Cara Mendidik Anak agar Religius dan Beretika Baik

Posted on

Cara mendidik anak 

Cara Mendidik Anak agar Religius dan Beretika yang Baik2

Pernahkah Bunda berpikiran seperti saya, bagaimana Syekh Rasyid, dai cilik asal Riau itu lebih suka membolak-balik Al-Qur’an sejak masih balita dibandingkan main mobil-mobilan dan jalan-jalan ke mall? Bagaimana proses alamiah dai cilik itu menirukan  suara 15 imam besar dunia dan bahkan mendapatkan julukan kehormatan “Syekh” dari Syekh Ali Jaber—imam masjid Madinah? Bagaimana pula dai cilik ini memiliki kemampuan berdakwah di hadapan ribuan jamaah di Hongkong tanpa rasa nervous? Selain qadarullah, tentu ada peran orang tua yang mengarahkan agar Syekh Rasyid menjadi sangat religius seperti sekarang.

Terkadang saya suka iseng, buka-buka status WA teman. Salah satu status yang menurut saya touchy adalah penggalan maqolah “al-adabu fauqol ‘ilmu” yang berarti tingkah laku itu berada di atas ilmu.  Saya tertarik, saya renungkan, dan sampai sekarang saya jadikan pegangan. Saat melihat anak-anak yang manner nya bagus, berbahasa jawa halus saat berinteraksi dengan orang tua, saya sangat respect.

Gambaran karakter diatas—religious dan ber-etika yang baik—tidak lepas dari cara mendidik anak yang Parents lakukan. Setiap orang tua mendambakan buah hatinya memiliki karakter positif dan berusaha dengan beberapa cara mendidik anak seperti diuraikan dalam poin dibawah ini.

Religius

Apa pentingnya miliki karakter religius? Karakter ini adalah bentuk ketaatan penghambaan makhluk kepada yang menciptakannya. Ajaran agama mengajarkan cara yang baik berinteraksi dengan Tuhan dan dengan sesama. Religiusitas yang dipraktikkan dalam tingkah laku mendatangkan kedamaian dan mencegah dari hal negatif.

Untuk tujuan yang agung itu, perlu usaha yang keras dari orang tua dengan menerapkan cara mendidik anak yang benar.  Kaitannya dengan ini, usaha yang dilakukan tidak hanya usaha yang kasat mata saja, tetapi usaha spiritual juga perlu dilakukan. Siapa tau melalui doa yang Bunda panjatkan kelak anak cucu Bunda menjadi pribadi yang menentramkan mata hati.

  • Memperkuat hubungan spiritual dengan Tuhan melalui doa

Doa adalah tiangnya agama. Berdoa berarti Bunda sedang berkomunikasi dengan Tuhan Yang Maha Menciptakan agar buah hati tumbuh menjadi anak yang sholeh sholehah. Berdoa dilakukan secara kontinyu sejak janin dalam kandungan.

Allah berfirman “Berdoalah pada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan”. Orang tua yang ingin agar anaknya sholeh seperti Syekh Rasyid segeralah panjatkan doa kepada Allah yang memberikan kesempatan yang luas bagi makhluk untuk meminta kepada-Nya.

Firman tersebut bersinergi dengan hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Hasan yang berbunyi “Tiga doa yang dikabulkan dan tidak diragukan adalah doa kedua orang tua, doa para musafir, dan doa orang yang dizholimi”.

Selepas sholat, mari panjatkan doa robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a’yun, waj’alna lil muttaqina imama agar Allah anugerahkan kepada kita pasangan dan keluarga yang menjadi penenang hati.

  • Memperhatikan asal usul nafkah yang diberikan

Asal usul nafkah yang halal bagi anggota keluarga sangatlah penting. Nafkah yang diperoleh dengan cara tidak baik mendatangkan kemungkaran, hidup yang tidak berkah, dan menjadi penyebab ditolaknya doa.

Dalam hadist riwayat Abu Ya’la al Bazar disebutkan bahwa jasad orang yang tumbuh dari makanan yang haram tidak akan masuk surga. Harta yang halal adalah penyebab anak memiliki kelembutan hati, mudah diarahkan, patuh pada orang tua, dan taat beragama.

  • Memulai pendidikan religi sejak dalam kandungan

Cara mendidik anak agar sholeh sholehah bisa Bunda mulai sejak dalam kandungan. Selain berdoa, Bunda disarankan banyak membaca ayat Al-Quran. Perbanyak berbuat baik dan saat melakukan perbuatan yang baik itu, komunikasikan dengan anak dengan cara mengelus perut, semisal “Bunda mau sholat, Nak, sholat itu wajib hukumnya, kalau ditinggalkan dosa”, atau, “Bunda mau berikan uang ini kepada anak yatim, bersedekah itu perbuatan baik yang dianjurkan, apalagi jika kita mampu”.

