10 Cara Mendidik Anak Laki-laki dan Strategi Tepat untuk Mengakrabinya

Posted on

Cara Mendidik Anak Laki-laki

10 Cara Mendidik Anak Laki-laki dan Strategi Tepat untuk Mengakrabinya

Cara mendidik anak laki-laki—Bicara mengenai cara mendidik anak laki-laki, apa yang perlu Anda lakukan tentu sedikit berbeda dengan saat Anda mendidik perempuan. Secara naluriah keduanya berbeda. Hal tersebut wajib kita sadari sebagai Parent agar anak berkembang sebagaimana umumnya.

Anak laki-laki memiliki tabiat maskulin; sedangkan anak perempuan lebih feminine. Ada semacam kesepakatan umum di tengah-tengah masyarakat. Kesekapatan tersebut adalah kesepakatan tidak tertulis yang jika disalahi akan memantik gesekan dan cibiran di masyarakat.

Anda yang memiliki anak perempuan, seyogyanya mendidik mereka agar lebih feminine. Sedangkan bagi anak laki-laki sebaiknya Anda mendidiknya secara masculine. Didikan tersebut secara tidak langsung mempengaruhi bagaimana tingkah laku anak dan pola pikir anak.  Cara mendidik anak laki-laki berikut bantu Parent merumuskan apa yang sebaiknya dilakukan saat berinteraksi dengan mereka.

1. Pahami bahwa Anak-anak Mencintai dan Menjadikan Orang Tuanya Sebagai Role Model

Siapakah role model yang pertama kali dijadikan anak sebagai panutan? Jawabannya tentu saja orang tuanya. Anak-anak mencintai Anda sepenuhnya, dan mereka berperilaku sebagaimana Anda memperlakukan mereka.

Orang tua yang permisif dengan mengijinkan apapun yang diinginkan anak untuk mereka miliki, berdampak negatif pada kepribadiannya. Utamanya saat mereka menginginkan sesuatu yang sifatnya feminine, seperti boneka, memakai baju yang girlish, dan berbicara dengan gaya layaknya perempuan.

Sebisa mungkin hindari kebiasaan negatif tersebut. Kebebasan yang tanpa batas seperti ini berdampak negatif pada tumbuh kembang kepribadian anak. Cermati adanya tanda-tanda anak mengarah pada kecenderungan gender lain sejak dini. Berikan contoh sikap yang semestinya sebagai seorang ayah yang masculine. Begitu juga, berikan contoh sikap yang tepat sebagai seorang ibu yang identik dengan femininitasnya.

2. Tunjukkan pada Mereka Bahwa Anda Peduli Padanya

Saat menghadapi konflik batin dengan dirinya sendiri, masing-masing anak memiliki defense mechanism yang berbeda-beda. Mereka memiliki teknik pengendalian diri yang berbeda. Konflik batin tersebut disebabkan oleh banyak hal. Salah satunya adalah karena rasa kurang diperhatikan, kurang disayangi dan sering kali di abaikan.

Pengalihan rasa terabaikan itu diwujudkan dalam berbagai usaha. Salah satunya adalah dengan mencari kebebasan, mempertanyakan aturan yang harus di ikuti di masyarakat, dan senantiasa memberontak.

Saat anak menginginkan perhatian dari Anda, berikan perhatian tersebut secara utuh. Jangan sampai membagi perhatian tersebut dengan aktivitas atau kegiatan yang lain pada momen yang saam. Anda yang saat itu sedang memegang smartphone dan asyik telefon dengan kolega bisnis, sebaiknya menghentikan telefon itu dan fokus memperhatikan si kecil.

Quality time yang cukup adalah media untuk menunjukkan rasa cinta pada anak dan memperhatikan mereka. Menanyakan bagaimana aktivitas anak saat di sekolah, dengan siapa mereka biasanya menghabiskan waktu istirahat, apa hobby yang paling disukai si kecil, dan agenda berlibur bersama mereka.

Selalu dukung anak saat mereka ingin mengembangkan sesuatu yang positif yang ada di dalam dirinya. Berikan dukungan dan berbanggalah pada prestasi yang dicapainya. Si kecil merasa disayangi saat mereka tau bahwa keberadaan mereka sangatlah penting bagi Anda. Rasa nyaman ini yang membuat anak tetap stay on track dan tidak berniat menyimpang, apalagi sampai benar-benar melakukannya.

