8 Peran Anak Dalam Keluarga untuk Menjaga Keutuhan Rumah Tangga

Posted on

Peran Anak dalam Keluarga


8 peran anak dalam keluarga untuk menjaga keutuhan rumah tangga

Peran anak dalam keluarga tidak kalah penting dibandingkan orang tuanya. Untuk membentuk keluarga yang bahagia, baik anak maupun orang tua memiliki peran yang sama-sama dominannya. Anak yang secara psikis masih belum sematang orang dewasa, memerlukan pengarahan untuk melakukan peranannya dengan metode yang tepat untuk anak-anak. Disini, anak-anak adalah praktisi dari peran-peran yang harus mereka lakukan. Peran tersebut tentunya bermanfaat untuk menyambut fase kehidupan selanjutnya. Kerjasama yang baik antara orang tua dan anak mutlak dilakukan. Sebagai orang tua, mari kita pahami konsep apa saja yang terkait peran anak dalam keluarga. Kita bisa diskusikan dengan pasangan masing-masing apa saja peran yang harus dilakukan si kecil. Peran tersebut tujuannya adalah untuk pembentukan karakter pribadi yang positif, sehingga saat nanti mereka remaja dan terjun di masyarakat, mereka akan menjadi pribadi yang menyenangkan, mudah diarahkan, dan tercapai cita-citanya.

Sekilas Definisi tentang “Anak”

Kata anak adalah antonym dari kata “orang tua” meskipun mereka sudah dewasa. Dalam bahasan psikologi, yang dimaksud anak adalah tahapan perkembangan fisik mulai dari bayi hingga berusia 6 tahun.  Namun, jika ada pribadi yang secara biologis sudah dewasa tetapi secara mental mengalami keterbelakangan, yang bersangkutan masih tergolong anak-anak.

Anak-anak memiliki memory yang kuat. Mereka lebih mudah mengingat sesuatu karena memang banyaknya fakta yang ditampung dalam memori otaknya masih terbatas, tidak sebanyak orang dewasa yang penuh kesibukan. Masa-masa ini adalah saatnya kita sebagai orang tua memberikan pengarahan positif agar pola tingkah si kecil semakin terbentuk dan tidak jauh dari nilai dan norma yang berlaku.

Telah banyak orang tua yang menyesal karena mengabaikan masa kanak-kanak si kecil, sehingga mereka pun tidak tumbuh sesuai harapan. Alhasil, anak-anak sering mengalami konflik baik untuk berdamai dengan diri sendiri atau dengan masyarakat sekitar. Karakter-karakter negatif bisa ditekan kemunculannya dengan meng-optimal-kan pengajaran mengenai peran anak dalam keluarga dan dengan masyarakat sekitar. Singkatnya, apa saja sih peran anak dalam keluarga itu?

 Peran Anak dalam Keluarga

Konsep mengenai peran anak dalam keluarga yang diungkapkan oleh Horowirz, Suparlan, dan Zinn Eitzenn setidaknya mengandung beberapa poin penting dibawah ini. Adapun sudut pandang yang digunakan adalah keuntungan yang diperoleh orang tua baik itu secara psikologis, secara ekonomi maupun secara sosial.

1.    Anak merupakan pengikat perkawinan

Jembatan regenerasi adalah pernikahan. Fase kehidupan manusia dimulai dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia. Mayoritas masyarakat yang sudah memasuki usia dewasa secara naluriah ingin menikah. Entah itu karena dorongan libidinal yang meningkat pada masa-masa itu, karena ingin menjalankan perintah agama, karena ingin menyempurnakan hari-harinya dengan orang terkasih, karena ingin fokus dan serius menjalani hidup, atau karena ingin menggendong baby mungil yang menggemaskan.

Ya, mayoritas pasangan merindukan kehadiran buah hati. Rasa rindu pada kehadiran si kecil itu secara naluriah adalah keinginan untuk reproduksi dan regenerasi. Kata reproduksi berhubungan dengan kemunculan si kecil ke dunia, sedangkan kata regenerasi merujuk pada keberlangsungan silsilah keluarga. Pasangan yang sedari awal tujuannya fokus untuk regenerasi, maka pernikahan dikata berhasil jika pasangan tersebut mendapatkan momongan dalam waktu dekat. Namun jika setelah beberapa tahun berjalan dan yang bersangkutan belum juga dikaruniai momongan, rawan bagi pasangan tersebut untuk berpisah. Itulah kenapa kemunculan si kecil dikata pengikat tali pernikahan. Banyak pasangan mengalami konflik yang intens karena ketidakmunculan buah hati.

