« 2 tahun perkawinan | Home | Honda C70 »
Selamat Jalan Oma Marlien tersayang
By aik | April 18, 2008
Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Oma Marlien Hadi Sunaryo (nenekku dari ayah) meninggal dunia hari Jum’at tgl 11 April 2008 pukul 23.40. Semoga khusnul khotimah, dimaafkan segala kesalahan, diterima segala amal baik-Nya. Amien…
Oma Marlien sangatlah periang, hobi menyanyi, irit, tidak suka merepotkan orang. Sekalipun udah pensiun ngurus toko, oma tetep ga mau diam, beliau masih buat mukena untuk dijual. Tapi oma terkena pengapuran tulang (osteoporosis) yang mana jadi kesulitan untuk memotong bahan dan menjahit, putra putrinya pun melarang, jadi produksi mukena berhenti. Tapi namanya bukan oma kalo cuma diam, oma melanjutkan usaha jualan madu dan jualan kain mori untuk kafan, disetornya sih banyak di toko putra putrinya. Semangat untuk selalu berusaha ini neh yang harus dicontoh.
Kira-kira sekitar 1-2 tahun yang lalu (lupa persisnya), oma ada benjolan di payudara. Langsung deh diperiksa, ternyata itu kanker, jadi harus diangkat. Akhirnya payudara kiri oma diangkat, dan harus menjalani kemoterapi. Walaupun sakit oma tetep pingin bergaya, jadi untuk nutupin rambutnya yang rontok karena kemoterapi, oma suka pake topi/jilbab. Tetapi sepertinya kankernya bukan kanker payudara tetapi kanker kelenjar getah bening. Oma pindah dari warungboto ke timoho (ikut budeku). Oma masih terlihat segar dan ceria, ga seperti orang sakit. Tapi sekitar 2 bulan yang lalu kondisi oma mulai turun, kaki kiri oma bengkak. Waktu itu oma ada di malang (di tempat saudara sepupuku). Setelah pulang ke jogja sempat masuk RS untuk periksa keseluruhan dan hasilnya baik-baik saja. Oma sempat pindah lagi ke rumah warungboto dan ditemani old sitter. Tapi kondisi oma semakin turun, bahkan kondisi psikologis/emosional juga ikut turun. Oma sering emosi, mengerang kesakitan, jauh sekali dari oma yang biasanya ceria. Kalo ga salah tgl 24 Maret oma bener-bener drop, kakinya tambah bengkak, mengerang kesakitan terus jadi diputuskan dibawa ke RS (seharusnya sebelumnya diminta masuk RS sama bulek mei, tapi oma menolak). Hari Selasa oma mulai tidak sadar, dan ternyata dari hasil pemeriksaan dicurigai kaki kiri yang bengkak itu karena ada tumor. Semua putra putri oma diminta untuk kumpul karena kondisi oma kritis. Selasa malam aku jenguk oma, sedih sekali lihat oma dengan kondisi seperti itu. Kadang-kadang tersadar selalu dituntun untuk mengucapkan Allah. Tapi bicaranya sudah tidak jelas. Besoknya kondisi oma tambah drop, dan sempat kejang-kejang, ternyata ada pendarahan di otaknya. Akhirnya oleh dokter diminta untuk di ICU. Setelah sekitar 3 hari di ICU oma lepas dari masa kritis, sadar dan dipindah ke ruang perawatan. Oma minta dipanggilkan teman lamanya, memanggil nama anka-anaknya pun bisa. Tapi kondisi itu ga lama, kondisi oma drop lagi. Oma kadang sadar, kadang ga. Waktu sadar selalu bilang minta pulang. Setelah didiskusikan dengan dokter, ternyata ada hak pasien untuk menentukan masa akhir hidupnya dimana. Karena penanganannya hanya infus makan, oksigen, kateter, dll yang masih bisa ditangani di rumah jadi diputuskan untuk dibawa pulang (tentu saja dengan perlengkapan2 itu). Oma pulang ke rumah timoho tgl 9 April sore. Saat itu kondisi oma sudah tidak sadar. Bahkan tgl 10 April pagi tangan kanan yang sebelumyna masih bisa bergerak sudah tidak bisa bergerak lagi, dan oma sering tersedak karena banyak lendir di tenggorokan. Bahkan tgl 1o April malam diperiksa bulek mei lendir sudah di dada. Akhirnya tgl 11 April malam nafas oma semakin pendek dan kehilangan nafas. Bulek mei datang untuk memeriksa dan oma sudah meninggal.
Banyak sekali kenangaku bersama oma. Sejak lahir rumahku 1 halaman dengan oma, baru semenjak oma pensiun ngurus usaha keluarga, oma pindah ke rumah di warungboto bersama tanteku. Kata ibuku waktu aku bayi sering digendong oma. Waktu aku SD, aku seneng buat kerajinan tangan, hasilnya kadang aku jual di toko oma. Oma juga seneng kerajinan tangan, menjahit, aku sering diajarin dan didukung. Deket banget deh aku sama oma marlien.
Kenangan bersama oma di saat-saat terakhirnya banyak juga. Lebaran tahun lalu oma marlien dan anak cucu buyut kumpul di tawangmangu. Pagi hari setelah olahraga ada acara nyani-nyanyi, oma semangat sekali, tapi perangkatnya, musik ga siap, dan anak cucu buyut ga ada yang hobi banget nyanyi, jadi oma agak kecewa. Karena itu setelah dari tawangmangu, aku ngajak oma ke tempat karaoke happy puppy, waktu itu aku hamil tua. Oma seneng banget, 2 jam karaoke mayoritas oma yang nyanyi, kita cuma ikut2an aja. Ultah oma yang ke-74 tgl 25 Desember 2007 yang lalu juga dirayakan dengan kumpul keluarga (oma ga mau acara itu disebut ngerayain ultah, maunya kumpul keluarga). Di acara itu oma masih semangat sekali untuk nyanyi. Waktu oma mulai sakit dan susah makan, kebetulan aku buat mie kopyok/tahu acar, oma suka sekali. Oma sempat minta dibuatin lagi. Nah permintaan terakhir malamnya minta dibuatkan mie kopyok untuk besok. Besoknya diantar tapi waktu itu oma mulai ga sadar. Jadi yang makan yang jaga.
Oma dimakamkan tgl 12 April 2008 pukul 14.00 di makam Babadan, dan hebatnya bisa satu liang lahat dengan opa (suaminya) yang telah meninggal tahun 1970 (38 tahun yang lalu) karena tempat yang lain sudah penuh jadi keluarga minta dijadikan satu saja. Akhirnya oma dan opa bersatu lagi setelah 38 tahun terpisah, tapi berkumpul di dunia yang berbeda.
Selamat Jalan Oma Marlien-ku tersayang. Kenangan dan pelajaran yang kau tinggalkan akan selalu kami ingat.
Topics: Uncategorized |


April 19th, 2008 at 10:12 pm
Moga Oma husnul khatimah ya,mbak..
April 21st, 2008 at 12:40 am
innalillahi wa inna ilaihi rojiun… semoga semua amal ibadahnya diterima olehNya…
April 21st, 2008 at 7:28 am
Amien… Terima kasih doanya
April 29th, 2008 at 7:21 am
Bagus ik. Tulisanmu menambah kisah-kisah seputar oma .
April 30th, 2008 at 3:04 am
kak aik, kita sekeluarga juga ikut bela sungkawa. I Allah oma khusnul khatimah karena oma memang orang yang baik. mudah-2an kebaikan oma tertular buat kita ya…