3. Pastikan Waktu Tidur Anak Tercukupi

Cara mendidik anak laki-laki tidak bisa lepas dari tercukupinya waktu tidur anak setiap harinya. Ada relasi yang langsung antara bagaimana kondisi fisik dan psikis seorang anak dengan kulitas tidur yang dimilikinya.

Anak-anak yang kurang waktu tidurnya cenderung bersikap hiperaktif dan sulit konsentrasi menerima pelajarannya di sekolah. Ini berarti bukan tidak mungkin kurang tidur menyebabkan kenakalan anak. Cukupi waktu tidur anak dengan istirahat siang setidaknya selama 1 jam dan tidur malam setidaknya selama 8 jam.

Sebisa mungkin jauhkan gangguan apapun dari waktu tidur anak. Seperti smartphone, tablet dan laptop. Hindarkan gadget tersebut dari jangkauan anak-anak agar waktu tidurnya tidak berkurang dan kualitas tidur tidak menurun. Usahakan untuk tidak meletakkan PS di kamar anak sebab sangat mungkin mereka akan bermain PS semalaman. Apalagi jika PS tersebut Anda beli sebelum anak-anak mengikuti ujian, ini akan mengalihkan fokus anak untuk belajar.

4. Cukupi Nutrisi Anak

Cara mendidik anak laki-laki yang baik tidak hanya dengan menggunakan teknik edukasi yang mengenai sisi afektif, kognitif dan psikomotoriknya saja, namun  supply makanan yang cukup dan bernutrisi pun merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan.

Cukupi nutrisi anak dengan baik dengan menyiapkan sarapan, bekal untuk lunch di sekolah, air untuk mencukupi kebutuhan hidrasi anak, dan snacks. Ketahui apa saja menu makanan yang disediakan pihak sekolah dan pastikan menu makanan tersebuts sehat. Sewaktu anak lupa membawa bekalnya, atau Anda tidak punya cukup waktu untuk menyiapkan bekal si kecil, minta mereka untuk membeli makanan sehat di sekolah.

Nutrisi tersebut diperlukan anak untuk mengikuti pelajaran dengan baik di sekolah. Tidak jarang, anak-anak yang sedang dalam kondisi lapar karena kurangnya perhatian atau minimnya uang jajan menyebabkan kenakalan anak.

5. Cara Merespon Kesalahan yang Tepat

10 Cara Mendidik Anak Laki-laki dan Strategi Tepat untuk Mengakrabinya2

Memberikan respon dengan cara yang baik saat anak melakukan kesalahan adalah hal penting yang harus kita lakukan. Cobalah merespon kesalahan anak dengan cara yang baik. Saat jagoan Anda melakukan kesalahan, berkatalah padanya dengan cara yang tenang namun serius.

Bentakan, dan amarah apalagi kekerasan fisik yang kita tujukan pada anak sebagai respon dari kesalahan yang mereka lakukan tidak akan memperbaiki keadaan. Anak-anak tidak menerima pernyataan logis yang di kemas dalam respon tersebut, tetapi mereka lebih memandang itu sebagai luapan amarah, dan intimidasi.

Anak yang menangkap respon tersebut sebagai sesuatu yang negatif dan menyerang psikisnya cenderung melakukan pemberontakan. Keep calm, serius, dan fokus mengotak-atik logika anak dengan tujuan untuk menyadarkannya.

Secara tidak langsung, ini membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik yang diiringi dengan kemampuan mendengarkan dan kemampuan mengontrol diri yang baik. Perbanyak latihan dan perbanyak referensi agar nanti saat menghadapi momen tersebut kita sudah siap.

6. Pahami bahwa Satu Saat Anak akan di Bully oleh Teman-temannya di Sekolah

Saat anak-anak berkumpul,  banyak kemungkinan yang akan terjadi. Mereka satu saat belajar dan mengerjakan PR bersama, satu saat saling berbagi dan saling meminta, dan satu saat saling adu mulut dan bahkan berkelahi. Begitulah dunia anak.

Anak-anak kita mungkin menjadi korban bully dan saling mem-bully satu dengan yang lain. Anak-anak menceritakan apa yang dialami di sekolahnya. Menghadapi hal ini perlu sikap yang tenang. Tidak sebaiknya kita melibatkan diri pada konflik anak dengan mendatangi orang tua anak yang bersangkutan.

