Budaya Kerja: Begini Cara Tingkatkan Budaya Kerja yang Baik di Perusahaan Anda!

Posted on

Budaya Kerja

Budaya Kerja Begini Cara Tingkatkan Budaya Kerja yang Baik di Perusahaan Anda

Dalam dunia kerja, produktivitas pekerja salah satunya ditentukan oleh budaya kerja yang di bangun dalam instansi yang bersangkutan. Budaya kerja yang baik membantu meningkatkan produktivitas, etika dan moralitas yang baik, serta memastikan bahwa yang terlibat di dalam lingkungan kerja tersebut memiliki skill yang mumpuni.

Yup, pada dasarnya pembentukan budaya kerja yang baik bertujuan untuk merangsang kebiasaan yang baik dengan hasil yang baik pula bagi perusahaan. Sebaliknya, budaya kerja yang buruk memberikan dampak negatif bagi perusahaan yang mencakup keseluruhan elemen.

Untuk memastikan bahwa lingkungan kerja Anda beroperasi dengan  baik dan seluruh karyawan merasa nyaman berada di lingkungan kerja tersebut, berikut cara efektif tingkatkan budaya kerja positif di instansi yang Anda pimpin.

1. Buatlah Visi Perusahaan yang Jelas

Bagi para owner perusahaan, sebelum Anda memberikan informasi secara mendetail tentang aturan kerja di perusahaan Anda, hal penting yang harus Anda sampaikan kepada para staf adalah visi perusahaan.

Anda perlu memberikan pengarahan khusus kepada pekerja mengenai apa misi perusahaan yang ingin Anda capai. Perlu adanya penyadaran kepada seluruh karyawan bahwa mereka memiliki visi yang sama di lingkungan kerja tersebut seperti apa yang sudah Anda cita-citakan.

Visi berkaitan dengan kemana arah perusahaan Anda, apa tujuan perusahaan di masa mendatang, dan bagaimana agar dengan visi yang Anda sampaikan itu, para pekerja  bisa tepat dalam melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan dengan menjalankan etos kerja yang baik.

Bisa dikata, visi yang ingin Anda tuju selaku owner perusahaan adalah dasar dari segala aktivitas yang ada di instansi itu. Arah dan tujuan pergerakan yang dinamis dan kontinyu dalam perusahaan adalah menuju ke visi yang Anda rancang selaku atasan.

2. Selektif Memilih Worker

Dalam memilih pekerja, tugas Anda adalah memilih pekerja dengan etika dan etos kerja yang baik. Di awal pertemuan, yaitu saat interview, Anda bisa mengamati apakah yang bersangkutan memiliki etika yang baik dari gesture dan caranya berbicara. Utamakan staf yang murah senyum agar tampak lebih ramah. Staf yang memiliki sikap yang kurang baik mudah sekali meracuni staf yang lain sehingga lingkungan kerja menjadi tidak kondusif.

Ajukan pertanyaan seperti bagaimana cara mereka mengatasi konflik dan bagaimana cara mereka berinteraksi dengan orang lain. Ini akan memberikan gambaran kepada Anda akan tipikal karakter pribadi yang bersangkutan. Apakah mereka adalah pribadi yang di inginkan oleh perusahaan ataukah bukan.

Jika Anda mengamati adanya pribadi yang memiliki sikap kurang baik, cobalah untuk mengajaknya komunikasi empat mata dan pahamkan bahwa yang bersangkutan harus mendukung visi misi perusahaan dengan membiasakan budaya kerja yang baik. Anda perlu memberikan ketegasan kepada yang bersangkutan, bahwa hal-hal negatif itu tidak mendapatkan toleransi dan akan di tindak secara tegas, salah satunya dengan cara dikeluarkan.

3. Membuat Kebijakan yang Demokratis

Dulu, saat kita kecil dan di didik oleh tipikal orang tua yang otoriter kita akan mengeluh ah mami-papi nggak asyik. Saat sedang di rumah dengan begitu banyak perintah dan larangan yang disampaikan terus-menerus, rasanya kita ingin keluar saja. Begitupun saat di tempat kerja kita menghadapi tipikal atasan yang otoriter, kita akan mengeluh ah si bos nggak asyik.

