Harmoniskah Keluarga Kita? Cek Ciri Ciri Keluarga Harmonis Berikut Ini!

Posted on

Ciri Ciri Keluarga

harmoniskah keluarga kita? cek ciri ciri keluarga harmonis berikut ini

Ciri ciri keluarga harmonis tentunya tidak lepas dari karakter positif yang ada dalam sebuah keluarga. Kenapa demikian? Sebab kata “harmonis” disini adalah kata sifat yang konotasinya positif, senada dengan kata sejahtera, kata bahagia, kata makmur, kata sakinah, dan sebagainya. Saat keluarga tertentu disebut-sebut harmonis oleh keluarga lainnya, berarti ada kelebihan yang dimiliki oleh keluarga itu. Kelebihan ini adalah ciri ciri keluarga harmonis yang ingin dimiliki oleh setiap pasangan yang mendambakan kebahagiaan dalam rumah tangga.

Sebelum berbicara lebih jauh mengenai keluarga harmonis, mari kita definisikan apa arti kata “harmonis” itu sendiri?  dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “harmonis” berarti (sesuatu) yang berhubungan dengan “harmoni”/ seia sekata. Kata “harmonis” yang merupakan kata sifat ini jika diubah ke dalam bentuk kata kerja menjadi “mengharmoniskan”, dan jika diubah menjadi kata benda menjadi “pengharmonisan” dan “keharmonisan”.

Kata “mengharmoniskan” adalah kata kerja yang berarti disitu melibatkan adanya usaha menjadikan  harmonis. Bisa jadi sebelum ini keluarga kita belum harmonis, dan dengan usaha dan kekompakan antar anggota keluarga yang dilakukan secara konsisten, ciri ciri keluarga harmonis pun terwujud. Sedangkan kata “pengharmonisan” yang merupakan kata benda berarti proses untuk mengharmoniskan sesuatu yang muncul dalam tindakan yang nyata untuk mencapainya. Adapun hasil dari usaha keras untuk mencapai keluarga yang harmonis adalah “keharmonisan” yang berarti keadaan (keluarga) yang harmonis. Keharmonisan disini identik dengan keserasian, dan keselarasan.

Kenapa saya pribadi merasa perlu untuk mengurai kata “harmonis” dari sisi bentukan linguistic-nya? Yang ingin saya tekankan disini adalah bahwa keluarga harmonis bukan gift layaknya silsilah dan orang tua yang tidak bisa kita pilih sendiri. Namun untuk menuju keluarga harmonis, ada effort yang sebaiknya dilakukan. Dengan cara apa? Salah satunya dengan membaca referensi mengenai ciri ciri keluarga harmonis, lalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan cara masing-masing. Keluarga harmonis bagi saya pribadi adalah keharusan (saya rasa ini adalah harapan setiap pasangan) . Untuk alasan itu, mari kita ciptakan keluarga harmonis dengan menerapkan ciri ciri keluarga harmonis berikut ini;

1.   Hubungan Ketuhanan yang Kuat

“Dan Tuhan lebih dekat daripada urat nadi”. Jika orang lain bisa dikelabuhi, Tuhan Maha Tahu, Tuhan Maha Merekam kejadian yang kita lakukan melalui tangan malaikat-malaikat-Nya. Tidak ada satupun yang luput dari pengawasan-Nya.

Dalam berkeluarga, apa yang paling kita harapkan? Ke-ridlo-an Tuhan. Tuhan yang ridlo pada keluarga akan melimpahkan kelapangan dada untuk selalu bersyukur dan bersabar atas segala liku-liku kehidupan yang dijalaninya. Yang perlu kita tekankan disini adalah bahwa keluarga harmonis tidak selamanya yang berkecukupan secara material, tetapi keluarga yang anggota keluarganya memiliki kelapangan hati, jiwa, dan pikiran. Berusaha lalu berserah diri, berupaya lalu bertawakkal kepada Tuhan yang Maha Mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang.

Anggota keluarga yang selalu “lari menuju Tuhannya” baik saat lapangnya maupun saat sempitnya akan  merasa lapang dadanya, merasa bahwa kerikil yang ada dalam keluarga tidak lain adalah ujian Tuhan untuk meningkatkan derajat hamba-Nya. Bersamaan dengan itu, keluarga yang harmonis akan tercapai selama semua yang terjadi, semua yang dialami, dikembalikan pada takdir Tuhan yang Maha Penyayang. Keimanan yang kuat ini merupakan pondasi agar keluarga tetap patuh pada nilai-nilai agama, dan tidak gampang bilang pisah karena ujian yang menerpa.

