Boros dan hedon

Orang yang cerdik adalah mereka yang pandai mengontrol keinginannya. Ya, keinginan memang tidak ada batasnya, bahkan seisi dunia tidak akan mampu memenuhi keinginan manusia. Gaya hidup boros, gaya hidup hedon, hobby berfoya-foya karena sejak kecil telah hidup bergelimang materi adalah salah satu dampak dari kehidupan keluarga materialistis yang diterapkan orang tuanya. Anak-anak yang kemauannya tidak terkendali dan dibiarkan saja karena orang tuanya merasa mampu akan berdampak pada timbulnya karakter boros dan hedon pada diri anak. Tidak hanya saat ini saja saat orang tuanya masih berjaya, tetapi juga di kemudian hari. Saat keinginan anak tidak terpenuhi, dengan boros dan hedon menjadi pilihan gaya hidup, akan sangat sulit bagi anak untuk berdamai dengan dirinya sendiri khususnya saat dunia sudah berbalik arah, tidak mendukungnya secara material. Tidak kah kita ingat bahwa roda akan terus berputar?

3.    Gengsi

Nah, ini adalah salah satu musuh besar manusia, gengsi. Gengsi berhubungan dengan bagaimana menjaga image di depan manusia. Manusia yang mengedepankan gengsi akan berusaha habis-habisan bagaimana agar dirinya tidak terkalahkan di hadapan orang lain. Yang bersangkutan merasa gengsi jika tidak selevel dengan seleranya.

Sebut saja saat anak memilih teman, anak-anak ingin berkumpul dengan teman-teman yang secara materi sejajar dengan dirinya. Tidak mau memakai baju yang tidak bermerk, sepatu yang tidak bermerk, tas yang tidak merk, dst. Disini, barang-barang branded menjadi indikasi status sosial yang tinggi dan kesejahteraan materi. Mari kita balik bertanya pada diri, “jika sekarang kita masih bisa memenuhi kebutuhan material anak, bagaimana jika nanti sewaktu-waktu perekonomian keluarga berubah drastis, bisakah kita memenuhinya? Dan kira-kira apa yang akan dilakukan anak pada kita?

4.   Underestimate orang lain

Jalani kehidupan keluarga materialistis? hati-hati dampak buruknya bagi anak!2

Salah satu sifat alami manusia  adalah kecenderungan untuk berkumpul dengan orang yang terpandang dan merendahkan orang lain yang tidak sekelas dengannya. Semisal, anak kita memakai barang-barang branded, makan makanan yang enak di restoran ternama, dan naik mobil tajir milik Anda, lalu mereka apatis terhadap temannya yang memakai baju ala kadarnya, naik sepeda motor butut milik papanya, dan pakai sepatu yang tidak bermerk. Apakah karakter yang seperti ini bagus untuk perkembangan kepribadian anak? Tidak!. Tindakan underestimate yang dilakukan anak-anak bisa dalam bentuk bully an langsung, fisik, maupun pengasingan. Jangan sampai anak-anak kita bertingkah laku seperti ini karena kesalahan kita dalam menerapkan gaya hidup keluarga pada diri anak.

5.  Memilih yang sekelas

Tidak jauh berbeda dengan poin sebelumnya, ciri anak yang tinggal dalam kehidupan keluarga materialistis adalah memilih teman yang sekelas dengannya. Sekelas dari segi penampilan dan dari segi profesi orang tuanya yang sebenarnya belum waktunya bagi si kecil untuk membicarakan itu. Seseorang dikata sekelas jika memiliki kebiasaan yang sama, biasa mengunjungi tempat-tempat elite yang sama, dan membicarakan hal yang sama. Tidak ada permisi bagi mereka yang tidak sekelas dengannya.

6.   Sulit bergaul

Setelah sosialisasi primer yang dlakukan anak di dalam keluarga, (kira-kira sampai pada usia 5 tahun), anak-anak akan menjalani sosialisasi sekunder. Ini adalah sosialisasi yang dilakukan anak-anak dengan masyarakat sekitar. Saat berinteraksi di sekolah maupun di masyarakat, anak-anak akan bertemu dengan teman-temannya yang berbeda background. Ada yang berasal dari keluarga high class, low class, dan medium.

Nah, anak yang terbiasa tinggal dalam kehidupan keluarga materialistis dan terbiasa dengan gaya hidup materialistis, akan membuat teman-temanya segan untuk berkumpul dengannya, apalagi jika topic pembicaraannya melulu seputar materi. Anak-anak dengan karakter demikian sulit diterima karena ada karakter untuk ingin menjadi eksklusif di tengah teman-temannya. Mereka akan kesulitan bergaul dengan teman-teman lain yang berasal dari keluarga dengan didikan yang tidak demikian.

7.    Topic pembicaraan tidak lepas dari dunia benda

Dampak membahayakan dari kehidupan keluarga materialistis adalah saat anak-anak cenderung membicarakan benda-benda selama bergaul dengan teman-temannya. Misalkan, “Aku tadi belanja di Mall Kelapa Gading sama Mami, atau ayahku habis dari Singapore, aku dikasih oleh-oleh ini seharga 20 juta”, dst.

Bolehlah mengatakan itu sebagai wujud rasa syukur, Namun tidak ada yang menarik saat itu diucapkan oleh anak-anak yang seharusnya masih sibuk dengan materi sekolahnya dan bercanda bersama teman-temannya saat sedang bermain. Topic pembicaraan ini tidak lepas dari kebiasaan kehidupan keluarga yang materialistis yang merenggut keluguan dan kepolosannya sebagai anak. Alhasil, anak yang eksklusif ini lambat laun akan kena cap sombong juga dari teman-teman bermainnya.

8.   Membanggakan materi

Membanggakan diri karena merasa hidup makmur, hidup sejahtera, dengan materi orang tua yang melimpah adalah pengaruh yang tidak bisa dihindari dari kebiasaan hidup matre yang tidak terkendali. Ada sifat yang kurang disukai manusia lain saat yang bersangkutan sedang berinteraksi dengan orang lain, mungkin karena obrolan anak yang bersangkutan terkesan sombong, dan mungkin karena banyaknya obrolan materi yang membuat anak-anak yang lain jenuh mendengarkannya.

9.   Tidak mandiri

Anak matre dengan kekayaan orang tua yang melimpah berpotensi menimbulkan rasa manja pada anak.  Anak lebih banyak bergantung pada kekayaan orang tua yang pada dasarnya hal ini tidak baik untuk kehidupan masa depan anak. Sebagai orang tua, kita tidak bisa selamanya menyupply kebutuhan material anak. Ada saatnya fisik kita renta dan tabungan di bank habis karena bencana yang tidak bisa diprediksi. Dalam kondisi seperti ini anak akan terlunta-lunta karena tidak biasa dimandirikan dan tidak bisa bertanggung jawab pada dirinya sendiri.

Sebenarnya, sah-sah saja hidup enak dan berkelebihan materi, selama kita bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Jika kita terapkan kehidupan keluarga matrelialistis tanpa mengusik orang lain, tanpa berperilaku sombong, tanpa meremehkan, tanpa pilih-pilih teman bergaul (yang harus sesuai dengan kelasnya), tentu image negatif tidak akan tertuju pada kita dan juga anak-anak. Untuk itu, mari kita sertai perjalanan kehidupan keluarga kita dengan memperbanyak praktik ajaran-ajaran agama, memperbanyak praktik nilai-nilai kemanusiaan agar hubungan sosial tetap terjaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.