Otoriter di satu sisi memang bagus. Saat setiap orang lamban dalam mengambil keputusan, dibutuhkan sosok yang otoriter dan tangkas agar dinamika kerja berjalan lebih cepat. Sikap otoriter tersebut kaitannya dengan pembuatan kebijakan agar aktivitas berjalan dengan lancar. Memang, tanpa adanya pembuat kebijakan, instansi akan lambat kemajuannya.

Pertanyaannya, kebijakan yang bagaimanakah yang seharusnya di terapkan di dalam lingkungan kerja? Kebijakan yang sepihak, tanpa memperhatikan dampaknya pada karyawan tentu bukan sesuatu yang bagus bagi staf. Kebijakan tersebut haruslah di koordinasikan dengan staf sehingga muncul proses negosiasi dan rasa nyaman di kedua belah pihak.

Big bos yang murni otoriter memutuskan sesuatu dengan sepihak, dan berjarak dengan stafnya. Sifat dari keputusannya tidak bisa di ganggu gugat. Akibatnya, staf merasa tidak nyaman dan merasa bahwa Anda semena-mena. Mereka merasa opini mereka tidak di dengar. Budaya kerja yang demikian tentunya rawan tekanan.

Buatlah kebijakan dengan terlebih dahulu bertanya pada staf tentang apa pendapat mereka. Tanya dan dengarkan masukan dari setiap staf. Pertimbangkan baik-baik dan tutup diskusi tersebut dengan tenang, berkesimpulan, dan tanpa konflik. Otoritas yang demokratis seperti ini menjadi penyeimbang bagi Anda yang ingin menjalankan kewajiban tanpa mengabaikan hak sebagai big bos di instansi yang Anda pimpin.

Budaya kerja yang demikian, memunculkan kebiasaan mengambil dan memberi. Sebagai atasan, Anda mengambil pendapat yang baik yang disampaikan oleh para staf, dan sebagai atasan yang punya otoritas dan tentunya lebih berpengalaman, Anda memberikan wawasan dan terobosan baru yang Anda rancang itu untuk kemajuan bersama. Anda sebagai big bos, bukanlah orang yang berada di luar tim, tetapi include dalam tim tersebut untuk mencapai tujuan yang Anda maksud.

4. Sharing Kabar Terbaru Mengenai Perusahaan

Staf bukan robot. Staf juga bukan mesin yang tidak melibatkan perasaan saat bekerja. Ada rasa ingin tau, ada rasa ingin di apresiasi, dan ada rasa ingin dihargai. Salah satunya bisa Anda wujudkan dengan melibatkan staf dalam informasi progress perusahaan yang dikelola.

Kemajuan atau kemunduran perusahaan, serta event-event penting terkait perusahaan sebaiknya di ketahui oleh staf. Mereka semua terlibat dalam lingkaran bisnis itu. Siapa tau dengan sharing tersebut ada rasa tergerak dalam hati untuk memaksimalkan kemampuan agar perusahaan semakin maju.

Pun demikian, saat ada progres yang signifikan yang Anda sampaikan kepada staf, mereka akan merasa tersanjung dan dihargai karena mereka terlibat dalam lingkaran bisnis itu. Selalu up date informasi terbaru dengan karyawan untuk membangun budaya kerja yang lebih nyaman.

5. Berikan Apresiasi

Tidak hanya anak kecil saja yang bahagia saat mendapatkan hadiah. Namun para staf yang Anda pimpin pun merasakan hal yang sama. Melakukan pekerjaan lalu hasilnya di apresiasi tentu sangat membahagiakan. Setidaknya, bentuk apresiasi terkecil yang kita tunjukkan adalah dalam bentuk pujian.

Staf yang tinggal dalam lingkungan kerja yang tidak mudah menghargai orang lain, dan terlalu banyak kritik, merasa tidak nyaman dan ingin resign dari pekerjaannya itu. Berikan apresiasi paling tidak dalam bentuk pujian dan berikan reward sesuai dengan bagaimana kinerja staf yang bersangkutan.

Apresiasi dan reward memunculkan kompetisi sehat sehingga staf selalu berlomba untuk memperbaiki etos kerja. Dari hal kecil yang kita lakukan itu, bukan tidak mungkin produktivitas kerja akan meningkat dan progres perusahaan ke arah yang lebih baik akan kita capai.

Secara lebih detail, apresiasi yang bisa Anda tunjukkan kepada staf adalah dengan memberikan pujian kepada staf, atau dengan menghargai kedisiplinannya yang hadir tepat waktu dan tidak pernah bolos.