2.   Komunikasi Lancar

Ada ungkapan “silent is golden”, diam itu emas, dan emas itu berharga. Baiklah, diam menjadi berharga saat kita tempatkan pada konteks waktu dan tempat yang sesuai. Namun saat bersama orang terkasih, akankah hari-hari diliputi dengan keheningan semacam ini?

Ada banyak aspek yang perlu ditangani dalam keluarga. Aspek-aspek tersebut perlu diperbincangkan dengan pasangan. Pasangan kita meski adalah orang yang kita cintai dan mencintai kita, belum tentu memiliki kapasitas untuk membaca gesture dan isi hati kita tanpa kita mengucapkan sepatah katapun. Iya kalau interpretasi-nya benar, kalau salah?

Disini, pada konteks waktu dan tempat yang seperti ini, diam bukan lagi emas, tapi idealism diri untuk selalu diam levelnya lebih inferior daripada keharmonisan keluarga kita. Ya, keharmonisan keluarga kitalah yang superior, yang perlu kita perhatikan. Agar pasangan entah itu istri kita atau suami kita tidak “pening” sendiri memikirkan keluarga yang kita bangun bersama. Yuk, menjadi dewasa dengan tahu kapan harus diam dan kapan harus sharing bersama pasangan.

3.   Pengertian

Kata pengertian mengingatkan saya pada sesuatu yang utopis, memang begitu adanya namun inilah ciri ciri keluarga harmonis. Dalam keluarga yang harmonis, ada konsep konsep utopis yang perlu direalisasikan. Tidak hanya dalam bentuk ungkapan kata semata, namun ada usaha real untuk melakukannya.

Pasangan yang pengertian paham akan karakter suami atau istrinya. Apakah koleris, melancolis, sanguinis, ataukah pragmatis. Selain itu, pasangan yang saling pengertian tau kapan waktu ngajak ngobrol yang pas, kapan harus diam, kapan sebaiknya mengalah, dan kapan sebaiknya menasihati.

Seumpama konsep oposisi biner, saat pasangan sikapnya sedang up, maka pasangan yang lain mengambil sikap down. Kalau sikapnya up keduanya, konflik pun pecah, dan imbasnya pada anak-anak. Penting bagi pasangan masing-masing untuk tahu apa yang membuat pasangannya bahagia dan apa yang membuatnya marah. Mari kita hindari penyebab kemarahan pasangan agar suasana keluarga tidak panas, dan mari sesekali kita membuat mereka bahagia di tengah-tengah kesibukannya dengan memberikan kejutan.

Pasangan atau pribadi yang pengertian, adalah ciri dari pribadi yang dewasa. Kenapa demikian? Karena kita (pribadi) yang mencoba mengerti orang lain sebenarnya sedang berusaha untuk berdamai dengan ego diri. Semisal begini, saat saya dalam hati ingin sekali menanyakan kapan si ayah akan mengajak liburan, namun kondisi ayah sedang lelah, saya memilih mengurungkan niat saya untuk bertanya. Padahal, di benak ini pertanyaan itu sudah mau ambrol saja.

Bagi saya pribadi tentu ini sangat berat. Beratnya dimana? Saya  harus menekan ego untuk bertanya karena melihat konteks keadaan yang kurang mendukung. Jika saja saya bertanya pada saat itu juga, mungkin konflik akan terjadi, dan mungkin pasangan akan bilang “kita ngobrolin itu, nanti aja ya (sambil males). Puaskah saya dengan jawaban itu, tidak! Saya justru galau dengan jawaban yang terkesan cuek dan ogah. Nah, disinilah fungsi pengertian, agar kita dan pasangan secara batin tidak saling menyakiti, hanya perlu pengendalian diri.

4.   Realistis

harmoniskah keluarga kita? cek ciri ciri keluarga harmonis berikut ini 2

Ciri ciri keluarga harmonis tidak lepas dari sikap realistis yang dimiliki oleh pasangan masing-masing. Ungkapan yang tepat untuk mewakili ciri ciri keluarga harmonis yang satu ini adalah talk less do more. Sedikit bicara dan perbanyak aksinya.

Berkeluarga tidak sekedar berkasih-kasihan, dan bersayang-sayangan. Ada hak, ada kewajiban,  dan ada tanggung jawab yang harus dijalankan antar anggota keluarga. Keterpenuhan hak, tanggung jawab dan kewajiban inilah yang akan mengoptimalkan aspek-aspek dalam keluarga, seperti pendidikan anak, kesehatan, interaksi sosial, hiburan, dan sebagainya.