Lengkapi data sedetail mungkin dari si kecil. Sampaikan kepada bapak ibu gurunya di sekolah. Dari laporan yang Anda sampaikan, pihak sekolah akan cross check kejadian di lapangan. Pihak sekolah membantu mencari solusi atas konflik itu tanpa Anda harus bersinggungan langsung dengan orang tua masing-masing.

7. Jangan Mudah Percaya Apa yang Anak Katakan Tentang Sekolahnya

Mempercayai mengenai apapun yang disampaikan anak tentang yang dialaminya di sekolah bukanlah sesuatu yang baik. Anak-anak mudah sekali melempar kesalahan pada orang lain dan seolah-olah menjadikan diri mereka sebagai victim.

Jangan mudah terpengaruh dan naik pitam. Konsultasikan ini dengan pihak sekolah untuk mengetahui duduk masalah yang sebenarnya. Saat kita sebagai Parent serta merta mempercayainya, besar kemungkinan anak-anak merasa menang saat Anda memposisikan diri membelanya sekuat-tenaga tanpa di dukung bukti fisik. Dan, ini bukan cara mendidik anak laki-laki yang baik.

8. Hindari Pertengkaran di Media Sosial

Anak mungkin saling perang mulut di sosial media dengan teman  sekelasnya. Anda tidak perlu turut campur apalagi sampai membantu anak melawan teman sekelasnya di media sosial. Atau, Anda tidak perlu mengambil bagian dengan saling adu argumen dengan wali murid lain di media yang sama.

Ini sama halnya Anda melupakan fungsi sekolah dan bersikap kurang dewasa. Media sosial di baca setiap orang dan merupakan media terbuka. Hindari perdebatan di dunia maya itu sebab pembaca akan asyik menilai bagaimana karakter kita.

Hal yang demikian pun bukan merupakan cara mendidik anak laki-laki yang baik. Menjadi role model yang baik bagi anak harus dilakukan baik saat sedang berada di dunia maya maupun di dunia nyata. Jika kita gemar adu mulut di instagram, anak-anak akan menjadikan itu sebagai hal yang wajar dilakukan dan boleh menirunya.

9. Batasi Kebebasan Anak

Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita panen. Cara mendidik anak laki-laki dengan memberikan begitu banyak kebebasan padanya satu saat akan membuat kita pusing dibuatnya. Seperti, saat anak menolak mengerjakan PR-nya, tidak menghiraukan laporan yang disampaikan gurunya, dan tidak begitu memperdulikan saat anak menolak melakukan aturan dan menjalani larangan, satu ketika kebiasaan negatif tersebut akan kembali pada diri kita sendiri.

Mendidik anak seyogyanya tarik ulur. Ada waktunya menekan dan ada saatnya memberikan kebebasan. Tujuannya adalah untuk mendisiplinkan anak dan melatihnya tanggung jawab. Namun, kita tidak melupakan kebahagiaan anak.

Ending dari edukasi anak adalah bagaimana caranya agar si kecil memiliki kebiasaan yang baik meskipun mereka tidak begitu menyukainya, dan meskipun ini berat terasa bagi Anda untuk menjalaninya. Karena anak bertindak dengan dasar keinginannya saja dan bukan karena pertimbangan logis dan kesadaran diri.

10. Batasi Penggunaan Sosial Media oleh Anak

Memantau penggunaan sosial media adalah cara mendidik anak yang baik. Batasi penggunaan sosial media anak khususnya anak-anak yang berusia 13 tahunan. Tweet-war rawan sekali terjadi pada anak-anak usia ini. Bahaya bully-an yang dilakukan teman-temannya sangatlah kuat pada perkembangan psikisnya.

Batasi penggunaan sosial media dan hapus aplikasinya agar anak tidak candu apalagi sampai mengalami goncangan piskis karena efek negatif sosial media. Dan, Anda mungkin perlu memblokir orang-orang tertentu di pertemanan si kecil yang bahkan mungkin adalah temannya.

Cara mendidik anak laki-laki secara total di lakukan saat di rumah, di sekolah, dan juga memantau penggunaan sosial medianya. Anak yang mendapatkan pengarahan yang baik dari orang tuanya akan tumbuh menjadi pribadi yang sesuai harapan. Dan, anak yang terbiasa dengan tingkah laku negatif namun tidak mendapatkan pengarahan yang tepat, akan tumbuh menjadi pribadi yang liar dan lepas tanggung jawab. Yuk, terapkan cara mendidik anak laki-laki di atas dengan baik dan sambut jagoan Anda tumbuh menjadi pribadi yang positif.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.