6. Seimbangkan Antara Kerja dan Kehidupan Pribadi

Budaya Kerja Begini Cara Tingkatkan Budaya Kerja yang Baik di Perusahaan Anda2

Sangat penting bagi Anda untuk membuat porsi yang seimbang antara bekerja dengan menjalani kehidupan pribadi. Sekali lagi, karyawan bukan mesin. Ada saatnya mereka harus fokus pada kewajiban yang di emban, dan ada saatnya mereka mendapatkan hak untuk bebas meski hanya sebentar.

Apa yang ada di dalam lingkungan kerja tersebut tidak semata hanya untuk bekerja, tetapi ada nuansa persaudaraan, nuansa perdamaian, dan nuansa kenyamanan yang dibangun. Akhirnya, staf yang memiliki kedekatan batin satu dengan yang lain akan merasa nyaman di dalam lingkungan itu.

Untuk membangun keakraban dan agar terlepas dari rasa jenuh dan bosan, sebagai atasan, Anda bisa menciptakan momen-momen santai bersama staf. Sebut saja dengan gathering bersama, menghabiskan waktu istirahat dengan makan bersama, sesekali mengadakan rekreasi bersama semua staf, dan sebagainya. Kedekatan ini secara tidak langsung berdampak pada produktivitas kerja staf yang berpengaruh pada hasil yang diperoleh perusahaan.

7. Mengadakan Training

Untuk meningkatkan kemampuan staf yang tujuan akhirnya adalah untuk mencapai visi dan misi perusahaan, sebagai atasan, Anda harus memberikan training yang tujuannya adalah untuk up grade kemampuan tersebut.

Kemampuan staf yang maksimal memberikan dampak positif bagi perusahaan. Adakan training yang bertujuan untuk meng-up grade soft skill dan hard skill para staf. Soft skill terwujud dalam bentuk skill interpersonal yang bagus yang berhubungan dengan etika dan moralitas saat berorganisasi. Sedangkan hard skill berhubungan dengan kemampuan teknis yang kaitannya dengan pekerjaan maisng-masing. Kombinasi antara soft skill dan hard skill yang bagus menjadikan staf yang tangguh baik dalam bekerja dan dalam berinteraksi dengan staf lain dalam satu tim tersebut.

8. Bangun Semangat Tim yang Kompak

Bekerja tidak hanya untuk mendapatkan pendapatan bulanan. Namun bekerja adalah sarana mendapatkan teman dan keluarga. Membangun chemistry dengan teman satu tim sangatlah penting. Itu bisa terbangun melalui interaksi yang intens dengan rekan kerja yang lain atau melalui program-program gathering yang direncanakan oleh atasan. Semangat tim yang kompak memberikan hasil terbaik pada setiap pekerjaan yang dijalankan.

9. Distribusi Job yang Jelas

Penting bagi Anda untuk memberikan job description yang jelas sebagai atasan. Buat job desc secara lengkap dan detail, lalu sampaikan kepada masing-masing staf baik secara tulis maupun lisan. Penyampaian secara lisan dan face to face penting untuk Anda berikan untuk meyakinkan diri bahwa job description tersebut telah benar dipahami.

Sebisa mungkin rancang job description secara rinci dengan tim ahli untuk memastikan bahwa job untuk staf tertentu sudah tercakup secara keseluruhan.

10. Menjadi Role Model yang Konsisten

Sebagai atasan yang membuat peraturan yang harus dipatuhi oleh masing-masing staf, Anda pun harus menjadi role model yang konsisten. Patuhi setiap peraturan yang Anda buat dan jadilah panutan bagi setiap staf. Dengan demikian, staf akan melihat bahwa Anda tidak hanya konseptor yang ulung tetapi juga praktisi yang keren. Bukan tidak mungkin Anda akan menjadi idola bagi setiap staf yang Anda pimpin.

Budaya kerja tidak di dapat secara instan. Ada usaha yang harus kita lakukan secara konsisten seperti pada poin-poin di atas. Budaya kerja yang baik berdampak positif pada perusahaan dan mempercepat tercapainya visi misi instansi yang Anda pimpin. Yuk, tingkatkan kesejahteraan perusahaan dengan meningkatkan budaya kerja di lingkungan kerja Anda. Selamat mencoba ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.