Aspek-aspek tersebut nyata adanya. Saat ada problem tidak hanya di cover dengan pernyataan cinta kasih semata, namun ada usaha nyata untuk mengatasinya. Jika ciri ciri keluarga harmonis yang satu ini tidak terpenuhi, besar kemungkinan keluarga akan dirundung konflik karena kewajiban, hak dan tanggung jawab tidak berjalan sesuai harapan. Setelah menikah, realistis adalah cara yang dewasa mencintai pasangan dan keluarga yang paling nyata.

5.   Perekonomian yang Mencukupi

Ibadah, keterpenuhan kasih sayang, dan moral yang dibangun dengan baik dalam keluarga akan lebih sempurna dengan keterpenuhan materi sebagai penyeimbangnya. Fokus melulu pada materi memang bukan tanda-tanda pribadi yang bijak dan dewasa (bahkan jika diiringi dengan kelalaian dalam menghamba pada- Nya). Namun, yang perlu digarisbawahi disini adalah aspek aspek kehidupan yang kita jalani setiap hari membutuhkan materi yang cukup.

Sehari-harinya, ada kebutuhan untuk belanja, pendidikan anak, akomodasi, transportasi, kebutuhan sekunder dan juga pemenuhan kebutuhan tersier, perlu materi yang cukup untuk mendapatkannya. Jika tidak, rumah tangga rawan konflik. Dan jika sudah konflik, harmoniskah rumah tangga?

Memang, parameter  antara satu orang dan orang yang lain mengenai pemenuhan materi berbeda-beda. Ada yang merasa cukup dengan gaji suami 2 juta, dan ada yang merasa kurang dan bahkan mengajukan gugatan cerai karena suami katanya hanya bergaji 10 juta. Untuk itu, selain pemenuhan materi, ada kualifikasi lain yang sebaiknya kita sertakan disini, yaitu pandai-pandai bersyukur dan bersabar. Jika pasangan tidak bekerja sebagai istri kita berhak meminta nafkah lahir, namun jika sudah berusaha dengan maksimal namun hasilnya masih stagnan, mari kita tingkatkan penghambaan kepada Tuhan, dan memperbanyak syukur agar yang terasa sempit di dada menjadi lapang dan mudah. Rasa syukur yang dipacu setiap waktu selain membantu mendatangkan rejeki dari arah yang tidak terduga, juga menjadikan diri lebih selektif dalam memilah mana kebutuhan yang penting dan mana yang bisa ditunda untuk agenda selanjutnya.

6.   Saling support

Keluarga adalah tempat kembali. Seringkali orang memilih pasangan karena background-nya sama, entah itu dari segi pendidikan, agama, keluarga, dan sebagainya. Logikanya, pasangan yang memiliki background yang sama akan lebih mudah memahami kemauan dan tujuan masing-masing. Visi misi nya searah dan saling mendukung untuk mencapai tujuannya. Support dari orang tercinta adalah spirit yang akan mempercepat laju perjalanan pasangan untuk sampai di tujuan yang diinginkan.

Meski secara background pendidikan, karier dan keluarga tidak sama misalnya, kita tetap bisa memberikan support pada pasangan masing-masing, dengan pertimbangan kebahagiaan yang akan diperoleh pasangan saat sampai pada tujuan mereka. Kebahagiaan pasangan adalah kebahagian kita juga. Dukungan verbal maupun dukungan dalam bentuk tingkah laku yang kita berikan memberikan suntikan semangat dan merasa bahwa kita perduli dan perhatian pada mereka.

7.   Cinta dan Kasih Sayang Utuh

Cinta dan kasih sayang adalah landasan dasar kedamaian dalam rumah tangga setelah ibadah yang tidak pernah ditinggalkan. Cinta dan kasih sayang yang kita miliki pada anak dan pasangan akan mencegah diri dari keinginan untuk berbuat tidak baik entah itu secara verbal maupun  dalam bentuk tingkah laku. Saat kita menyakiti mereka, terasa bahwa kita sedang menyakiti diri kita sendiri.

Jika ketujuh ciri ciri keluarga harmonis diatas ada dalam keluarga Anda, mari kita tingkatkan kualitas keluarga yang seperti ini sekarang dan di hari-hari kemudian. Sudah harmoniskah keluarga kita?

2 thoughts on “Harmoniskah Keluarga Kita? Cek Ciri Ciri Keluarga Harmonis Berikut Ini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.