2.    Merasa Lebih Muda dengan Menyaksikan Kegiatan Anak-Anak

Apakah Anda dan pasangan adalah orang tua karir dengan jadwal kerja yang padat?. Padatnya jadwal kerja memang mendatangkan pundi-pundi materi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Satu ketika, Anda mungkin jenuh dengan rutinitas itu. Rutinitas dimana hari-hari dipenuhi dengan bekerja dan berbuat sesuatu untuk orang lain. Lalu, kapan “Me Time-nya”?. Inilah pertanyaan yang sering diucapkan saat sedang jenuh.

Saat Anda ingin benar-benar menjadi diri sendiri, ingin merasakan tawa yang lepas dan tidak ingin diberondong deadline, Anda tidak perlu pergi jauh-jauh ke puncak, ke tempat wisata di seberang sana, apalagi jalan-jalan mahal ke luar negeri. Coba pandang si kecil, luangkan waktu sejenak untuk menyaksikan aktivitasnya yang lucu, dengarkan celotehnya dan turuti kemauannya. Di saat itulah Anda akan merasakan seperti apa yang saya rasakan. Anda akan bergumam “Oh, seperti ini ya rasanya jadi orang tua, pantesan dulu ibuku kaya’ gitu” atau “Oh, ternyata anakku kaya’ aku ya, sukanya tahu goreng”. Diskusi batin inilah sumber kebahagiaan kita sebagai orang tua. Peran anak dalam keluarga yang seperti inilah yang menjadi momen yang Anda rindukan di tengah kesibukan.

 3.   Anak adalah Simbol Masa Lalu dan Masa yang akan Datang

Peran anak dalam keluarga salah satunya adalah sebagai simbol dari kehidupan masa lalu dan masa yang akan datang. Gambarannya seperti ini;

Di Jawa, perkumpulan keluarga muslim yang sama silsilahnya di sebut dengan “Bani”. Biasanya, mereka akan mengadakan acara kumpul-kumpul pasca lebaran. Misalkan disini saya berasal dari Bani Marzuqi dengan keterangan bapak saya yang bernama Marzuqi telah meninggal. Maka, meski bapak sudah tiada, keluarga yang ada sekarang, dan yang sedang berkumpul inilah simbol dari adanya almarhum bapak saya dahulu (meski secara fisik beliau sudah tiada). Lain halnya jika bapak saya waktu itu tidak punya anak, siapa yang akan berkumpul? Tidak ada! Dan, di era-era selanjutnya nama bapak saya hilang. Inilah simbol anak untuk masa lalu.

Kemudian, apa yang dimaksud dengan peran anak dalam keluarga untuk masa mendatang?. Gambarannya kurang lebih seperti ini, saya sekarang bekerja untuk memenuhi kewajiban saya pada anak-anak saya. Saat mereka sudah dewasa, paham bahwa fisik ibunya sudah tidak sekuat dulu, mereka secara naluriah akan merawat saya dengan cara mereka. Jika saya tidak punya anak, gambaran akan masa mendatang buram. Bagaimana nanti jika saya sudah tua? Masih meraba-raba dan tidak ada kepastian.

8 peran anak dalam keluarga untuk menjaga keutuhan rumah tangga

4.   Tujuan Hidup yang Jelas

Dahulu, mungkin kita tergolong malas bekerja, atau mungkin kita tergolong pribadi yang “habis bayaran langsung ludes”. Kenapa demikian? Sangat mungkin alasannya adalah karena kita belum berumah tangga dan belum memiliki momongan. Lalu, saat istri tercinta melahirkan anak yang kita idam-idamkan, apakah kita akan bertingkah sama? Tentu tidak! Banyak orang yang berubah 180 derajat karena telah menjadi ayah dan ibu. Peran anak dalam keluarga yang seperti ini memberikan spirit baru agar kehidupan makin terarah, kehidupan semakin punya pola dan irama

5.    Sebagai sumber perhatian dan kasih sayang

Banyak dari kita yang sebelum memiliki momongan, nuansa di rumah terasa hambar, keruh, dan banyak konflik. Setelah si kecil lahir, perlahan nuansa negatif itu menghilang dan diganti dengan keriangan. Tidak  salah lagi karena anak adalah sumber kebahagiaan. Suami akan semakin sayang pada anak dan istrinya, semakin pengertian dan perhatian. Coba kita lihat binar mata si kecil yang jernih dan menenangkan, dan senyumnya yang lepas tanpa beban, bisakah kita marah? Apalagi saat melihat tingkahnya yang menggemaskan. Penat sepulang kerja akan berganti kebahagiaan.