Apakah janin dalam kandungan bisa mendengarnya? Riset membuktikan janin yang berusia 25 minggu bisa mendengar apa yang Bunda katakan padanya. Cara mendidik anak yang satu ini pengaruhnya cukup besar bagi si kecil namun sering kali dilupakan.

  • Menjadi role model

Tahap dalam kandungan sudah Bunda lampaui. Saatnya sekarang parents menjadi role model dimana gerak gerik orang tua selalu diamati, direkam dan ditiru si kecil. Tauladan yang baik atau dalam bahasa agama disebut dengan uswatun hasanah harus dilakukan di setiap kesempatan, baik saat sedang bersama si kecil atau tidak.

Secara tidak langsung, menyadari pentingnya menjadi role model yang baik bagi si kecil adalah jembatan bagi orang tua untuk mempraktikkan konsep akhlaqul karimah dalam kehidupan sehari-hari.

Etika yang Baik

Good manners atau etika yang baik adalah faktor yang penting untuk menjalin kehidupan bersama manusia di dunia. Parents tentunya mengharapkan buah hatinya senantiasa mengucap “terimakasih” saat orang lain selesai melakukan sesuatu untuknya, dan  berkata “Tolong” untuk meminta orang lain melakukan sesuatu untuk dirinya.

Bunda tentunya kesal sekali saat si kecil meminta mengambilkan sesuatu dengan kalimat instruksi seperti “ambil-in mainanku Mi”, atau “Mami bawa-in bukuku, dong”, dsb. Kalimat instruksi seperti diatas bukanlah manner yang baik.

Respect anak terhadap Bunda seolah kurang dan jika diteruskan berbahaya bagi kepribadian si kecil di masa mendatang. Tingkah laku anak meniru orang tuanya. Etika yang baik lambat laun dipraktikkan si kecil seiring dengan usaha Parents untuk memberikan contoh yang baik kepada anak-anak.

Penting bagi Parents untuk menyempurnakan pengetahuan mengenai pentingnya ber-etika yang baik sebab ini mendukung usaha orang tua untuk menanamkan sikap positif kepada anak-anak. Berikut cara mendidik anak agar memiliki etika yang baik.

Cara Mendidik Anak agar Religius dan Beretika yang Baik3

  • Menghargai orang lain

Tahukah Bunda bahwa sebenarnya sejak lahir, Bunda telah mengajarkan si kecil agar memiliki etika yang baik?. Kenapa seseorang harus memiliki etika yang baik? Apa pentingnya etika yang baik itu?

Etika yang baik adalah simbol dari bagaimana cara kita menghargai orang lain. Dan, untuk bisa menghargai orang lain diperlukan sensitivitas atau kepekaan yang tinggi. Sensitivitas ini adalah nilai yang Bunda internalisasi-kan sejak masih anak masih bayi.

Seorang balita yang peka terhadap perasaan orang lain, tumbuh menjadi pribadi yang menghargai sesama. Anak yang demikian berkembang menjadi pribadi dengan etika yang baik. Etika yang baik yang bersumber dari sensitivitas si kecil tampak lebih alami, lebih beragam, dan lebih mengena di hati dibandingkan dengan jika mereka hanya mempelajarinya dari buku-buku etika.

Pertanyaannya, apakah anak harus memprioritaskan perasaan orang lain terus-menerus? Tentu tidak!. Saat ini, mengajarkan anak bersikap Tegas adalah penting selama sikap tersebut tidak mengesampingkan etika yang baik dan kesopanan.

  • Menyadari kehadiran buah hati

Ada benar dan tidaknya pepatah yang mengatakan “Anak sebaiknya diamati saja namun tidak didengarkan”. Kapan benar dan kapan salah?

Dikata benar karena kreativitas anak berkembang jika Bunda tidak banyak intervensi atas apa yang anak lakukan namun terus melakukan pemantauan.  Dikata benar karena tidak selamanya permintaan anak harus didengarkan.

Sebaliknya, dikata kurang tepat karena orang tua meng-claim anak tidak harus didengarkan. Ini seolah meniadakan kehadiran mereka entah karena dianggap masih kecil, belum bisa berfikir logis, dan sebagainya.

Saat Bunda mengajak buah hati berkumpul bersama teman-teman seusia Anda tanpa adanya si kecil lain yang hadir disitu, Bunda sebaiknya tetap menyadari kehadirannya dengan menjaga komunikasi verbal dan kontak mata.

