• Kategori

  • Archives

  • Ads Link

    « Detik-detik kelahiran Ufid | Home | Sistem Keamanan »

    Renungan untuk Keluarga

    By kodhim | November 26, 2007

    Buah hati kita,mereka begitu mendamba perhatian dan kehadiran kita. Namun
    mereka tak pandai merangkai kata tuk mengungkap cinta. Mereka juga tidak
    mengerti cara membisikkan rasa rindunya.

    Kalau Anda seorang ayah pasti sering mendengar kalimat-kalimat berikut
    ini: “Ayah, aku sudah mandi”. ”Aku sudah belajar lho, Pa,”. Apa aku
    boleh ikut abi pergi?” Kalau bapak pulang, bawakan aku es krim ya?” Yang
    menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah respon kita saat itu? Apakah
    tanggapan kita seindah binar mata mereka? Apakah sikap kita semanis
    senyum mereka? Apakah jawaban kita sebesar harapan mereka?
    Kalau kita seorang ayah, sungguh anak-anak kita itu memerlukan senyum
    gagah kita.
    Mereka juga membutuhkan belaian sayang kita. Buah cinta kita
    itu selalu merindu dekapan mesra kita. Yakinlah Anda bahwa tutur kata
    manis kita amat berarti bagi hatinya. Oleh-oleh yang kita hadiahkan
    begitu bermakna bagi jiwa mereka. Ketika kita mengajak mereka bepergian
    rasa bangga memenuhi ruang-ruang kalbunya.

    Bagi anak-anak, kita para ayah adalah pahlawan. Menurut mereka kita
    adalah sosok gagah yang menentramkan hati mereka. Buah hati kita itu
    amat bangga terhadap keperkasaan kita. Mereka begitu mendamba perhatian
    dan kehadiran kita. Namun mereka tak pandai merangkai kata tuk
    mengungkap cinta. Mereka juga tidak mengerti cara membisikkan rasa
    rindunya. Mereka mencintai kita para ayah dengan bahasa yang sering tak
    mampu kita mengerti. Mereka menyayangi kita dengan gaya yang sering tak
    bisa kita pahami. Karena itu kita sering tak menyadari bahwa ada
    makhluk-makhluk kecil yang begitu mencintai dan membutuhkan kita.

    Apakah ini yang pernah dan masih kita lakukan :
    1. Saat mereka mendekat, kita sering merasa terusik.
    2. Ketika mereka mengajak bicara, kita sering merasa terganggu.
    3. Waktu mereka bertanya, sering hati kita merasa tak nyaman.
    4. Tangisan mereka seperti suara petir bagi telinga kita.
    5. Teriakan mereka bagai badai yang menerjang jiwa kita.

    Padahal seperti itulah cara anak-anak mencintai kita. Begitulah cara mereka
    menyayangi kita. Dengan cara seperti itulah mereka ingin menyampaikan
    bahwa mereka amat membutuhkan kita. Hanya cara seperti itulah yang
    mereka mengerti untuk menyentuh cinta kita.

    Boleh jadi kita belum mampu menjadi ayah yang indah untuk anak-anak
    kita. Saat mereka menangis kita malah membentaknya. Ketika mereka
    bertanya kita tidak menggubrisnya. Waktu mereka belajar, kita tidak ada
    di sisi mereka. Mereka sakit tanpa ada kita di sisinya. Mereka sedih
    tanpa ada yang menghiburnya. Mereka jarang kita belai. Mereka jarang
    kita cium.
    Kadang pekerjaan kita membuat kita tak menyadari bahwa ada
    yang menanti-nanti kedatangan kita hingga tertidur di depan pintu
    Sudah tiba saatnya bagi kita para ayah untuk mengerti bahasa cinta
    anak-anak kita. Kita harus memahami gaya mereka dalam mencintai kita.
    Dengan demikian kita bisa menjadi seperti yang mereka pinta. Kita mesti
    berupaya menjadi seperti yang mereka harapkan. Kita harus menjadi
    pendengar yang menyenangkan saat mereka berbicara. Ketika mereka
    mendekati kita sehasta, kita mendekati mereka sedepa. Sewaktu mereka
    menangis, kita akan mendekapnya dengan penuh cinta. Kita juga tak akan
    pernah lelah tuk berbisik mesra, ”Nak, ayah mencintaimu,”.

    Dikutip dari Blog tetangga

    Topics: Contemplation |

    Comments