6.   Menigkatkan Status seseorang

Pada masyarakat yang mengikuti tradisi tertentu, peran anak dalam keluarga adalah untuk meningkatkan status orang tuanya. Saat ini, pasangan yang mandul memang tidak diisolasi secara ekstrim, akan tetapi secara tidak langsung mengalami banyak sindiran dari tetangga, keluarga, dan teman dekat.

Bentuk sindirannya adalah seperti menanyakan kehadiran buah hati setiap kali ketemu yang akhirnya si suami atau si istri kebawa baper. Bahkan, saat ada orang asing yang menanyakan kediaman si A yang kebetulan belum dikaruniai anak, ada yang bilang “Oh, mau cari rumah si A yang nggak punya anak itu ya? Tidak punya anak lantas menjadi identitas yang menimbulkan konflik batin tentunya.

Dalam sistem keluarga patrilineal, peran anak laki-laki dalam keluarga adalah untuk meneruskan garis keturunan. Jika yang lahir adalah perempuan, silsilahnya dianggap punah.  Pada sistem keluarga matrilineal dimana garis keturunan diteruskan oleh anak perempuan, peran anak perempuan disini adalah untuk mewarisi harta pusaka orang tuanya.

7.   Anak Memiliki Nilai Ekonomis

Seorang peneliti, White, pada tahun 1982 menemukan data yang menarik mengenai peran anak dalam keluarga. Penelitian ini dilakukan di Pulau Jawa dimana pada usia kanak-kanak, antara umur 5 sampai 9 tahun, mereka telah memiliki kesadaran untuk membantu perekonomian orang tuanya. Beberapa alasannya adalah;

  • Karena dahulu orang tua adalah figur yang disegani, yang dianggap mujarab tuahnya. Sehingga perintah-perintah yang diberikan tidak sampai sebagai instruksi yang ekstrem dan menyudutkan anak;
  • Karena anak-anak memiliki kesadaran dan lebih matang secara psikologis. Sehingga, saat mereka tahu orang tuanya sedang banting tulang cari nafkah, dengan senang hati mereka akan membantu;
  • Anak-anak belum banyak berinteraksi dengan kegiatan formal dan belum dimanjakan dengan media hiburan seperti sekarang.

Fakta tersebut berganti seiring dengan berkembangnya zaman. Peran anak jaman sekarang pada rentang usia 5 hingga 9 tahun lebih didominasi kegiatan akademik, dan menggali skill yang dimiliki agar siap berkompetisi di masa mendatang, bukan untuk membantu perekonomian orang tua.  Selain peran anak yang disampaikan oleh para ahli diatas, dalam kehidupan sehari-hari kita bisa temukan peran penting anak seperti berbakti kepada orang tua.

8 peran anak dalam keluarga untuk menjaga keutuhan rumah tangga

8.   Berbakti kepada orang tua

Kata “berbakti” pada orang tua cukup luas maknanya. Berbakti disini tentunya untuk perintah yang positif, bukan sebaliknya. Berbakti pada orang tua akan mendukung tercapainya keluarga yang harmonis. Coba kita bayangkan bagaimana jika peran anak dalam keluarga yang satu ini tidak dilakukan oleh buah hati kita? waktunya ngaji nggak mau, waktunya sekolah nggak berangkat, dikasih tau ngeyel, diminta sholat marah-marah. Tercapaikah keharmonisan rumah tangga? Pastinya sebagai orang tua kita akan mengalami konflik batin, meski kita sendiri sadar bahwa mereka masih anak-anak.

Berbakti kepada orang tua sejatinya adalah salah satu jalan untuk menyukseskan visi misi keluarga, baik itu yang berhubungan dengan rutinitas harian, maupun yang berhubungan dengan cita-cita masing-masing individu. Misal, si kecil seharusnya bangun pukul 5, saat Anda membangunkannya, tiba-tiba si anak marah-marah, lanjut tidur lagi hingga pukul 6. Problem ‘kan jadinya? Mungkin kita akan terlambat ke kantor, anak-anak kehilangan sholat subuh dan tidak menunjukkan karakter disiplin. Berkaitan dengan cita-cita masing-masing, keluarga perlu memiliki quality time yang cukup untuk sharing, untuk tahu apa keinginan ayah, apa mimpi ibu, dan apa harapan si kecil. Saat harapan tercapai, rasa bahagia akan menyelimuti keluarga Anda.

Baca Juga:

Peran Keluarga Bagi Kesuksesan Anak: Jangan Abaikan 5 Hal Penting Ini!

One thought on “8 Peran Anak Dalam Keluarga untuk Menjaga Keutuhan Rumah Tangga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.