Anak yang biasanya bersikap baik sangat mungkin bersikap sebaliknya dalam situasi yang tidak mendukung seperti itu. Dia merasa seolah tidak berada pada tempat yang semestinya dan ingin melakukan pemberontakan.

Dengan menyadari kehadiran buah hati pada kondisi tersebut, Bunda secara tidak langsung mengajarkan keterampilan sosialisasi pada si kecil dan menganggap si kecil bernilai meski di tengah keramaian.

  • Mengajarkan berkata yang sopan sejak dini

Saat memberi jajan kepada anak tetangga lalu dia mengucapkan terimakasih, yang ada dalam pikiran saya adalah orang tuanya telah berhasil menerapkan cara mendidik anak yang tepat. Terbukti, saya sebagai pihak yang berinteraksi dengannya merasa bahagia dan merasa tenang melihatnya.

Kata “Tolong” adalah cara yang digunakan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dari orang lain dimana interaksi tersebut diakhiri dengan kata “Terimakasih”. Menanamkan cara ini sejak dini bantu anak memahami bahwa itu adalah ungkapan yang baik dan membuat orang lain merasa bahagia karena telah membantu mereka.

Jika Bunda dan Ayah menginginkan sesuatu dari anak, bukalah dengan ucapan Tolong dan akhiri dengan Terimakasih. Meskipun anak belum tau betul apa makna dari dua kata tersebut, namun mereka paham telah memberikan sesuatu yang bernilai bagi Parents melalui ucapan, gesture dan mimik wajah yang ditunjukkan.  Anak-anak memahami bahwa mereka karena ungkapan yang Anda lontarkan.

  • Hindari Paksaan

Bahasa tidak untuk memaksa. Tetapi bagaimana caranya dengan medium bahasa tersebut si kecil merasa enjoy dengan apa yang Bunda katakan. Salah satunya adalah, saat Bunda berkata “tolong, Nak…”. Ungkapan tersebut tidaklah sebagai persyaratan untuk mengabulkan keinginan si kecil, tetapi si kecil perlu paham bahwa ungkapan “tolong” adalah ungkapan yang baik.

Berkata Tolong sebagai syarat mendapatkan apa yang anak inginkan adalah cara mendidik anak yang kurang tepat. Anak-anak menjadi terbiasa dengan konsep pamrih dan tidak alamiah dalam memberikan bantuan.

  • Mengoreksi kesalahan anak dengan cara yang baik

Sering disalahkan di hadapan orang lain untuk hal-hal yang sepele bukanlah hal yang menyenangkan. Akibatnya, saya pribadi serba takut saat akan mengambil keputusan dalam hidup karena (lagi-lagi) takut disalahkan.

Berbuat salah adalah hal yang wajar. Cara mendidik anak yang tepat khusunya untuk mengoreksinya adalah tidak dengan bereaksi berlebihan saat anak berbuat salah, seperti dengan wajah merah padam, suara kencang, menunjuk-nunjuk dengan jari telunjuk, dan melontarkan kata-kata negatif yang meruntuhkan pertahanan psikis anak.

Saat anak makan dengan berdiri misalnya, Bunda bisa mengoreksi etika si kecil yang kurang tepat itu dengan tetap mengontrol suara, menatap mata anak dalam-dalam, dan meletakkan tangan di pundak si kecil dan menasehatinya. Sikap itu mengatakan seolah Bunda mengoreksinya karena peduli dan bukan karena lepas kontrol. Bunda menghargainya dengan cara tersebut dan ingin mereka belajar dari kesalahan yang sudah dilakukan.

Apakah Bunda bertanya-tanya, bagaimana seorang anak tumbuh begitu sopan? Alasannya tidak lain karena parents mengharapkan kesopanan itu ada pada si kecil. Seperti yang saya baca dari sebuah sumber seperti berikut;

Suatu hari, ada keluarga dengan logat bahasa Inggrisnya yang kental masuk dalam sebuah hotel. Seorang ayah dengan dua orang anaknya yang berusia 5 dan 7 tahun. Ayah tersebut memerintahkan kepada anaknya “buka pintu itu untuk tamu yang mau lewat” dan anak itu pun menurut. Rupanya ini begitu mengesankan pengunjung hotel yang lain. Dia pun bertanya kepada si ayah, “Apa yang membuat anak Anda begitu menurut?” jawabannya “karena saya mengharapkannya”. Dari pengharapan itu muncul usaha untuk mewujudkannya dengan menerapkan cara mendidik anak yang baik.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.